Chapter 23. Kebenaran

4K 187 1
                                        

"Emangnya aku salah apa, sayang?" Beribu tanda tanya tampak di wajah bulat Bagus.

"Kenapa kamu nggak tanyakan itu ke diri kamu sendiri? Atau memang kamu nggak ada rasa bersalah sama sekali?"

"Sayang, ada apa sih? Jangan bikin aku tambah bingung."

"Kamu yang bikin aku bingung. Laki-laki yang aku kenal sebagai orang yang sangat baik, sebagai sosok suami idaman yang sangat penyayang dan perhatian, ternyata aslinya jauh dari perkiraan aku. Laki-laki yang sebelum aku nikahi telah aku cari tahu karakternya, yang semua orang bilang baik tanpa ada komentar buruk pun tentang kamu, ternyata berbanding terbalik dengan sifat aslinya yang disembunyikan dari semua orang. Aku kecewa sama kamu."

"Aku nggak ngerti apa maksud kamu. Apa pun itu, aku sendiri nggak pernah bilang kan kalau aku itu orang baik? Aku cuma manusia biasa yang bisa melakukan banyak kesalahan."

"Iya, Mas. Aku aja yang bodoh karena langsung percaya sama omongan semua orang tentang kamu. Tanpa aku tahu ternyata kamu seorang pembohong besar. Seorang laki-laki yang tega menyakiti dua wanita sekaligus."

"Dua wanita?"

"Aku udah tahu tentang Marya. Kamu nggak perlu menutupi soal dia lagi."

"Marya lagi. Bisa nggak sih nggak usah bahas dia? Aku lagi pulang kerja, capek, tiba-tiba kamu sambut dengan nangis kaya gini dan bahas soal mantan aku. Ada apa lagi? Aku udah hapus semua foto dia di instagram, kan?"

"Di instagram, bukan di hati kamu. Kamu nggak perlu sebut dia mantan lagi. Aku udah tahu kalau sebenarnya selama ini kalian nggak pernah putus dan bahkan masih pacaran sampai sekarang. Iya, kan?! Terus aku ini apa? Kalau kamu udah punya pacar dan kamu sayang sama dia, kenapa kamu harus menikahi aku? Kenapa kamu membawa aku dalam hubungan kalian dan bikin aku menjadi orang ketiga? Gara-gara kamu, aku disebut pelakor oleh orang-orang! Aku dari dulu paling benci perselingkuhan, tapi sekarang malah tanpa sadar aku jadi selingkuhan pacar orang lain. Aku malu sama diri aku sendiri!"

"Sayang, a-aku...." Bagus seperti hendak membela diri. Namun dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat melihat kesedihan yang teramat dalam di mata Safina.

"Cukup! Nggak perlu jelasin apa-apa karena itu nggak akan mempengaruhi apa pun. Semuanya udah jelas. Aku juga udah tahu kalau selama ini kamu nggak pernah lembur, tapi kamu jalan sama pacar kamu. Bodoh banget ya aku. Aku percaya gitu aja dan setiap kamu kerja aku bahkan nangis karena nggak ada kamu yang nemenin kamu tidur. Aku segitu kangennya. Aku selalu doain kamu semoga di tempat kerja kamu baik-baik aja. Tanpa aku tahu kalau di luar sana kamu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Kamu udah ngapain aja sama dia?"

"Sayangku, dengerin aku. Ini semua bukan salah kamu. Aku akui aku yang salah. Ini sama sekali bukan kesalahan kamu, sayang."

"Jangan panggil aku kaya gitu lagi. Aku nggak sudi! Bahkan kamu memanggil dia dengan panggilan yang sama, kan? Mas, apa sih maksudnya semua ini? Dia itu cantik, jauh lebih cantik dari aku dan aku yakin dia juga baik, dia sayang sama kamu. Kenapa kamu malah nyakitin dia dengan menikahi aku? Kamu nggak mikirin gimana hancurnya perasaan dia setelah tahu semuanya?"

"Kamu emang perempuan yang sangat baik. Setelah tahu semuanya, kamu masih mikirin perasaan dia. Padahal dia adalah perempuan yang diem-diem menjadi pacar suami kamu."

"Aku itu juga perempuan, Mas. Aku ngerti gimana sakitnya perasaan dia. Kamu jahat banget ya duain cewek yang udah nemenin kamu dari nol."

Bagus duduk dan menunduk. "Aku sadar dengan hal itu, tapi kamu tolong dengerin penjelasan aku dulu. Aku emang sayang banget sama Marya. Aku sebelumnya nggak pernah berniat menyakiti dia sedikit pun atau ninggalin dia, tapi ibu nggak pernah merestui hubungan kami. Ibu selalu menolak setiap aku berniat membawa Marya ke rumah. Ibu nggak mau aku pacaran sama gadis kota. Ibu mau punya menantu yang sama-sama dari desa, yang ibu kenal, dan deket rumahnya. Ibu takut kalau aku menikahi gadis kota, dia nggak akan bisa menerima kehidupan sederhana kami. Ibu pun selalu meminta aku putus dengan Marya dan nyari jodoh yang rumahnya deket. Dari situlah aku berpikiran untuk deketin kamu karena ibu kelihatannya suka dan cocok sama kamu. Ibu sering nyeritain tentang kamu. Ibu kagum banget sama kebaikan dan keramahan kamu. Kamu tahu kan kalau aku deket dan sayang banget sama ibu aku? Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaan pun walaupun itu harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri."

"Jadi maksudnya kamu menikahi aku cuma karena ibu? Bukan atas dasar cinta? Sebenarnya dia yang kamu cintai?"

"Iya, sayang. Awalnya emang gitu sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Kamu itu istri yang sempurna. Kamu sangat perhatian sama aku, kamu pengertian, kamu nggak pernah meributkan masalah waktu walaupun aku terus sibuk kerja, bahkan bohongin kamu kalau aku lembur. Kamu nggak egois. Kamu juga nggak pernah minta apa pun sama aku. Walaupun kamu terlahir dari keluarga kaya, tapi kamu sangat sederhana. Kamu beda banget sama Marya yang banyak nuntut aku ini itu, minta jalan ke sana kemari, marah-marah kalau aku sibuk kerja. Aku baru kali ini merasa bener-bener dicintai. Itu yang bikin aku akhirnya jatuh cinta dan sekarang aku nggak mau kehilangan kamu."

"Aku nggak peduli apa pun lagi, Mas. Aku udah merasa sangat bersalah karena menyakiti perempuan lain dan mengambil seseorang yang sangat dia cintai. Sekarang aku mau mengembalikannya ke dia."

"Apa maksud kamu, sayang?"

"Aku mau kita pisah. Kembalilah sama dia, Mas. Dia itu sayang banget sama kamu. Setelah dia tahu semuanya pun dia masih tetep sayang sama kamu dan nggak mau melepaskan kamu. Kalian udah sama-sama berjuang dari bawah. Aku cuma orang baru yang tiba-tiba dateng saat kamu udah sukses. Jadi tolong tinggalin aku."

"Enggak, sayang. Aku nggak akan mau kehilangan kamu. Aku sayang banget sama kamu."

"Kalau gitu apa kamu bisa mutusin dia?"

Bagus membisu.

"Nggak bisa jawab, kan? Nggak mau kan mutusin dia? Lalu apa selanjutnya? Kamu mau nikahin dia? Kamu tahu kan kalau itu akan lebih menyakitkan untuk aku dan dia? Udah lah, Mas. Biar aku yang pergi dari kisah cinta kalian."

Safina menghapus air matanya dan berlari keluar rumah. Bagus pun berusaha mengejarnya. Namun Safina semakin mempercepat langkahnya. Dia mengabaikan suara Bagus yang terus memanggil namanya hingga akhirnya suara klakson mobil mengejutkan Safina dan membuatnya berbalik badan. Cahaya lampu mobil yang tampak oleng menyorot tepat di tubuh Bagus. Dengan secepat kilat Safina berlari dan mendorong Bagus. Tabrakan pun tak dapat terhindarkan. Safina tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Teriakan Bagus pun menggema.

"Safina!!!"

Aku Bukan Pelakor [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang