"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." –Ali bin Abi Thalib.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pahit katanya. Pahit... artinya buruk?
Katanya manusia lain pernah bilang bahwa hal terburuk dari kehidupan di dunia ini adalah berharap kepada sesama manusia lagi.
Iya... berharap terhadap manusia adalah hal terburuk yang selama ini gue rasakan.
Seumur gue hidup di dunia dengan umur yang sudah menginjak dua puluh empat ini, gue selalu berharap, berharap dan berharap.
Dan di umur dua puluh empat ini gue lagi-lagi punya harapan dimana gue telah berharap kepada seorang manusia yang teramat gue sayangi.
Gue berharap kepada Gara.
Gue berharap dia yang cepat pulang dan ada didekat gue.
Gue berharap dia yang cepat pulang dan memeluk gue.
Gue berharap dia yang cepat pulang dan mencium gue.
Gue berharap dia... yang seharusnya untuk harapan ini, gue gak usah terlalu berekspektasi.
Karena katanya, ekspektasi terlalu tinggi itu bisa membuat kita jadinya malah sakit sendirian.
Gue berharap dia menjadi Gara yang seperti seminggu pertama kita LDR.
Mengabari gue tiap malam, menelefon gue tiap malam, menceritakan hal yang gak penting sampai penting sampe-sampe kita terlelap dan membiarkan sambungan telefon ini terus tersambung padahal kedua insannya sudah ada di beda alam.
Karena sekarang, di minggu kedua kita LDR, Gara menghilang seperti biasanya dia.
Tidak mengabari gue, tidak membuat gue tersenyum lagi tiap malam, dan tidak ada lagi rentetan pertanyaan yang biasanya akan dia tanyakan kepada gue.
Walaupun hal kecil seperti,
"Udah makan belom? Mas makan dulu ya, kamu jangan lupa makan juga.. jangan kerja terus."
Kalimat sepele dan biasa namun sangat berarti buat gue karena tiap harinya membuat gue meyakini diri, kalau gue ini adalah manusia dengan keharusan harus makan.
Well, Gara dengan segala perhatiannya itu sudah mengetahui kebiasaan gue yang kalau lagi kerja suka lupa makan. Tipe-tipe anak ambis yang kalau lagi deadline, gue suka lupa diri bahkan buat makan sekalipun.
Namun sekarang, kemana kata-kata itu perginya di seminggu ini?
Kok yang gue lihat dia malah sibuk bercanda digrup Team Projek Luar'20 tanpa ada niat untuk membalas pesan gue?