Usai salat dzuhur bersama ayahnya di masjid, Safina pulang ke rumah. Biasanya dia membantu ayahnya hingga sore dan pulang bersama, tetapi kali ini dia memutuskan untuk pulang lebih dulu.
Begitu sampai di rumah, Safina langsung menuju kamar kakaknya. Karena pintu kamar tidak ditutup, dia dapat melihat kakaknya yang masih fokus dengan mesin jahitnya. Dia pun mengetuk pintu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kok udah pulang?"
Safina masuk dan duduk di samping kakaknya.
"Pengin pulang lebih awal aja. Ibu mana, Kak?"
"Lho emang nggak papasan sama ibu? Ibu kan nyusulin kamu sama ayah ke rumah makan."
"Enggak tuh. Mungkin ibu lewat jalan lain."
"Ada apa, Saf? Pasti ada apa-apa nih kalau pulang duluan dan nyariin kakak."
"Sebenarnya aku mau cerita, tapi kayanya Kak Ay lagi sibuk."
"Cerita aja. Ini udah selesai kok. Udah siang kakak lanjutin nanti jahitnya. Ada apa sih?" Ayla menatap Safina serius.
"Aku bingung gimana ceritanya. Kakak baca sendiri ya."
"Baca apa?" Ayla bingung dengan perkataan adiknya.
"Chat aku sama someone."
Safina memberikan ponselnya. Dia menunjukkan isi pesannya dengan Bagus. Ayla terkekeh.
"Kok ketawa sih, Kak? Apanya yang lucu?"
"Jadi ceritanya kamu lagi PDKT sama tetangga?"
"Cuma chat doang dibilang PDKT. Lagian gimana bisa dikatain tetangga, dia kan udah empat tahun kerja di Bekasi. Ketemu paling cuma lebaran. Itu pun nggak sengaja dan bahkan aku nggak inget."
"Ciee sampai hafal dia udah merantau berapa lama."
"Bukan hafal. Kan dia yang cerita. Aduh salah kan aku konsultasi sama Kakak. Malah diledekin."
"Oke deh, sorry. Jadi gimana? Kamu suka sama dia?"
"Ya kali baru chat tadi malem sama siang tadi langsung suka. Aku cuma kagum aja sama dia. Chat-nya sopan. Manggil aku aja pake mbak. Terus kelihatan sih dari chat-nya kalau dia itu kalem dan penyayang orangnya."
"Kamu sebenarnya dulu kuliah jurusan bahasa Inggris apa psikolog sih? Masa dari chat aja udah bisa menerawang karakter orang. Jangan terlalu percaya, Safina. Sekarang itu banyak ular kobra berbungkus kepompong."
"Ulat kali, Kak."
"Ya itu kan pengibaratan aja. Eh tapi dari chat-nya kayanya dia mau serius sama kamu. Apa maksudnya coba dia mau ketemu ngobrol sama kamu dan ayah?"
"Aku sih mikirnya juga gitu, tapi aku nggak mau kepedean dulu. Kalau misalnya iya, menurut Kakak apa aku harus terima dia?"
"Kok tanya kakak? Tanyakan sama hati kamu. Apa kamu udah siap buka hati lagi? Apa kamu udah siap nikah? Apa kamu yakin kalau dia orang yang tepat buat kamu?"
"Sebenarnya aku masih takut. Setiap kali aku pacaran, aku diselingkuhin terus. Aku tuh paling benci perselingkuhan. Jadi kalau dia cuma mau macarin aku ya pasti aku tolak, Kak. Kalau niatnya mau ngajak serius, nah itu yang aku bingung."
"Lebih baik kamu pikirin dari sekarang. Jadi sewaktu-waktu dia menanyakan itu, kamu udah punya jawabannya. Inget, harus dipikirin baik-baik. Jangan sampai salah mengambil keputusan. Kamu juga jangan terlalu berharap dulu. Ya siapa tahu semua ucapan dia itu cuma bercanda. Nanti kamu keburu baper duluan lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)