BAB 15 : Rasa Bersalah

1.4K 1.3K 36
                                        

BAB 15 : Rasa Bersalah

"Bagaimana kondisi putra saya Dokter?" tanya Andi dengan tidak sabar. Dokter Toni dia yang merawat Alfito selama koma hanya terseyum tipis.

"Kondisi Pasien masih sama dengan sebelumnya, tidak ada tanda-tanda perkembangan yang signifikan dari pasien," jawab Dokter Toni jujur. Andi memijit pelipisnya pelan, sedangkan Ayu sang istri hanya mencoba menenangkan dengan cara menepuk bahu Andi.

Sudah kurang lebih selama 2 bulan Alfito Aditama terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Setiap kali setelah diperiksa oleh Dokter Toni tidak ada perkembangan apapun yang ditunjukkan oleh Alfito. Setiap hari keluarga Aditama selalu bergantian untuk menjaga dan merawat Alfito, tapi khusus hari ini semua keluarga Aditama termasuk asisten rumah tangganya yaitu Mbok Darmi ikut datang ke rumah sakit untuk memastikan perkembangan sang putra bungsu, tapi lagi-lagi mereka harus sabar  karena Alfito masih terlihat sangat nyaman tidur di sana dengan alat-alat medis yang menempel dibeberapa bagian tubuhnya.

"Kapan kamu akan bangun Alfito?" gumam Andi setelah melepas kaca mata minus miliknya, dia duduk di bangku, mengabaikan sang istri yang masih berusaha menenangkan dirinya. Tidak jauh berbeda dengan Andi yang tampak sedih, Aldino Aditama juga merasa bersalah karena dia lah penyebab Alfito koma.

"Ini semua salahku," ucap Aldino kepada dirinya sendiri, semua orang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Aldino tidak perduli, yang sekarang dia pikirkan adalah bagaimana caranya membuat Alfito bisa terbangun dari tidur panjangnya itu.

"Ini juga salah Ayah, karena tidak bisa tahu kalau kamu mau bersekolah di luar negeri, dan ayah juga tidak tahu kalau adikmu itu hanya ingin dekat dengan keluarganya, ini salah ayah. Semua ini salah ayah!" ujar Andi pelan. Tes... Bulir bening jatuh dari mata indah milik Ayu Aditama, hatinya terasa tercabik-cabik melihat suami dan putra sulungnya yang sangat kacau hari ini.

"Semua ini bukan salah kalian saja tapi juga salah Bunda, yang belum bisa membagi kasih sayang secara adil antara Aldino dengan Alfito, maka dari itu membuat mereka selalu bertengkar dan berakhir seperti ini hiks...hiks...hisk..." tangis Ayu pecah saat dia mengingat kenangan 20 tahun lalu saat anak-anaknya masih kecil. Andi tersentak karena pernyataan sang istri yang tiba-tiba itu, dia merasa iba terhadap istrinya, segera dia membawa Ayu ke dalam pelukannya.

"Kalau saja kemarin Mbok bisa cegah Den Alfito pergi, mungkin tidak akan seperti ini jadinya." Mbok Darmi juga merasa bersalah karena dia berpikir bahwa dirinya juga terlibat masalah ini karena tidak bisa melerai pertengkaran antara Aldino dengan Alfito, dan berakhir Alfito terbaring lemah di ranjang selama kurang lebih 2 bulan.

"Sudahlah semuanya telah terjadi dan tidak mungkin disesali, tapi ayah akan berjanji apabila Alfito sadar dari koma, ayah akan menuruti semua keinginannya termasuk menetap di Indonesia bersama kita," kata Andi dengan lugas, masih dengan posisi memeluk Ayu.

"Aldino juga akan menuruti semua permintaan Alfito, jika dia bangun nanti," ujar Aldino mantap dengan tekat yang kuat.

"Iya, bunda juga tidak akan pernah membeda-bedakan kasih sayang yang Bunda berikan kepada Aldino maupun Alfito jika anak bungsu bunda bangun dari tidur panjangnya hiks... hiks... hiks..." Ayu masih saya menangis di pelukan sang suami.

"Mbok Darmi juga akan lebih memperhatikan Den Alfito jika dia sudah sadar nanti." Mbok Darmi ikut ambil bagian disini, karena dia sudah sangat lama bekerja di kediaman Aditama dan dia juga sudah dianggap seperti keluarga oleh Andi Aditama, jadi tidak ada salahnya bila dirinya juga mengutarakan sebuah janji kepada putra bungsu keluarga Aditama itu.

Suasana mendadak hening, semua diam dengan pikiran masing-masing, sampai Sukma keluar dari balik pintu ruangan Alfito Aditama.

Cklekkk... Pintu terbuka menampilkan Sukma yang keluar dengan pakaian perawatnya.

