Angga tidak mengerti alasan dia melakukan ini, tubuhnya begerak sendiri menuju caffe saat melihat Delfin. Mengendap dan menguping bagai polisi yang ingin menangkap pencuri.
Pelayan perempuan itu menghampiri meja Delfin dengan sebuah nampan didekapannya. Angga tidak mendengar jelas, yang ia dengar hanya kata pesan, tambah, bungkus, dan perkataan Tia yang sangat jelas yaitu dia memesan red velvet dan jus guava. Angga jengkel karena tempatnya duduk tidak dapat menjangkau obrolan Delfin sepenuhnya.
Pelayan datang membawa pesanannya, Angga mengucap terima kasih dan memakan pudingnya perlahan dengan alis berkerut. Pelayan perempuan yang melihat itu ikut mengerutkan dahi "Kenapa, Mas? Tidak enak?"
Angga yang mendengar itu langsung tersenyum dan menggelengkan kepala "Maaf, pudingnya enak dan lembut kok. Saking enaknya sampai dahi saya berkerut."
Pelayan itu mengangkat alis heran karena selama dia bekerja di sini tidak ada yang pernah memuji sebuah puding mangga, laku pelayan itu pamit pergi dengan tanda tanya besar di kepalanya.
***
"Mbak saya pesen red velvet sama jus guava. Masukin ke bill dia." Tia tersenyum manis seraya menunjuk Delfin.
"Jangan, Mbak, pisahin," Delfin menunjuk beberapa makanan di meja "Gue cuma nraktik main menu sama minuman pendamping, dessert bayar sendiri."
"Cuma red velvet sama nambah jus satu doang, sekalian ya?" Mengedipkan matanya berulang kali bak anak anjing minta dipungut, Tia berharap makanan penutupnya dibayarkan.
Delfin menghela nafas "Gak."
"Kok lu gitu sih. Cuma dessert dan sekali ini doang. Lu kan tajir, bayarin ya? Ya? Ya?"
"Masukin tagihan saya aja, Mbak." Rio berbicara sambil mengambil sosis si piring Andri yang mengundang umpatan dari empunya. Tia menatap Rio dengan senyum lebar.
"Makasih, Beb!" Tia mencubit pipi Rio yang malah dihadiahi tepisan kasar dari Andri sebelum dia berhasil mencubit pipi tirus Rio.
"Jangan berani cubit. Nanti lu kena tonjok sama Rio, tepisan gue bukan apa-apa ini." ucap Andri.
"Ah elah, iya, tapi gak usah kasar gitu kali. Untung gue, coba kalo cewek lain pasti dah lari sambil mewek." Tia mengusap punggung tangannya lembut.
"Jadi tagihannya dimasukkan ke tagihan Mas– Ah, Mas Rio"
Rio mengangguk. Pelayan perempuan itu sedari tadi bingung karena masalah kecil mereka, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa jadi dia hanya menonton.
"Mbak, jangan lupa pesenan saya, ya?" Delfin mengingatkan.
Pelayan itu mengangguk dan berlalu pergi.
***
Angga tetap mengawasi meski tidak dapat mendengar apa-apa. Puding berukuran kecil itu masih tersisa banyak karena dia terlalu fokus memantau. Angga berkedip kaget karena dia lupa pesanan ibunya. Dia ingin memanggil pelayan, tapi dia takut Delfin akan tahu jika dirinya ada caffe ini.
Setelah berpikir cukup lama, Angga memutuskan memanggil pelayan, tidak peduli dengan Delfin yang akan tahu keberadaannya. Seorang pelayang laki-laki datang "ada apa, Mas!"
"Ah, Mas, saya pesen mie Aceh, ayam panggang sambel matah, spageti carbonara, sama Burger telur untuk dibawa pulang."
Pelayan itu mengangguk dan mengulangi pesanan Angga, setelah Angga mengangguk membenarkan, pelayan itu pergi.
***
Delfin yang mendengar suara Angga segera menatap sumbernya. Seorang laki-laki duduk sendirian sambil meminum entah apa yang Delfin tidak tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILKY
Teen FictionLelaki itu tidak punya rahim, tidak bisa mengandung, tidak bisa menyusui tentu saja. Angga, berusia 27 tahun, entah bagaimana dadanya mengeluarkan cairan laktasi. Bagaimana bisa? Apalagi ini terjadi saat dia seharusnya sudah menikah atau paling tida...
