Bagian XV

1.5K 258 144
                                        

Aureen.

"Halo?" panggil gue dipanggilan saat nama Grisha muncul dengan telefon tidak terjawabnya yang sudah lebih dari sepuluh kali. Gue yang masih membereskan berkas-berkas dimeja itu langsung termenung saat mendengar teriakan Grisha yang meminta tolong. Suaranya samar. Tapi... saat suara yang gue kenali itu ikut andil, gue meyakini bahwa Grisha sedang tidak baik-baik saja dengan Clarissa disana.

Saat dimana melihat Grisha memeluk Gara sebegitu eratnya. Gue merasakan darah gue berdesir bukan main. Bukan hanya itu, jantung gue rasanya ingin meledak kalau saja sekarang Grisha tidak beralih kepada gue. Enggak, gue meyakini diri bahwa itu bukan rasa cemburu. Hanya saja... ini kali pertama seseorang yang gue rasa sedang dekat dengan gue, namun dia juga dekat dengan teman-teman gue.

Karena Raka, gak pernah dekat dengan teman-teman gue. Sejak dulu, dia bahkan jarang membiarkan gue untuk pergi main dengan yang lain kalau didalamnya gak ada dia. Karena dia, hanya ingin dengan gue. Dan gue, tidak diperbolehkan dengan yang lain.

Saat bagaimana Gara duduk disofa ruang tengah unit gue, gue mendapati dia yang melihat ke sekeliling. Gue sadar, ini bukan kali pertamanya dia disini.

"Mas Gara, mau minum apa?" tanya gue. 

Gue melihat dia yang berdiri lalu mengalihkan pandangannya dan menutup pintu balkon yang tadi terbuka lebar. Sebenarnya, pikiran gue masih kalut memikirkan yang terjadi dengan Grisha barusan, belom lagi sekarang... Arkan mengambil alih Grisha. Gue kesal bukan main... sebenarnya.

"Tahu gak Reen?"

"Apa?"

Dia mendekat ke arah gue yang berdiri disebelah meja makan. "Tadi, gue baru lihat raut wajah lo yang baru,"

Gue mengernyit bingung.

"Bukan, bukan yang itu." Katanya.

"Yang mana?" tanya gue.

"Tadi... lo khawatir banget keliatannya." Jawabannya yang selalu diluar nalar gue. Gue fikir dia akan menjawab apa, karena benar-benar selalu diluar yang gue fikirkan.

"Mas Gara kenapa ikutin gue?"

"Gue khawatir,"

"Tapi bukan gue yang lagi celaka," jawab gue jujur. "Itu Grisha, temen gue, bukan gue.." gue tiba-tiba mengeluarkan intonasi meninggi lagi. Entah apa yang ingin gue utarakan karena rasanya aneh melihat dia ikut khawatir seperti tadi.

"Itu temen lo," jawab Gara, dia sekarang membawa tangannya untuk mengelus rambut gue pelan. "Waktu itu, saat lo sakit, Grisha juga meminta tolong pada gue. Gue kira... lo tadi ingin minta tolong ke gue juga?" tanyanya.

Gue mengejapkan mata, menetralkan pikiran gue yang terus berkecamuk. "Reen," panggilnya.

"Kenapa?" tanya gue pelan.

Gara tampak maju satu langkah lebih dekat, membuat gue terpojok ke meja makan. "Lain kali, kalau butuh bantuan... ke siapapun... bilang, gue gak keberatan untuk lo repotin," katanya.

Gue menatap Gara tepat dimata, mencari-cari sesuatu yang bahkan gue pun gak mengerti, gue ini mencari apa?

Karena dia... orang pertama yang dengan mudahnya maju satu langkah lebih dekat dengan gue.

Setelah itu rasanya seperti tenggelam didasar laut saat merasakan kecupan singkat Gara dibibir. "Duh, maaf, kepleset. Tadinya mau dihidung," jawabnya tiba-tiba.

ReenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang