Chapter 1. Berawal dari Media Sosial

6.1K 252 2
                                        

Anak-anak berbaris untuk mencium tangan Safina. Gadis itu pun mengembangkan senyumannya.

“Hati-hati ya pulangnya. Nanti di rumah jangan lupa belajar.”

“Iya, Miss,” jawab beberapa anak secara serentak.

Safina melambaikan tangan kepada mereka.

Excuse me, Miss. May I come in?” ucap seorang perempuan berkulit putih yang berjalan mendekati Safina. Dia merupakan kakak kandung Safina.

Safina langsung mencubit kakaknya dan tersenyum.

“Ngeledek. Kak Ayla mah nggak perlu izin buat masuk. Eh maaf ya aku jadi cuekin Kakak dari tadi. Kakak ke sini, tapi aku malah sibuk sendiri. Oh ya sini duduk, Kak.”

Ayla pun duduk di samping Safina.

“Nggak papa. Kakak perhatiin kamu sayang banget sama anak-anak itu. Perhatian kamu itu udah kaya seorang ibu yang punya banyak anak.”

“Kakak ini apaan sih. Mereka kan murid-murid bimbel aku. Tentu aja aku sayang sama mereka. Lagian aku kan emang suka sama anak-anak.”

“Cie... jiwa keibuannya udah mulai tumbuh kayanya. Jangan-jangan udah pengin nikah ini.”

Safina menjewer telinga kakaknya. "Umur aku itu baru 22 tahun, Kak. Sama sekali belum kepikiran buat nikah."

“Lho jangan salah. Di kampung kita kan lagi tren nikah muda. Adek-adek kelas kamu jaman sekolah dulu juga sekarang banyak yang udah nikah dan punya anak.”

“Ya itu kan orang lain, Kak. Aku belum pengin nikah. Masih banyak impian yang harus aku kejar. Ini tempat bimbel aja baru satu. Aku penginnya bisa buka cabang di mana-mana, bahkan sampai ke luar Lampung. Aku mau jadi pengusaha sukses kaya ayah.”

“Kamu kenapa nggak nglanjutin S2 aja?”

“Kasihan ayah kalau harus keluar banyak duit lagi buat pendidikan aku. Lagian kaya gini kan malah waktunya bisa aku gunain buat ngembangin usaha yang aku punya. Ya siapa tahu nanti kalau udah terkumpul banyak duit aku bisa biayain S2 sendiri.”

“Aamiin. Adik kakak ini emang seorang wanita karir yang mandiri. Beruntung ya pasti yang jadi suami kamu nanti.”

“Apaan sih, Kak.”

“Saf, nanti kalau cari suami harus hati-hati ya. Kakak nggak mau nasib kamu sama kaya kakak. Cukup kakak aja yang ngerasain sakitnya pernikahan yang gagal. Pernikahan kamu harus sempurna seperti pernikahan ayah dan ibu.”

“Insya alllah, Kak. Doain aja semoga Safina bisa dapet suami yang baik. Kakak juga jangan putus asa ya. Aku yakin pasti nanti akan datang laki-laki yang jauh lebih baik buat Kakak.”

Ayla menghela napas. “Siapa sih, Saf, yang mau sama perempuan yang nggak bisa ngasih keturunan kaya kakak.”

“Sssttt... Kakak ngomong apa sih? Kan Kakak udah cek ke dokter, Kakak itu nggak mandul. Emang belum waktunya Allah kasih. Suami Kakak aja yang nggak sabar dan nyari-nyari alasan biar bisa pisah dan nikah sama cewek lain.”

Safina menatap kakaknya yang menunduk sedih.

“Eh maaf ya, Kak. Aku nggak bermaksud bikin Kakak sedih.”

Ayla tersenyum. “Nggak papa. Lagian itu udah dua tahun yang lalu. Kakak udah ikhlas atas apa yang terjadi.”

Safina memeluk kakaknya dengan erat.

“Insya allah kita akan punya masa depan yang bahagia bersama pasangan kita nanti, Kak. Kita harus yakin.”

“Semoga aja. Ya udah kita pulang, yuk.”

Aku Bukan Pelakor [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang