BAB 6 : Sebuah Kabar

2.3K 2K 30
                                        

BAB 6 : Sebuah Kabar

Kring...kring...kring... Bunyi alarm itu benar-benar telah mengusik tidur seorang Sena Agustin, dengan malas Sena mengeliat pelan lalu duduk diatas ranjang kemudian mematikan alarm yang sedari tadi berbunyi nyaring. Hoam... Sena menguap lalu segera dia bangit dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mandi pagi lalu menunaikan kewajibanya sebagai umat muslim yaitu salat subuh. Setelah selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, Sena keluar dari kamarnya dan bergegas menuju dapur. Di bukanya kulkas dua pintu yang terletak disebelah rak piring. Cklekkk... Pintu bawah kulkas terbuka. Habis semua bahan makanan tidak ada satupun hanya ada beberapa botol air mineral, Sena menghela napas pelan.

Sena kemudian beranjak menuju kearah meja, dibukanya magicoom dan masih ada setengah nasi yang ada di dalamnya. Senyum Sena terbit saat mengingat wajah cemberut dan ketus Sukma, dengan cekatan Sena mengupas bahan-bahan seperti bawang putih dan bawang merah, kemudian Sena memotong beberapa cabai merah. Sena memasukan bahan-bahan itu kedalam blender tidak lupa Sena menambahkan sedikit garam, sedikit penyedap rasa, dan sedikit air mineral. Setelah semua bumbu tercampur rata, Sena segera menghidupkan kompor satu tungkunya. Sena memanaskan minyak diatas wajan, kemudian Sena mulai memasukan bahan-bahan itu kedalam dan menumisnya hingga harum, setelah itu Sena memasukan nasi kedalam dan segera menambahkan kecap kemudian menumisnya lagi, tidak berselang lama Sena matikan kompor menandakan masakannya sudah selesai dia masak. Sena segera menyiapkan dua buah piring dan segera membagi masakan tersebut dengan rata. Lagi-lagi senyum Sena terbit, dengan langkah riang Sena menuju ke kamar Sukma.

Tok...tok...tok... Dengan sabar Sena menunggu Sukma untuk membuka pintunya. Cklekk... Akhinya penantian Sukma tidak sia-sia pintu kamar Sukma terbuka dengan lebar dari dalam, menampilkan wajah mengantuk Sukma.

"Ada apa sih pagi-pagi bangunin aku? Aku itu dapat sip malam bukan sip pagi." ucap Sukma dengan menyusar rambutnya kasar. Sena terseyum maklum.

"Iya aku tahu kok kamu dapat sip malam hari ini. Aku ingin menebus kesalahan ku tadi malam." papar Sena dengan terus mengumbar senyum simpul. Sukma yang masih setengah sadar mengerutkan kening bingung, tanpa aba-aba Sena menarik lengan tangan kanan Sukma untuk menuju ke dapur.

"Taraa." ucap Sena saat dia berhasil membawa Sukma ke dapur.

"Nasi goreng?" tanya Sukma sambil menatap kearah piring dan kearah Sena secara bergantian. Sena hanya menganguk sebagai jawaban. Tidak ada percakapan lagi diantara keduanya mereka akhirnya duduk dikursi dan memakan makanan mereka masing-masing.

"Apa kamu sudah tidak marah dan tidak kecewa kepada ku?" tanya Sena dengan hati-hati. Sukma mengurungkan niatnya yang ingin minum air mineral.

"Aku sudah tidak marah dan tidak kecewa kepadamu tapi aku ingin Aldino meminta maaf kepada ku pagi ini," jawab Sukma dengan seulas senyum misterus.

"Ya jelas aku tidak bisa menyuruh Aldino untuk meminta maaf kepada mu, hari ini aku ada liputan pagi aku ada jadwal breaking news dan setelah itu aku langsung ke Bogor untuk liputan wisata." papar Sena dengan apa adanya.

"Kalau begitu telepon Aldino." ujar Sukma santai.

"Apa?!" Sena membeo.

•••

Drttt... Gerakan mengancingkan kerah kemejanya terhenti kala sebuah pangilan masuk dari ponsel yang sekarang terletak di meja kerjanya. Dengan engan Aldino meraih ponselnya, senyumnya terbit saat melihat si pemangil adalah pacarnya yang dia cintai.

Dilema AsmaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang