Safina mulai berjalan menyusuri setiap spot foto yang ada di Bukit Sakura tersebut. Karena begitu terpesona dengan keindahan pemandangan di sana, dia sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi Bagus terus merekamnya dengan kamera. Dia baru menyadarinya setelah menengok ke belakang.
"Oh pantesan aja jalannya di belakang. Sibuk videoin aku? Fans berat Safina ya, Mas?"
"Iya, Mbak. Mau dong foto bareng, Mbak," canda Bagus.
Safina tertawa. "Boleh, ayo Mas."
Bagus pun menyalakan kamera depan. Mereka berusaha berpose mesra, tetapi itu malah membuat mereka tertawa beberapa kali sebelum akhirnya berhasil mengambil potret yang bagus.
"Gini ya kalau pengantin baru nggak pacaran dulu. Mau foto aja kaku," ujar Safina.
"Nggak papa. Malah lebih romantis kalau masih malu-malu gini."
"Mas, di sini banyak cewek lho. Kamu nggak mau lihat-lihat ke cewek di sekeliling kamu?"
"Enggak lah. Ngapain? Di depan aku aja udah ada bidadari yang super cantik. Dari tadi aja mata aku cuma fokus ke kamu. Aku kan videoin kamu dari tadi. Jadi mata aku nggak ke mana-mana."
Safina membalas dengan senyuman. Dia merasa beruntung memiliki lelaki yang setia seperti Bagus yang bahkan enggan mengalihkan pandangan darinya meski di sekeliling mereka banyak wanita cantik.
Safina terus memandangi indahnya kota Bandar Lampung dari atas jembatan. Dia senang bisa berada di tempat yang indah itu bersama lelaki yang dicintainya.
"Bagus ya Mas pemandangan dari sini."
"Iya, sayang. Kalau malem pasti lebih bagus lagi."
Sekarang giliran Safina yang merekam video kebersamaannya dengan Bagus. Namun saat dia menyalakan kamera depannya, tanpa sengaja dia merekam wajah bingung Bagus yang sibuk menatap layar ponsel. Padahal sedari tadi Bagus terus tersenyum bahagia. Namun kali ini terlihat kegelisahan di wajah suaminya itu.
"Mas, ada apa?"
Bagus tergemap. "Nggak papa, sayang. Eh mau videoin aku ya? Atau kita berdua? Yuk kita jalan sambil kamu videoin ya?"
Safina mengangguk. Dia berusaha menahan rasa penasarannya karena tidak ingin merusak momen bahagia itu.
Setelah lelah berkeliling, tiba saatnya untuk melakukan rencana mereka. Bagus dan Safina berganti pakaian untuk melakukan foto post-wedding di sana. Namun mereka tidak mengajak tukang foto khusus. Bagus hanya meminta tolong kepada salah satu orang di sana untuk memotretnya bersama Safina.
Untuk yang pertama, pakaian yang dikenakan adalah hanbok. Baru selanjutnya mengenakan kimono. Mereka pun beberapa kali berpindah tempat mencari spot foto yang menarik. Setelah selesai, Bagus memberi upah kepada orang tersebut. Safina langsung tergelak.
"Kenapa ketawa, sayang?"
"Hemat banget ya foto post-wedding kita? Asal nyuruh orang aja."
"Sengaja biar lucu aja. Biar kamu selalu inget momen ini. Biarpun kesannya hemat, yang penting kebersamaannya, kan?"
"Iya, Mas. Makasih ya. Gini aja aku udah seneng. Aku juga nggak mau menghamburkan uang untuk sesuatu yang nggak penting-penting amat."
"Kamu hebat ya, sayang. Terlahir dari keluarga kaya, tapi bisa sesederhana ini. Nggak neko-neko orangnya. Pantes aja ibu demen banget sama kamu."
"Udah jangan muji aku gitu. Yuk ganti baju. Gerah pake kimono gini."
"Yuk, sayangku."
Usai berganti pakaian, Safina dan Bagus duduk sebentar menikmati live music yang ada di sana sembari makan camilan yang dibeli di minimarket sebelum mereka sampai di Bukit Sakura.
Tiba-tiba suara dering ponsel mengejutkan Bagus yang sedang asyik makan kacang.
"Siapa, Mas?"
"Ini si Nurdin. Aku angkat dulu ya."
"Iya, Mas."
Bagus bercakap-cakap dengan temannya untuk sesaat. Tidak lama mereka langsung menyudahi percakapan mereka. Bagus pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Safina. Namun tidak lama, ponselnya berdering lagi. Kali ini Safina melihat sebuah nomor tanpa nama yang menelepon suaminya.
Bagus menatap layar ponselnya sesaat. Lalu meletakkan ponsel itu kembali di meja.
"Lho kok nggak diangkat, Mas? Siapa?"
"Nggak tahu. Nggak penting. Aku nggak mau momen kebersamaan kita diganggu telepon-telepon nggak penting gini."
"Angkat aja nggak papa, Mas. Tadi waktu Nurdin yang nelpon kamu kan aku juga nggak masalah kamu angkat teleponnya. Siapa tahu penting. Gimana kalau itu dari teman kerja kamu terus mau bahas soal kerjaan?"
"Biarin aja. Lagian kan aku lagi cuti."
"Nggak mau coba diangkat dulu?"
"Enggak, sayang. Biarin aja. Kamu ada kartu yang nggak kepake?"
"Ada, Mas. Ini aku pasang, tapi udah nggak aku pake. Buat apa?"
"Buat dipasang di HP aku. Biar nggak ada yang nelpon lagi. Pokoknya aku mau hari ini khusus waktunya kita berdua."
Safina merasa aneh. Insting detektifnya pun timbul. Namun dia tidak ingin berpikiran negatif. Dia mencoba menuruti saja permintaan suaminya. Dia pun memberikan kartunya. Bagus langsung mencopot kartunya dan menggantinya dengan kartu yang diberikan Safina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Pelakor [END]
RomanceDisaat hati ingin menyepi, datang sosok tak terduga yang datang meminang diri. Meski tanpa diawali jatuh cinta, pernikahan Safina terasa sempurna dengan sosok suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. Namun, setelah rahasia besar suaminya terkuak...
![Aku Bukan Pelakor [END]](https://img.wattpad.com/cover/236568329-64-k65533.jpg)