"Dokter Toni," panggil Sukma pelan, Dokter Toni yang sedari tadi diam sekarang menatap Sukma dengan dahi mengernyit bingung. Seakan tahu akan kebingungan sang Dokter, segera Sukma memberitahu kenapa dia memanggil Dokter Toni.

"Pasien telah sadar."

•••

"Dan Cut..." Ridwan mengakhiri sesi liputan hari ini. Sena menghela napas pelan.

"Kerja bagus semuanya," ucap Ridwan pada semua tim yang bertugas, Sena hanya tersenyum tipis, dirinya segera duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari tempat dia liputan tadi.

"Minum." Ridwan tiba-tiba saja datang dan memberikan dirinya sebotol air mineral, dan Sena dengan senang hati menerimanya, dia langsung meminum air tersebut sampai habis setengah.

"Kok kemarin kamu nolak Nirma? Kenapa? Apa kamu belum bisa move on dari dia?" kini Sena mencoba membuka obrolan dengan teman sekaligus rekan kerjanya itu. Mata Ridwan sendu, dia menghela napas panjang.

"Iya, aku belum bisa move on dari cinta pertamaku," jawaban yang diberikan oleh Ridwan, membuat Sena engan untuk melanjutkan obrolan ini.

Nirma adalah salah satu penyiar berita di stasiun televisi tempat Ridwan dan Sena bekerja. Sudah satu tahun Nirma memendam perasaannya kepada sang juru kamera, sebenarnya Ridwan tahu dan peka jika ada salah satu penyiar berita yang menyukai dirinya, tapi Ridwan memilih bungkam dan mengabaikan itu, sampai kemarin Nirma menyatakan perasaan kepada dirinya di lobi stasiun televisi, dan dengan tegas Ridwan menolak Nirma secara terang-terangan di depan umum, semua orang menatap Nirma kasihan termasuk juga Sena yang saat itu ada di tempat kejadian.

"Tapi aku juga merasa bersalah karena telah membuat dia menangis dan pasti malu di depan umum," lanjut Ridwan, tatapannya lurus ke depan memandang jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.

"Pasti dia sekarang membenciku," celetuk Ridwan sambil tersenyum sinis. Ridwan tahu bahwa tindakan dirinya kemarin sangat keterlaluan, jadi Ridwan berpikir bahwa Nirma pasti sangat membencinya.

"Kata siapa? Jangan negatif thingking, Nirma itu mencitai kamu dalam diam sudah satu tahun, dan aku rasa dia gak akan nyerah gitu aja karena kemarin kamu udah nolak dia," ujar Sena lugas. Dia tahu bahwa Nirma adalah wanita yang kuat dan tergolong keras kepala, Sena yakin Nirma akan terus berjuang untuk mendapatkan hati Ridwan suatu saat nanti. Ridwan hanya diam tidak menanggapi Sena.

Empat menit mereka hanya diam menatap jalanan yang ramai lancar dengan kendaraan yang terus melintas tiada henti, mulut Ridwan yang sedari tadi diam rasanya gatal dan ingin sekali membuka obrolan baru dengan orang yang ada di sebelahnya.

"Gimana kabarnya Aldino?" akhirnya Ridwan membuka obrolan baru dengan menanyakan kabar kekasih Sena.

"Dia baik," jawab Sena apa adanya. Ridwan menghela napas pelan. Hening lagi-lagi mereka hanya diam, Ridwan engan membuka obrolan kembali bersama Sena. Karena jawaban yang Sena berikan terkesan biasa saja dan sangat singkat.

"Ada yang aneh dengan Aldino selama 2 bulan ini," kata Sena. Ridwan terperanjat dia reflek menoleh ke arah Sena Agustin. Mengerti akan keterkejutan juru kamera satu ini akhirnya Sena melanjutkan perkataannya.

"Selama 2 bulan ini, seperti ada sesuatu hal yang dia sembunyikan dariku," lanjut Sena, sambil menerawang kejadian selama 2 bulan terakhir bersama Aldino.

"Apa itu?" tanya Ridwan antusias, sepertinya dia melupakan sejenak masalah dirinya dengan Nirma.

"Aku tidak tahu apa yang dia sembunyikan dariku, tapi sikap yang dia tunjukan selama 2 bulan ini kepadaku menunjukkan bahwa ada sesuatu hal besar yang dia tutupi dengan sangat rapat."

•••
TBC

Yes BAB 15 akhirnya publis... 😍

Gimana nih? Makin seru gak? 🤔

Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan dan perkataan saya dalam menulis cerita ini. 🙏

Jangan lupa tinggalkan jejak seperti Vote 🌟 dan Komentar 📝 kalian...

Terima kasih kepada kalian semua yang sudah membaca cerita ini. 😁

Bagikan cerita ini kepada semua teman kalian. 💌

Follow akun:
diahyah70

Dilema AsmaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang