Harap tahan emosi baca ini😂
Bagus membawa Safina pulang begitu keadaannya sudah membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun dia bukannya membawa Safina ke rumah mereka, melainkan ke rumah baru yang dibelinya. Hal itu dia lakukan agar tidak ada tetangga yang mengenalinya yang dapat memberitahu kebenaran kepada Safina. Meski rumah baru mereka lumayan jauh dari tempat kerja Bagus, tetapi Bagus terpaksa harus memilih rumah tersebut.
"Welcome home, sayangku." Bagus merangkul Safina saat masuk ke rumah karena Safina masih sedikit lemah.
Safina mengedarkan pandangan ke rumah asing tersebut.
"Ini rumah kita?"
"Iya, sayang. Yuk aku tunjukin kamar kita."
Sementara itu Marya mengikuti dari belakang dengan wajah kesal karena harus melihat suaminya mesra dengan perempuan lain.
Saat sampai di kamar, Bagus membantu Safina berbaring dan menyelimutinya.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, sayang. Kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil aku atau Marya."
Safina menahan tangan Bagus. "Aku takut. Tempat ini asing."
"Sayang, ini rumah kita. Bukan tempat asing. Aku sama Marya kan ada di sini. Aku nggak akan ke mana-mana kok. Kamu tidur ya sekarang."
Safina membalas dengan anggukan. Begitu dia mulai memejamkan mata, Bagus keluar bersama Marya.
Saat tiba di ruang tamu, Marya menatap Bagus tajam. "Sayang, ini kenapa sih kita pake acara pindah rumah segala?"
"Kan kemarin udah aku jelasin alasannya, sayang. Kamu mau semua rencana kita terbongkar terus kamu jadi bahan gosip tetangga? Enggak, kan?"
"Ya tapi kan aku lebih suka rumah lama kamu sama Safina. Warnanya tuh biru, kesukaan aku. Ini apaan, hijau."
"Emang ya kedua istriku itu kompak banget. Sama-sama penyuka warna biru. Sayang, kan lebih gede rumah yang ini. Udah yang penting di sini kita aman. Lagian kalau di rumah lama, nanti Safina cepet balik lagi ingatannya. Kenangan aku sama dia di rumah itu kan banyak. Kamu denger sendiri kan kata dokter kalau dia cuma akan kehilangan ingatan untuk sementara waktu?"
"Ya udah deh. Inget ya, mulai hari ini dan seterusnya kamu harus jadi suami yang adil. Aku nggak mau mentang-mentang dia lagi sakit kamu jadi manjain dia terus dan jadi nggak perhatian sama aku. Aku bakalan pergi dari sini kalau kamu lebih sayang dia daripada aku."
Bagus memeluk Marya dan membelai kepala istrinya itu dengan lembut. "Manja banget sih istriku ini. Tenang, aku akan adil sama kalian. Kalau perlu aku akan lebih manjain kamu. Kamu kan dari dulu selalu jadi kesayangan aku."
"Bener ya, sayang?"
"Iya, sayangku." Bagus memberi kecupan di pipi Marya untuk meyakinkannya.
Marya tersenyum puas. "Oke aku percaya. Sayang, besok kita shopping ya? Udah lama kamu nggak nemenin aku belanja."
"Sayang, kan Safina baru aja keluar dari rumah sakit. Masa dia mau kita tinggal sendiri."
"Tuh kan. Baru aja diomongin. Masa lebih mentingin Safina. Kata dokter kan dia udah baikan. Lagian masa ditinggal bentar aja nggak bisa. Please ya, sayang."
"Ya udah deh iya. Apa sih yang enggak buat kamu."
Marya mempererat pelukannya. Dia senang setiap kali Bagus mau menuruti keinginannya.
**
Malam itu untuk pertama kalinya Safina, Bagus dan Marya makan malam bersama dalam satu meja makan. Bagus merasa senang melihat kedua istrinya bisa duduk bersama tanpa salah satu harus terluka. Dia pun berusaha memanjakan kedua istrinya dengan mengambilkan nasi dan lauk ke piring mereka berdua. Dia juga bergantian menyuapi istrinya. Marya yang begitu manja selalu ingin didahulukan. Sementara Safina yang masih merasa bingung hanya bisa pura-pura tersenyum dengan suasana yang baginya terasa janggal.
"Mas, Mbak, aku ke kamar duluan ya."
"Lho, kok nggak dihabisin sayang?"
"Udah kenyang, Mas. Oh ya nanti kalian tinggalin aja piring sama gelasnya di dapur. Biar nanti aku yang nyuci."
"Nggak perlu, sayangku. Kamu masih butuh banyak istirahat. Biar aku aja yang nyuci."
"Ya udah. Makasih ya, Mas. Aku permisi dulu ya, Mbak."
"Iya, Saf," jawab Marya.
Saat sudah naik ke lantai dua, Safina tidak langsung masuk ke kamar. Dia memperhatikan Bagus dan Marya sesaat. Dia melihat mereka berdua tampak mesra, bercanda dengan bahagianya. Wajahnya menunjukkan kebingungan dan kesedihan yang tengah dirasakannya.
"Apa benar yang diceritakan Mas Bagus dan Marya? Kenapa aku tega jadi istri kedua sedangkan di sana ada suami istri yang begitu harmonis? Kenapa aku tega menjadi orang ketiga di antara mereka? Mbak Marya pasti orang yang sangat baik, makanya dia mengizinkan Mas Bagus menikahi aku. Seperti apa sebenarnya Safina yang dulu? Kenapa aku nggak inget apa pun?" Safina menitikkan air mata sembari terus menyalahkan dirinya sendiri.
Di kamarnya, Safina kesulitan untuk tidur. Dia terus dihantui tanda tanya akan kenyataan yang harus dia hadapi. Dia merasa semuanya salah dan tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Tiba-tiba Bagus pun datang menghentikan lamunannya.
"Sayangku, kok belum tidur?" Bagus duduk di samping Safina dan mengusap kening istrinya itu.
"Aku belum bisa tidur, Mas."
"Kenapa? Masih merasa asing ya sama rumah ini? Sini aku temenin biar kamu bisa tidur."
"Nggak usah, Mas. Kamu tidur aja sama Mbak Marya. Dia pasti capek kan setiap hari nungguin aku di rumah sakit. Kalian juga pasti jarang ada waktu bareng gara-gara aku. Harusnya kamu temenin dia sekarang."
"Tenang aja, Marya pasti ngerti kok kalau sekarang kamu jauh lebih butuh aku. Ya udah kamu pejemin mata kamu. Aku baru akan tidur kalau kamu udah tidur."
Safina mengangguk. Entah mengapa meski tidak mengingat Bagus, dia merasa begitu nyaman saat Bagus mengusap keningnya demi membuat dirinya cepat tidur. Rasanya seperti tangan itu tidak asing baginya. Tidak lama kemudian dia sudah tertidur nyenyak.
Bagus menyelimuti Safina, lalu berbaring di samping Safina. Dia memeluk istrinya sambil terus memandangi wajah cantik yang dirindukannya itu. Matanya seakan enggan terpejam.
"Akhirnya aku bisa tidur di samping kamu lagi, sayangku. Aku kangen banget sama kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)