Usai melaksanakan resepsi pernikahan di rumah Safina, saatnya untuk acara resepsi di rumah Bagus pada hari kedua. Acara tersebut juga berjalan dengan lancar. Menyisakan rasa lelah yang membuat Safina langsung ingin memejamkan mata setelah acara selesai.
"Capek banget ya, sayangku?" tanya Bagus saat melihat mata Safina yang sudah lengket.
"Iya, Mas. Aku kan nggak biasa didandanin kaya gitu. Rasanya berat pake bulu mata berjam-jam."
"Berat pake bulu mata atau karena biasanya siang molor terus hari ini tiduran aja nggak bisa?"
"Emangnya kamu yang doyan banget molor."
"Eh kok aku?"
"Waktu belum nikah kan kamu selalu nge-chat aku setiap bangun tidur dan mau tidur. Kayanya tuh banyakan waktu tidurnya deh. Kalah sama aku. Aku aja suka begadang."
"Nanti kalau jadi istri aku nggak akan begadang lagi. Aku ajak tidur lebih awal terus tiap hari."
"Kamu malahan Mas yang aku ajak begadang."
"Oke lihat ya nanti siapa yang lebih dominan di sini. Ya udah yuk tidur."
"Mas bukannya aku kemarin udah janjiin sesuatu sama kamu? Kamu nggak nagih janji itu?"
"Besok aja, sayangku. Kamu kan lagi capek."
"Kamu pengertian banget sih. Makasih ya."
"Iya, sayang. Emm... tapi nggak papa kan aku tidurnya deketan sama kamu sekarang?"
"Nggak papa. Lagian kan udah halal. Kamu nggak perlu minta izin aku, Mas."
"Kenyamanan kamu itu penting buat aku, sayang. Aku nggak mau melakukan sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman."
"Aku beruntung memiliki suami seperti kamu."
Bagus mendekat. Dia mendaratkan ciuman di kening Safina, lalu memeluknya. Meski masih malu-malu, Safina mencoba untuk memeluk Bagus juga.
Safina yang sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya akhirnya merebahkan diri. Bagus pun merapatkan tubuhnya dan mengelus kepala Safina dengan lembut.
"Tidur yang nyenyak ya, sayangku."
Safina mengangguk sambil tetap memejamkan mata. Dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki suami yang begitu penyayang dan pengertian seperti Bagus.
**
Ketika azan subuh berkumandang, Safina terbangun. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat itu dia melihat Bagus sudah duduk di sampingnya sembari memegangi tangannya.
"Good morning, my angel. Gimana tidurnya? Nyenyak, kan?"
"Mas, kamu udah bangun duluan?"
"Iya, dong. Nih aku siapin dua gelas air minum buat kamu. Satunya air putih karena saat bangun tidur itu dianjurkan minum air putih. Bagus buat kesehatan. Satunya lagi teh hangat. Kata ibu kamu, kamu selalu minum teh kan setiap bangun tidur?"
Safina tercengang. Dia langsung bangun dan menggenggam tangan Bagus.
"Kamu perhatian banget sih, Mas? Padahal aku penginnya bangun duluan dan aku yang bikin kejutan buat kamu. Lagian aku kan istri kamu. Harusnya aku yang melakukan semua ini."
Bagus tersenyum sembari membelai rambut panjang Safina.
"Bagiku nggak ada prinsip seorang istri yang harus melayani suami. Pernikahan itu harus membuat nyaman dan bahagia kedua belah pihak. Masing-masing punya hak dan kewajiban. Nggak boleh cuma istri doang yang melayani suami atau sebaliknya. Harus seimbang dong."
"Aku nggak tahu lagi harus ngomong apa. Aku bersyukur banget Allah ngasih aku suami seperti kamu. Lelaki yang sempurna seperti berlian."
"Jauh amat aku dibandingin sama berlian. Aku item gini. Beda jauh lah. Arang kali bukan berlian."
Safina memukul lengan Bagus. "Nyesel aku gombalin kamu."
"Oh tadi itu gombalin aku? Lagi dong lagi."
"Telat. Udah nggak mau sekarang."
"Ayo dong, Istriku yang manis. Manisnya kaya pare."
"Pahit dong. Ih jahat banget istri sendiri disamain sama pare." Safina kembali memukuli lengan Bagus. Namun lelaki itu malah tertawa.
"Kayanya kalau aku nggak nikahin kamu, nggak ada yang mau nikahin kamu. Galak begini."
Mendengar ledekan Bagus, Safina pun menjewer telinga Bagus.
"Ampun, Bu Negara. Ampun. Udah cepet diminum terus kita salat bareng."
Bagus mengambil gelas yang ada di meja dan meminumkannya kepada Safina. Istrinya itu pun mengembangkan senyumannya karena dimanjakan olehnya.
Setelah meneguk segelas air putih, mereka segera berwudhu dan melaksanakan salat subuh berjamaah di kamar mereka. Usai salat, Safina terus memandangi lelaki yang duduk di depannya itu sembari tersenyum. Dia merasa sangat bahagia memiliki seorang imam yang baik seperti Bagus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)