Flashback on
Pagi itu Safina sudah duduk di meja makan dengan makanan dan minuman yang sudah dia susun rapi. Ketika Bagus keluar dari kamar, dia langsung mengendus-enduskan hidungnya seperti seekor kucing yang kelaparan.
"Bau masakan istriku memang selalu menggoda."
"Iya dong. Istrinya siapa dulu. Akhirnya Tuan Bagus bangun juga. Yuk, makan."
"Maaf ya, Nyonya Bagus. Jadi masak sendirian deh. Habisnya ngantuk banget habis lembur, jadi tidur lagi. Padahal hari ini kan aku shift malam, harusnya pagi bisa bantuin masak."
"Nggak papa, sayang. Lagian aku kan bisa sendiri."
"Mmm... tapi kayanya ada yang kurang deh."
"Apa?"
"Sop. Nggak tau ini aku lagi pengin banget makan sop."
"Sop? Tapi kita lagi nggak ada daging ayam atau sapi di kulkas."
"Sayuran aja udah cukup kok. Kalau yang masak sayangku mah nggak ada daging juga udah enak."
"Gombal terus. Baru bangun tidur udah gombalin istrinya aja. Ya udah aku masakin dulu ya. Eh tapi nanti lama. Dingin dong makanannya."
"Biarin. Senyum kamu kan bisa bikin makanan terasa hangat."
"Apa sih kamu, Mas." Safina mencubit hidung Bagus. Lalu bergegas ke dapur. Bagus pun mengekorinya hingga Safina menghentikan langkahnya.
"Mau ngapain?"
"Bantuin masak dong, sayangku."
"Oh aku paham. Ini ceritanya mau nebus waktu pagi ini karena tadi nggak bantuin aku masak, kan? Makanya tiba-tiba minta dimasakin sop?"
"Hehe tahu aja. Aku tuh merasa bersalah banget kalau biarin istriku ngerjain pekerjaan rumah sendirian."
"Lebay. Ya udah ayo kalau mau bantuin."
Bagus tersenyum dan berlari memeluk Safina dari belakang. Mereka berjalan ke dapur sambil tetap berpelukan seperti itu. Terkadang Bagus memang suka bertingkah manja, lebih manja dari istrinya.
"Aku siapin bumbunya, kamu yang motongin sayurannya ya, Mas."
"Siap, Nyonya Bagus."
Mereka berdua pun masak bersama sambil sesekali bercanda. Seperti itulah keromantisan mereka setiap pagi jika Bagus sedang shift malam.
Setelah selesai, barulah mereka sarapan. Saat sarapan pun, mereka juga menunjukkan keromantisan dengan makan sepiring berdua dan saling menyuapi. Gelas pun mereka minum dari satu gelas yang sama secara bergantian.
"Mungkin Rasulullah dulu seromantis ini ya."
"Aku yakin malah lebih romantis dari kita. Ya seenggaknya kita coba ikuti sunah-sunah Rasulullah."
"Iya, sayangku. Semoga kita tetap romantis selalu seperti ini."
"Aamiin."
Kebahagiaan tampak di wajah mereka berdua. Tak terasa nasi di piring pun sudah habis. Mereka membawa piring dan gelas kotor ke dapur, lalu mencuci piring bersama. Setelah itu Safina ke kamar untuk mengambil pakaian kotor dan hendak membawanya ke kamar mandi. Bagus masih saja tidak mau menjauh darinya.
"Kok ngikutin aku terus sih, Mas? Minta dibikinin kopi lagi?"
Bagus menggeleng.
"Terus mau ngapain?"
"Bantuin kamu nyuci."
"Ya ampun. Kamu kan udah bantuin aku masak sama nyuci piring. Masih mau bantuin nyuci baju juga?"
"Iya lah, sayangku. Habisnya kamu udah dibeliin mesin cuci masih aja nyuci pake tangan sebelum dimasukin ke mesin cuci. Pokoknya aku nggak akan biarin istriku kecapekan. Kita kerjain semua pekerjaan rumah sama-sama. Lagian aku kan kerjanya malem, jadi hari ini kita bisa nglakuin semuanya sama-sama."
Mata Safina berkaca-kaca. Dia meletakkan tumpukan pakaian yang dipegangnya, lalu memeluk Bagus dengan erat.
"Gimana aku nggak bahagia kalau aku punya suami sebaik kamu, Mas. Aku sangat bersyukur Allah ngasih aku suami sesempurna berlian. Aku sayang kamu." Safina sampai meneteskan air mata.
Bagus melepaskan pelukannya untuk mengusap air mata di pipi Safina.
"Kalau bahagia jangan nangis dong. Aku nggak mau lihat air mata jatuh di pipi kamu karena aku."
"Ini kan air mata kebahagiaan."
"Tetep aja aku nggak suka. Aku maunya lihat kamu senyum, sayangku."
"Kalau gitu jangan pernah bikin aku nangis karena sedih, ya?"
"Tentu, sayangku. Aku juga sangat mencintai kamu." Bagus memeluk Safina.
Bagus mengambil tumpukan pakaian yang diletakkan Safina di lantai, lalu secara tiba-tiba dia menggendong Safina. Tentu saja Safina terkejut.
"Eh ini mau ngapain, Mas?"
"Mau bawa kamu ke kamar mandi. Biar kamu nggak capek jalan ke kamar mandi."
Safina terkekeh. "Kok aku punya suami kelewat perhatian gini, ya? Emangnya kamar mandi kita di kampung sebelah apa sampai harus digendong segala?"
"Nggak papa. Biar romantis. Siap? Meluncur!"
Safina berpegangan dengan erat sembari terus tertawa saat Bagus menggendongnya. Sesampainya di kamar mandi, mereka pun mencuci baju bersama. Pekerjaan rumah yang lain pun mereka lakukan bersama. Bagus sama sekali tidak keberatan mengerjakan semua itu. Malah dia terlihat begitu bahagia karena bisa membantu istrinya di rumah. Setelah semua pekerjaan selesai, tidak lupa Bagus memijit tangan dan kaki Safina. Membuatnya benar-benar merasa dimanjakan oleh sang suami. Seperti itu juga hari-hari mereka selanjutnya setiap kali Bagus shift malam. Seringkali Safina mencuri pandang saat Bagus sedang sibuk menyapu atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya. Dalam hatinya dia terus mengucap syukur karena diberi suami idaman seperti Bagus yang baginya seperti berlian yang sangat berharga.
Siangnya ketika akan tidur, Bagus sering membacakan dongeng untuk Safina layaknya anak kecil karena Safina sering kesulitan untuk tidur siang. Dia mengelus lembut kening Safina sembari membacakan dongeng dengan pelan hingga Safina perlahan tertidur. Kecupan penuh cinta mendarat di kening Safina saat matanya terpejam. Baru setelah itu Bagus berbaring memeluknya dan tidur.
Uwu banget gak sih😢 Terkadang dibalik keuwuan memang ada bencana yang siap menghancurkan
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)