Chapter 46: Masalah Kecil Selesai

5K 399 40
                                        

Allen menggendong Luke, dia memandang bayi yang meminum susu botolnya dengan alis menukik tajam, menunjukkan ketidaksukaannya yang tidak digendong oleh ayahnya. Berbanding terbalik dengan Allen yang menganggap ekspresi Luke begitu imut hingga tidak sadar dia terus mengecupi pipi gembul si bayi, Delfin melihat pemandangan itu dengan mata berkobar seperti ingin membakar Allen hidup-hidup. Gavin diam digendongan Angga sembari menatap Delfin tajam seolah ingin melubangi Ayahnya dengan mata bulatnya.

Allen duduk di samping Angga dengan mengobrol ringan. Menceritakan bagaimana keseharian masing-masing karena jarangnya mereka bertemu.

"Angga, kenapa kamu gak pakai babysitter saja? Bukannya akan lebih praktis dan memudahkan kamu beraktivitas?"

"Aku mau lebih kenal anakku, dan anakku lebih kenal aku."

"Iya juga... Aku dulu besar sama benek, jadi sekarang saat tinggal sama orang tua kandungku rasanya ada yang kurang dan berbeda."

Dua orang itu benar-benar tidak mengacuhkan Delfin yang duduk di depan mereka, tanpa teh atau kopi. Hanya diam dengan suasana hati yang buruk 'Yang keluarga sebenernya siapa sih? Bapak dan Suami di sini itu Aku. AKU!'

Lucas membuang botol susunya, kemudian merengek keras "Yah, Ayah!" Gerakannya agresif dan liar agar terlepas dari gendongan Allen, tangan mungilnya bergerak-gerak menggapai sesuatu.

Delfin cepat-cepat menghampiri Lucas, tapi Angga menutupi jalan dengan punggungnya, menutup pandangan Lucas dari Delfin. Tak berani melangkah atau menyentuh punggung yang menghadangnya, Delfin dengan cemas menggenggam erat jari-jemarinya sendiri.

Tangisan Lucas semakin kencang dan Gavin malah ikut menangis. Racauan tak jelas mengisi ruang tamu dengan ricuh.

"Aaargh... Ok! Aku bakal ngurangin jam kerja. Jadi, Kak..." Delfin berkata lemah di akhir kalimatnya. Dia adalah laki-laki berhati pudding jika berurusan dengan anak kecil, apalagi ini adalah anaknya sendiri yang menangis ingin bersamanya.

Angga menatap tajam padanya. Delfin menggigit bibir bawahnya "Aku ambil dikit dan yang ringan. Jadi, biarin aku gendong mereka," tatapan Angga masih tertuju dengan tajam membuat bahu Delfin melemas "Oke, aku gak akan minta kerjaan kecuali Uncle Jimmy yang ngasih."

"Allen, tolong berikan Luke pada Akra."

Allen yang kesusahan karena bayi yang bergerak liar secara acak mengiyakan dengan wajah tak rela. Delfin langsung memeluk Lucas, mengecupi kepala bersurai coklat berkali-kali membuat tangisan sang bayi mulai mereda dengan sesenggukan kecil tertinggal.

Gavin memegang pipi Angga dan mendorong keras, meronta ingin lepas dari gendongan Angga "Ayah! Yaaaah!"

"Gavin, gantian sama Luke, ya?"

"Gaa. Ayaah. Bun, Ayah!"

Angga mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Gavin yang mulai jelas membuatnya senang. Namun kenapa harus dalam kondisi seperti ini? Tangisan kerasnya tak mengganggu Lucas yang menyamankan kepala di bahu Delfin. Tangan terbuka lebar siap menerima Gavin di bahu kanannya "Sini." Senyum lembut Delfin membuat Gavin semakin berontak dan tangisannya bertambah keras.

Angga menyerahkan Gavin dengan hati-hati. Dua bayi berwajah sama kini berada dalam gendongan Delfin. Tangisan mereka mereda dan hanya menyisakan isakan kecil. Allen pulang karena seperti yang Delfin bilang sebelumnya, dia tidak paham apa-apa, Angga menggaruk kecil lehernya, merasa tak nyaman karena harus melibatkan Allen dalam masalah keluarga. Kembali pada ruang keluarga, Angga melihat bagaimana Lucas dan Gavin tertidur dengan nyamannya di bahu ayah mereka, mungkin karena kehabisan tenaga untuk menangis. Membiarkan Delfin agar menikmati waktu dengan buah hati mereka, Angga memilih mengerjakan pekerjaan rumah yag belum selesai dia kerjakan.

MILKYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang