Chapter 11: Bagaimana nantinya

10.2K 795 11
                                        

Hari senin menjadi hari yang padat. Ada yang menanggapi hari ini dengan bahagia, tapi lebih banyak yang mengeluh ingin tetap bersantai dan beristirahat di rumah.

Terlihat tiga orang di parkiran, Rio yang tetap duduk di motornya, Tia duduk di motor Andri, Andri berjongkok di antara mereka dengan sesekali menguap.

"Ini si Kucrut mana, sih? Lama banget." Protes Andri dengan mata terpejam, dirinya masih mengantuk.

Rio "Sabar, bentar lagi juga dateng."

"Biasanya dia yang dateng dulu." Suara Andri parau. Dia begadang semalaman karena dia salah ingat jika hari ini adalah hari senin, dia mengiranya hari minggu dan dia begadang push rank hingga Subuh.

"Kena macet kali." Tia

Tepat setelahnya, orang yang ditunggu datang. Andri berdiri dan memberi tempat kosong itu untuk Delfin. Iya, mereka menunggu Delfin agar mendapat tempat parkir.

"Tumben lo lama?" tanya Tia

"..." Yang ditanya tidak menjawab. Namun melihat kantung mata itu, mereka bisa menebak jika teman mereka yang satu ini berada dalam mood yang buruk.

"Ceritanya nanti aja. Masuk kelas dulu, udah mau bel soalnya." Rio menyela dahulu, mereka mengangguk dan melangkah menuju kelas. Delfin, Rio, dan Andri ada di kelas yang sama XI MIPA 2, sedangkan Tia adalah anak kelas XI IPS 1 yang kelasnya berada di lantai dua.

***

Angga memiliki jam mengajar di hari senin, rabu, dan jumat, tapi Ia selalu di sekolah setiap hari (senin-jum'at). Hal ini karena selain dia seorang guru matematika, dia juga merangkap sebagai guru BK. Dan hari senin ini adalah saatnya untuk melakukan SIDAK.

"Anak-anak ini kenapa susah sekali patuh sama peraturan, padahal gak berat banget," keluh Roy sembari mencari gunting cukurnya "Kan gak sampe suruh jadi botak atau pake sepatu besi, Bu, cuma suruh potong rambut biar rapi sama pake sepatu hitam susah sekali." Lanjut Roy

"Namanya juga anak-anak, Pak. Pasti ada aja bandelnya." Ucap Tatik.

"Sudah, Pak, toh kelas ini patuh semua. Kelas selanjutnya XI MIPA 2," Ujar Angga. Mendengar nama kelas itu, Angga teringat remaja berambut cukup panjang dengan senyum cerah menempel di bibirnya. Angga segera menggelengkan kepalanya.

"Kenapa, Pak? Sakit kepala atau ada serangga terbang?" tanya Tatik yang Angga tanggapi dengan gelengan.

*

"WOY! ADA SIDAK SEKARANG, WOY!" seorang siswi berambut pendek datang dengan hebohnya mengagetkan seluruh penghuni kelas .

"Yang bener lu? Kata siapa?!" Siswi yang mengenakan hijab menanggapi dengan heboh juga karena kaget.

"Serius! Gue liat sendiri! Pas mau masuk ke kelas, gue liat di depan kelas sebelah ada banyak rambut!" Jelas siswi tersebut.

Kemudian seorang siswa mengintip keluar melalui jendela "WEH ANJIR! BENER!" Ucapnya tiba-tiba tanpa menoleh.

Rio yang selalu memenuhi standar peraturan sekolah tetap santai mengerjakan tugas Fisikanya.

"Coy, yang punya sabuk dua gue pinjem satu?!" Andri sudah sibuk mencari sabuk.

Andri yang melihat Delfin diam tidak merespon melebarkan matanya "Fin!" lelaki itu menunjuk heboh kepala Delfin "Rambut lu panjang!" Infonya dengan panik.

Delfin menarik poni depannya yang ternyata sudah menyentuh hidung. Matanya melebar "Cok, yang punya pomade atau apalah yang penting rambut gue gak keliatan pan–" ucapnya panik

Dalam sekejap kelas yang ramai menjadi hening. Karena yang ditakuti sudah datang dengan santainya.

"Selamat pagi, anak-anak." Susi menyapa dengan ramah dan ceria. Namun, hanya beberapa yang menanggapi dengan santai, sisanya menyapa dengan sikap yang tidak alami.

MILKYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang