Chapter 19. Dia yang Selama ini Kau Sembunyikan

3.5K 172 3
                                        

JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT NULIS😊 BELAJARLAH UNTUK MENGHARGAI SEBUAH KARYA😊

Safina tiba di sebuah taman kecil, sesuai alamat yang dikirimkan Marya usai naik angkot karena taman itu berada cukup jauh dari rumahnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Namun dia tidak menemukan Marya. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di bangku taman, menunggu kedatangan Marya.

Debar jantung yang begitu kencang, tangan yang gemetar, dan keringat dingin yang mulai membasahi kening. Pikiran Safina kacau. Angannya melayang jauh memikirkan kemungkinan terburuk nasib pernikahannya dengan Bagus yang baru seumur jagung. Kehadiran seorang perempuan mungil bertubuh tinggi yang menepuk bahunya pun seakan menghempaskannya jatuh ke bumi setelah pikirannya berkelana di atas awan. Perempuan itu menatap tajam tanpa seulas senyum sebagai sapaan.

"Kamu Safina?"

Safina mengamati perempuan yang ada di depannya dengan saksama.

"Iya. Mbak Marya? Sini duduk, Mbak."

Marya duduk di samping Safina. Namun dia sepertinya enggan menatap Safina.

"Jadi gimana, Mbak? Saya mau tahu kejelasan dari perkataan Mbak di DM." Safina mengawali obrolan.

"Bukankah sudah jelas seperti yang saya bilang kalau saya ini bukan mantannya Bagus."

"Lalu Mbak siapa?" Safina menatap heran. Dia masih belum mengerti maksud perkataan Marya.

"Saya pacarnya." Marya menoleh ke arah Safina dan menatap sengit, mempertegas ucapannya.

"Maksudnya?"

"Ya saya pacarnya Bagus selama empat tahun ini. Apa itu masih kurang jelas?"

"Enggak. Itu nggak mungkin." Safina menggeleng tidak percaya.

"Kenapa nggak mungkin? Kamu siapa sih sebenarnya? Kamu bilang kamu lagi deket sama dia? Baru deket, kan? Jadi lebih baik kamu tinggalin dia karena dia adalah pacar saya."

"Saya nggak akan meninggalkan dia karena saya adalah istrinya."

Marya tersentak. Alisnya saling bertumbuk.

"Jangan asal ngomong, Mbak."

"Saya cuma bicara jujur, Mbak. Mbak yang asal ngomong. Bagaimana mungkin Mas Bagus masih pacaran sama Mbak? Kalian itu udah lama putus. Mas Bagus bilang Mbak nggak bisa ngertiin kesibukan dia dan Mbak pengin buru-buru ngajak dia nikah, sementara dia belum siap saat itu. Lalu Mbak meninggalkan dia dan memilih bersama laki-laki lain."

"Itu nggak bener! Hubungan saya sama Bagus selama ini baik-baik aja. Jangan ngarang cerita deh, Mbak."

"Untuk apa saya bohong, Mbak? Ini bukti pernikahan saya dengan Mas Bagus."

Safina membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto pernikahannya dengan Bagus, juga foto-foto kebersamaan mereka di rumah.

"Dan ini cincin pernikahan kami." Safina mengangkat tangannya dan menunjuk jari manisnya.

Marya membalas dengan menunjukkan kalung yang dia ambil dari dalam tasnya. Sebuah kalung emas putih dengan inisial GS. Persis seperti kalung yang ditemukan Safina di bawah tumpukan pakaian Bagus.

"Ini kalung dari Bagus waktu dia melamar saya. Lihat kan inisialnya GS. Itu singkatan dari nama panggilan dia dan saya, Gus dan Sari. Sudah tahu kan kalau dia punya nama panggilan Gus? Kalau Sari itu karena memang dia lebih suka memanggil saya Sari daripada Marya. Semacam panggilan kesayangan. Ya memang dia belum mempertemukan saya dengan keluarganya, tapi dia sudah melamar saya dengan cara yang sangat romantis. Bahkan ketika kalung ini putus, Bagus berjanji akan membelikan saya lagi kalung seperti ini. Sebentar lagi dia pasti akan memberikan kalung itu untuk saya."

Mendengar itu Safina tergemap. Dia kini tahu bahwa kalung yang ditemukannya itu bukanlah untuk dirinya dan bukanlah singkatan dari Gus dan Safina, melainkan Gus dan Sari.

Marya lalu menunjukkan foto-foto kemesraannya dengan Bagus. Tidak lupa dia memperlihatkan foto saat Bagus melamarnya di puncak, di hadapan teman-teman mereka.

"Mereka adalah saksi dari hubungan kami yang sudah berjalan empat tahun ini. Kamu lihat dong foto-foto kamu dengan Bagus. Kelihatan banget senyumnya dia itu terpaksa. Bandingkan dengan foto-foto ini. Dia terlihat natural dan benar-benar bahagia. Jadi sudah jelas di sini siapa yang sebenarnya dicintai Bagus."

Peluru seakan telah menembus jantung Safina. Dia benar-benar tidak menyangka akan apa yang didengar dan dilihatnya. Bulir-bulir air mata meluncur di pipinya.

"Bagaimanapun saya adalah istrinya dia, Mbak."

"Enak aja. Saya yang udah nemenin dia dari nol, dari zaman dia masih susah belum punya duit sampai dia sesukses sekarang. Kamu cuma orang baru yang jadi perusak hubungan saya dengan dia. Saya yang nemenin susahnya, eh kamu yang nikmatin hasilnya. Dasar pelakor!"

"Saya bukan pelakor! Saya sama sekali tidak tahu menahu soal hubungan kalian. Yang saya tahu Mas Bagus itu sudah setahun menjomlo sebelum dia melamar saya."

"Harusnya sebelum menikah kamu pastikan dulu pasangan kamu itu beneran jomlo atau udah ada pasangan. Kalau begini kan jadinya kamu merebut pasangan orang lain. Coba aja share masalah ini ke media sosial. Saya yakin semua orang akan membela saya dan menghujat kamu karena kamu lah yang pelakor. Kamu yang merebut laki-laki yang sudah saya pacari bertahun-tahun."

"Baiklah. Saya minta maaf. Saya tidak pernah berniat untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain apalagi sampai merebut calon suami orang lain. Saya bahkan sangat membenci perselingkuhan. Saya paham bagaimana sakit hati yang dirasakan Mbak, tapi tolong jangan menyebut saya pelakor karena ini semua terjadi tanpa kesengajaan. Saya benar-benar merasa bersalah. Saya minta maaf, Mbak Marya."

Marya menghapus air matanya. Kemarahan yang tampak di wajahnya pun tak dapat disembunyikan.

"Percuma kamu minta maaf. Kamu sudah terlanjur menghancurkan impian saya dengan Bagus dan menjadi duri dalam keharmonisan hubungan kami. Ayo ikut saya. Ada yang mau saya tunjukkan."

Dengan kasar Marya menarik tangan Safina. Safina tidak mengerti ke mana Marya akan membawanya. Namun dia hanya mengikuti saja langkah perempuan itu.

Nah sekarang udah tau kan kenapa judulnya Aku (Bukan) Pelakor 😁 Hayoo siapa yang baca ini sambil dengerin backsound Kumenangis..... 😂😂

Aku Bukan Pelakor [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang