Chapter 28. Kebohongan yang Merekatkan

2.6K 114 0
                                        

Ketika adzan subuh berkumandang, Safina terbangun dengan badan yang masih terasa lemah. Perlahan dia membuka mata.

"Selamat pagi, sayangku." Bagus menyambut dengan senyuman hangat.

"Pagi, Mas. Kamu udah bangun duluan."

"Iya, sayang. Aku kan mau menyambut pagi pertama kamu dengan senyuman dan teh hangat. Seperti dulu," ucap Bagus sembari menyodorkan secangkir teh.

Safina beringsut dari tempat tidurnya. Dia meneguk teh buatan suaminya. Lidah Safina seperti sudah terbiasa meminum teh buatan Bagus. Dia menyukainya.

"Makasih." Safina meletakkan gelas itu di meja.

"Wah langsung habis. Udah kangen ya minum teh bikinan aku? Yuk sekarang kita salat berjamaah, sayang. Marya udah nunggu di sana. Aku bantu kamu jalan, ya."

"Aku bisa sendiri, Mas."

"Kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Lagian dulu biasanya kamu lebih seneng digendong daripada jalan sendiri."

"Apa iya aku dulu semanja itu?"

"Enggak sih. Cuma pas kumat manja aja. Sekarang mau nggak aku gendong?"

Safina garuk-garuk kepala. Dia bingung harus menjawab apa. Dia masih merasa malu karena Bagus di matanya adalah orang asing.

"Nggak perlu jawab. Aku akan tetep gendong kamu."

Tanpa menunggu persetujuan Safina, Bagus langsung menggendongnya, membawa Safina ke kamar mandi. Padahal kamar mandi itu ada di dalam kamar Safina. Safina pun tersenyum.

Sesampainya di kamar mandi, barulah Bagus menurunkan Safina. Safina pikir Bagus akan meninggalkannya, tetapi lelaki itu setia menunggunya. Begitu selesai wudhu, Bagus langsung menggendong Safina lagi.

"Mas, turunin aku. Aku bisa jalan sendiri. Nanti dilihat Mbak Marya."

"Lho emang kenapa? Kalian kan sama-sama istriku. Dia nggak akan cemburu kok. Yuk kita terbang...."

Bagus bertingkah seperti sedang menggendong anak kecil hingga Safina tertawa dibuatnya. Kemesraan itu pun menimbulkan kecemburuan bagi Marya. Dia yang sudah menunggu di ruang salat sejak tadi dibuat terkejut dengan tingkah mereka berdua. Melihat kecemburuan yang tampak di mata Marya, Safina memaksa diturunkan. Bagus pun menurutinya. Safina langsung menunduk, takut kalau Marya akan marah. Namun madunya itu justru mengubah ekspresinya menjadi tersenyum.

"Safina, kok diam di situ? Ayo sini masuk. Udah waktunya salat."

"I-iya, Mbak," jawab Safina dengan terbata-bata.

Mereka bertiga pun melaksanakan salat subuh bersama. Terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, menutupi sebuah kebohongan besar di dalamnya.

Setelah selesai salat, saat hendak bersalaman dan mencium tangan Bagus, tanpa disengaja Safina dan Marya mengulurkan tangan mereka secara bersamaan. Manik mereka pun saling menumbuk. Sementara itu Bagus bingung harus menerima jabatan tangan dari siapa dulu karena pasti nanti akan menimbulkan kecemburuan salah satu istrinya. Akhirnya Safina mengalah dan menarik tangannya. Namun Bagus menahannya. Dia memilih Safina untuk mencium tangannya terlebih dahulu. Baru setelah itu Marya. Lagi-lagi hal itu membuat Marya cemberut. Namun Marya berusaha menutupi rasa kesalnya.

Usai melaksanakan salat subuh, Safina dan Marya bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mereka saling berbagi tugas.

Safina memperhatikan Marya yang tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.

"Mbak, mau masak apa?"

"Seafood. Kesukaan Mas Bagus."

"Oh jadi Mas Bagus suka seafood?"

"Iya."

"Aku bantu ya, Mbak?"

"Nggak usah. Kamu bikinin kopi aja. Mas Bagus biasa ngopi kalau pagi. Dua gelas, ya."

"Dua gelas? Buat Mas Bagus doang?"

"Iya lah. Dia mah nggak cukup segelas doang."

"Oh gitu. Iya, Mbak."

Begitu Safina keluar dari dapur, Marya menggerutu. "Ribet banget sih harus jelasin semuanya ke dia. Kalau bukan karena Mas Bagus aku nggak akan mau."

