Chapter 34. Romantisme di Pantai Pangandaran

1.5K 80 0
                                        

Mana nih yang dari Pangandaran😁

Safina duduk menatap pantulan dirinya di cermin. Sapuan tipis eyeshadow menghiasi kelopak matanya yang biasanya tak pernah tersentuh make up. Maskara waterpoof juga telah memperindah bulu matanya yang memang sudah lentik tanpa bulu mata palsu ditambah lipstik matte warna nude yang menambah kecantikan wajahnya tanpa berlebihan. Safina siap untuk menikmati hari keduanya di Pangandaran bersama sang suami. Dia dan suaminya bergandengan tangan dengan mesranya dari kamar hingga sampai di lobby.

"Udah siap, sayangku?" tanya Bagus.

"Siap dong," jawab Safina penuh semangat.

"Yuk."

Kedua sejoli yang seolah tengah dilanda kasmaran itu meninggalkan hotel dan berboncengan motor dengan mesra menuju pantai.

Letak hotel yang sangat dekat dengan pantai membuat Safina dan sang suami tidak butuh waktu lama untuk tiba di Pantai Barat Pangandaran. Dari sana mereka naik perahu untuk menuju Pantai Pasir Putih yang letaknya tak jauh dengan Pantai Barat, terpisah oleh tebing batu karang. Sebenarnya ada dua jalur yang bisa dilewati, yaitu jalur laut dengan mengendarai perahu dan jalur darat dengan melewati gerbang barat Cagar Alam Pananjung. Mereka berdua pun lebih memilih masuk lewat jalur laut. Meski perjalanan menuju Pantai Pasir Putih hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit, tetapi Safina dan Bagus begitu menikmati kebersamaan mereka di atas perahu sembari menatap lautan yang menyegarkan mata.

Tiba di Pantai Pasir Putih, Bagus membantu Safina turun dari perahu dengan mengulurkan tangannya. Hingga turun dari perahu, Safina tetap menggenggam tangan suaminya itu, seakan tak ingin dilepasnya sedetik pun. Dia mengedarkan pandangan mengamati indahnya pantai tempatnya berpijak. Air laut yang begitu jernih memungkinkannya melihat biota laut di dalamnya. Area bibir pantai pun cukup luas dan bersih. Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata.

"Gimana, sayang? Suka nggak?"

"Suka, sayang. Semenjak kecelakaan itu aku kan belum pernah keluar rumah. Apalagi lihat pantai. Jadi aku seneng banget bisa di sini sama kamu."

"Ya udah yuk kita jalan-jalan sambil ngobrol. Nanti sore kita ke pantai lagi lihat sunset."

"Balik ke pantai ini lagi?"

"Bukan, sayang. Kita ke Pantai Batu Hiu. Di sana bagus banget tempatnya buat lihat sunset. Pantai Batu Hiu itu sering disebut tanah lotnya Jawa Barat lho, mirip sama yang di Bali. Karena aku belum sempet ajak kamu ke Bali, kita ke Pantai Batu Hiu aja dulu, ya? Kapan-kapan deh aku ajak ke Tanah Lot beneran di Bali."

Safina membalas dengan anggukan dan senyuman.

"Kamu mau berenang nggak, sayang?"

"Aku takut, sayang."

Bagus terkekeh. "Kamu biarpun amnesia tetep aja takut berenang, ya. Kirain kamu jadi berani."

"Emang dulu aku nggak bisa berenang, ya?"

"Enggak. Makanya rumah kita nggak ada kolam renangnya. Kasihan nanti kalau aku lagi kerja terus kamu kecebur gimana?"

"Aneh ya, ketakutan dan kesukaan aku tetep nggak berubah ternyata. Sayang, kayanya kamu salah deh ngajak aku pantai. Kalau aku nggak bisa berenang, kita mau ngapain coba?"

"Tenang aja, sayang. Tanpa berenang kita tetep bisa menikmati indahnya pantai dan tetep bisa romantis. Bentar, ya."

Safina memegang tangan Bagus dengan erat. "Kamu mau ke mana?"

"Tunggu bentar. Nggak lama kok."

"Janji ya nggak lama?"

"Iya, sayangku."

Aku Bukan Pelakor [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang