Sesuai permintaan Marya, akhirnya Bagus pun menikahi perempuan yang sudah dipacarinya selama empat tahun itu. Mereka melaksanakan akad nikah di rumah Bagus pada malam hari sehingga para tetangga tidak tahu. Yang hadir hanyalah sepupu Marya dan beberapa teman mereka. Marya pun tersenyum bahagia karena akhirnya bisa memiliki Bagus seutuhnya.
Saat sudah berdua di dalam kamar, Bagus terus merenung. Dia terus bertanya pada hatinya sendiri apakah yang dilakukannya ini benar atau salah. Marya yang mengamati kegelisahan Bagus pun mendekat dan memeluk Bagus.
"Sayang, kenapa sih? Kok bengong? Ini kan malam pertama kita. Harusnya bahagia dong. Bayangin deh. Kita udah pacaran lama, melewati banyak hal sama-sama, susah seneng sama-sama, dan sekarang kita resmi jadi suami istri."
"Entahlah, Marya. Aku bingung. Aku merasa ini tuh salah."
"Kok Marya lagi sih? Kamu udah nggak pernah lagi manggil aku Sari. Padahal kan itu panggilan kesayangan kamu buat aku. Sayang, apanya yang salah sih? Ini udah keputusan yang paling tepat. Dengan begini kamu adil. Kamu nggak ninggalin aku atau pun istri kamu. Bayangin, setelah ini kita bertiga bisa hidup sama-sama dengan bahagia. Bukannya itu yang kamu mau?"
"Aku emang mencintai kalian berdua, tapi bukan gini caranya."
"Udah deh kamu nggak usah pikirin apa-apa dulu. Ini tuh malamnya kita berdua. Yuk."
"Maaf. Aku nggak bisa malam ini. Aku mau ke rumah sakit."
"Maksudnya kamu mau ninggalin aku di malam pertama kita?"
"Cuma bentar kok. Aku akan balik lagi. Aku belum tenang kalau belum ketemu Safina."
Bagus mengambil jaketnya dan bergegas keluar menuju rumah sakit. Sementara Marya mendengus kesal karena terpaksa harus menunggu Bagus pulang dari rumah sakit baru dia bisa menghabiskan waktu bersama Bagus.
Bagus membuka pintu secara perlahan. Dia menangis saat melihat istrinya masih terbaring tak sadarkan diri. Dia pun langsung bersimpuh di hadapan Safina.
"Sayangku, maafin aku. Aku udah khianatin kamu lagi. Aku melakukan ini karena aku nggak mau kehilangan kamu dan Marya. Aku harap suatu saat kamu bisa mengerti. Cepat bangun ya, sayang."
Bagus mendaratkan sebuah kecupan di kening Safina sebelum akhirnya pulang. Ketika Bagus telah keluar, tiba-tiba air mata Safina menetes. Padahal dia masih belum sadarkan diri. Seolah Safina mampu mendengarkan perkataan Bagus.
**
Lebih dari seminggu menunggu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Bagus tiba. Safina mulai menggerakkan tangannya. Ketika itu Bagus sedang tertidur sambil duduk dan menggenggam tangan Safina. Bagus yang merasakan pergerakan itu pun langsung terjaga. Dia memandangi istrinya sembari tersenyum.
"Sayangku, kamu bangun? Sayang, aku tahu tangan kamu bergerak. Ayo bangun, sayang."
Secara perlahan, sedikit demi sedikit mata Safina terbuka.
"Sayang, akhirnya kamu membuka mata. Aku udah lama nunggu kamu."
Perlahan Safina menoleh ke arah Bagus. Dia menatap Bagus serius. Lelaki itu pun mengeratkan genggamannya.
"Sayangku, jangan banyak gerak dulu ya. Biar aku panggilin dokter."
Ketika Bagus akan melangkahkan kakinya keluar, tangan Safina menahannya. Membuat langkah Bagus terhenti. Dia memejamkan mata dengan rasa khawatir kalau Safina akan marah padanya lagi atau bahkan akan menangis seperti sebelum kecelakaan. Rasanya dia sudah tidak sanggup melihat wanita yang sangat dicintainya menangis lagi. Dengan rasa takut, Bagus berbalik badan. Dia menatap Safina yang seperti hendak menggerakkan bibirnya, berusaha mengatakan sesuatu.
Hayoo Safina mau ngomong apa😬
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)