Sementara itu Safina yang membawa nampan dengan dua gelas kopi di atasnya bingung mencari di mana Bagus. Akhirnya dia menemukan Bagus duduk di depan rumah.

"Mas, ini kopinya."

Bagus menyambut dengan senyuman. Dia menyodorkan pipinya, membuat Safina agak menjauh.

"Ada apa, Mas?"

"Ciuman selamat paginya mana? Kopi doang mah kurang."

"Enggak ah. Malu."

"Kenapa malu? Kita kan suami istri."

"Maaf, Mas. Aku kan nggak ingat apa-apa jadi masih merasa canggung sama kamu."

"Iya, sayang. Aku ngerti kok. Nggak papa. Yuk duduk sini sama aku."

"Aku mau ke dapur, Mas. Banyak kerjaan."

"Oke, tapi seenggaknya tunggu sampai aku mencicipi kopi buatan kamu."

Bagus meneguk kopi buatan Safina. Dia memejamkan mata dan tersenyum. "Aku bener-bener kagum sama kamu, sayang. Walaupun kamu nggak ingat masa lalu kamu, rasa kopi buatan kamu tetap sama dan ini adalah rasa favoritku."

Safina membalas dengan seulas senyum. Dia pun beringsut dan kembali ke dapur.

Bagus tidak mau tinggal diam. Karena saat itu waktunya shift malam, dia jadi punya banyak waktu untuk membantu kedua istrinya menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah. Seperti yang dulu selalu dilakukannya bersama Safina. Bagus seakan kembali ke masa-masa romantis itu. Tanpa sadar beberapa kali dia tersenyum sendiri.

Sementara itu Safina yang sedang mengelap kaca tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Dia pun berhenti sesaat. Dia terus memegangi kepalanya. Berbagai bayangan buram muncul dalam pikirannya tanpa dia tahu apa itu sebenarnya. Hal itu dilihat oleh Bagus sehingga lelaki itu langsung berlari menghampiri istrinya yang tampak kesakitan.

"Sayang, kamu kenapa?"

"Aku nggak tahu, Mas. Kepalaku sakit dan ada bayangan aneh muncul dalam pikiranku. Apa itu ingatan masa lalu aku, ya?"

Wajah Bagus berubah menjadi tegang. "Sayang, mending kamu istirahat aja, ya. Mungkin kamu kecapekan. Aku anter ke kamar, ya."

"Enggak, Mas. Siapa tahu ada ingatan aku yang mau muncul."

"Kamu itu baru pulang dari rumah sakit. Nggak boleh banyak berpikir dulu, sayangku. Udah yuk aku anter ke kamar."

Safina menggeleng. Dia tetap ingin melanjutkan pekerjaannya untuk memancing bayangan akan masa lalunya muncul kembali. Namun tiba-tiba dia pingsan. Bagus panik dan segera menggendongnya. Marya yang melihat hal itu menghentikan langkah Bagus.

"Mau ke mana? Dia kenapa?"

"Tadi kepalanya sakit, terus dia pingsan. Dia harus istirahat. Kamu selesaiin semua pekerjaan rumah sendiri, ya?"

"Nggak bisa gitu dong, Mas. Enak banget dia mentang-mentang baru pulang dari rumah sakit terus kerjaannya tidur melulu."

"Marya! Kamu nggak lihat keadaan Safina lagi seperti apa sekarang? Udah besok-besok aku nggak mau Safina ngerjain pekerjaan rumah tangga lagi. Biar aku sama kamu aja."

"Lho kok gitu?"

"Aku dulu sama Safina selalu ngerjain semuanya sama-sama setiap aku shift malem. Tadi bayangan itu muncul di pikirannya dia. Kamu mau ingatan Safina cepet kembali? Udah nggak usah bawel. Aku mau bawa Safina ke kamar."

"Iya deh. Jangan lupa habis ini kita shopping. Jangan jadiin dia alasan lagi buat batalin acara kita. Nanti malem kan aku juga kerja. Jadi waktu kita cuma pagi ini."

"Nggak bisa sore aja? Masa kita mau tinggalin Safina sendirian."

"Terserah kamu lah! Yang penting harus jadi shopping. Aku mau mandi dulu. Sebel lihat kamu merhatiin dia terus."

Bagus menggelengkan kepala. Dia kesal dengan sikap Marya yang sama sekali tidak bisa pengertian.

Aku Bukan Pelakor [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang