Sesampainya di rumah, Safina terus dihantui rasa curiga. Dia meneguk segelas air putih untuk menenangkan diri. Dia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak berpikiran buruk tentang suaminya.
Belum sempat hatinya merasa tenang, tiba-tiba Safina dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Dia menghela napas, lalu bergegas membuka pintu.
"Assalamualaikum," sapa seorang lelaki yang berdiri di depan rumah Safina.
"Waalaikumsalam."
Safina mengamati lelaki berjaket hitam dan bercelana jeans di hadapannya itu. Karena berada di rumah sendiri, Safina takut kalau itu adalah orang jahat.
"Mbak, Bagusnya ada?"
Mendengar lelaki itu mengucapkan nama suaminya, Safina merasa tenang. Dia berpikiran mungkin saja itu adalah teman suaminya.
"Mas Bagus lagi kerja, Mas. Mas temennya, ya? Mari duduk, Mas."
Safina mengajak lelaki itu duduk di kursi depan rumahnya. Dia tidak mengajak lelaki itu masuk karena suaminya sedang tidak di rumah. Wanita itu memang selalu berusaha menjaga diri ketika suaminya tidak ada.
"Terima kasih, Mbak. Iya, saya Hendri, temannya Bagus. Mbak siapa? Terus sejak kapan Bagus pindah ke sini? Kok dia nggak kasih tahu saya ya. Saya aja tahu dari tetangga kontrakannya dia."
Wanita beriris mata cokelat itu mengernyitkan dahinya. Dia bingung mengapa teman Bagus tidak mengenalnya.
"Saya istrinya, Mas. Ini rumah saya dan Mas Bagus."
"Istri? Tega banget Bagus nikah nggak kabar-kabar."
"Mas Bagus nggak pernah cerita kalau dia udah nikah?"
"Enggak, Mbak. Padahal kami sering ketemu."
Lagi-lagi jantung Safina berdetak tidak teratur mendengar apa yang dikatakan Hendri. Safina sedih karena suaminya tidak memberitahukan statusnya sekarang kepada temannya.
"Oh ya, Mas ada perlu apa ke sini?" Safina berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Oh ini saya mau mengembalikan jaketnya Bagus. Malam Minggu itu kebetulan Bagus lewat, terus saya ajakin ngopi bentar. Eh malah jaketnya ketinggalan." Hendri memberikan jaket Bagus.
"Malam Minggu? Mas Bagus kan lembur, Mas. Mana mungkin kalian ngopi bareng."
"Lembur? Setahu saya udah lama Bagus nggak ambil lemburan lagi, Mbak. Dia kan kerja di pabrik mobil itu udah lama. Gajinya gede lagi. Tabungan dia aja udah ratusan juta. Buat apa lagi lembur. Temen saya namanya Fredi juga kerja di bagian painting sama kaya Bagus dan jadwal shift mereka juga bereng, katanya Bagus udah lama nggak nglembur lagi tuh."
Safina semakin bingung. Dia tidak mengerti mengapa banyak hal tentang suaminya yang dia tidak tahu.
"Mas nggak bohong, kan?"
"Buat apa saya bohong, Mbak. Nih saya ada foto waktu nongkrong sama Bagus malam Minggu itu." Hendri menunjukkan foto kepada Safina.
Safina tertegun. Berbagai pertanyaan berkeliaran dalam benaknya.
"Eh maaf ya, Mbak. Saya jadi banyak omong. Ya udah kalau gitu saya pulang dulu. Sampaikan salam saya buat Bagus, Mbak."
"Iya, Mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Wanita bertubuh mungil itu segera masuk rumah. Dia menumpahkan air mata yang berusaha dibendungnya sejak tadi. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini suaminya yang sangat dia percaya ternyata telah banyak berbohong.
**
Malam itu ketika tiba waktunya Bagus pulang kerja, Safina berpura-pura tidur di kamar. Dia merasa enggan untuk menyambut suaminya dengan manis seperti biasanya setelah fakta-fakta yang baru saja dia ketahui.
Rencana Safina hampir saja gagal karena tiba-tiba Bagus masuk dan memeluknya. Dia berusaha tetap memejamkan mata.
"Sayangku, udah tidur ya? Kok tumben udah tidur? Biasanya betah begadang."
Safina tidak menjawab.
Tidak ingin menyerah begitu saja, Bagus terus mencium kening Safina. Saat itu Safina merasakan sesak dalam dadanya. Akhirnya dia membuka mata.
"Kamu udah pulang, Mas?" tanya Safina dengan berusaha tersenyum.
"Iya, sayang. Apa kamu sakit?" Bagus memegang kening Safina.
"Enggak kok. Aku cuma ngantuk aja."
"Aku tahu. Pasti lagi badmood, ya? Biasanya kamu gitu kalau lagi datang bulan. Mentang-mentang lagi datang bulan, terus aku mau ditinggal tidur?" ucap Bagus sembari terus memeluk Safina.
Safina berusaha melepaskan pelukan Bagus. "Itu kamu tahu. Ya udah kamu cepetan mandi, terus makan. Udah aku siapin tuh di meja makan."
"Kamu udah makan, sayang?"
"Udah kok."
"Mau tidur lagi? Nggak mau nungguin aku?"
"Maaf ya, Mas. Kamu kan tahu kalau lagi datang bulan perut sama pinggang aku sakit dan mood aku juga nggak baik. Jadi aku mau tidur aja."
"Sakit ya perutnya, sayang? Mana yang sakit? Kalau dielus sama suami pasti sembuh." Bagus mengelus perut Safina.
"Udah nggak papa. Besok juga sembuh sendiri. Aku tidur lagi ya, Mas."
"Iya, sayangku. Selamat tidur, bidadari cantikku," ucap Bagus sembari mengecup lembut pipi Safina.
Begitu Bagus keluar kamar dan menutup pintu, Safina memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa akun media sosial suaminya. Selama ini dia selalu percaya kepada suaminya hingga tidak pernah stalking lagi setelah dia melakukannya saat akan menerima cinta Bagus.
Safina memulai aksinya dengan mengecek akun instagram Bagus. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati tidak ada foto dirinya yang diunggah oleh Bagus. Bahkan tidak ada satu pun caption yang menunjukkan bahwa Bagus sudah menikah. Dia seperti masih seorang lelaki single. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa foto-foto Bagus dan mantannya, Sari Maryatun masih terpajang lengkap di feed instagram Bagus. Jika sebelum menikah Safina bisa memaklumi hal tersebut, kini tidak lagi. Safina merasa cemburu dan sakit hati karena Bagus terlihat seolah masih mencintai mantan kekasihnya dan enggan mengakui dirinya sebagai seorang istri.
Safina menangis sesenggukan. Dia masih tidak percaya bahwa suaminya yang terlihat begitu menyayanginya tega membohonginya. Bahkan Bagus seperti menyembukan status pernikahannya. Namun Safina juga tidak ingin berpikiran negatif dan salah mengambil langkah. Dia ingin mencari tahu terlebih dahulu kebenaran tentang suaminya.
Usai memeriksa akun instagram Bagus, Safina segera menghapus air matanya dan kembali berpura-pura tidur sebelum Bagus masuk ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomantikDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)