[PART DI PRIVAT ACAK. FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
"Udah berani nakal ya lo!" Gara memelototkan matanya.
Acha meneguk salivanya susah payah dan nyengir. "Hehe, e-enggak lagi kok. Suer deh,"
Melihat tampang Gara yang begitu menyeramkan, mampu membu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini, Acha ditemani dengan jaket tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Ditemani dengan secangkir cokelat panas yang tadi sempat di buatkan oleh Gara. Acha sendirian di Villa, sedangkan yang lainnya sibuk dibawah membakar berbeque. Tadinya Acha ingin ikut, namun Gara malah melarangnya. Alasannya takut jika dia masuk angin dan ujung-ujungnya malah merepotkan Gara.
Acha hanya menghembuskan nafasnya. Ternyata sendirian di villa sungguh tidak menyenangkan.
Acha mengeratkan jaket ketubuh mungilnya, berniat untuk kebawah. Melihat beberapa teman-temannya yang tengah asik membakar berbagai macam makanan.
Saat ingin melangkahkan kakinya ke halaman belakang rumah, langkah Acha terhenti setelah melihat sesosok lelaki tengah duduk di pinggiran pantai. Dengan senyum kecilnya, Acha memilih untuk ikut duduk disamping lelaki itu.
"Kak Gara!" Acha menepuk pundak Gara. Membuat lelaki itu sedikit tersentak.
"Ngapain kesini?" Tanya Gara saat Acha sudah duduk disampingnya. Bukannya tidak suka, hanya saja lelaki itu takut bila Acha terkena angin malam yang akan berbahaya untuk kesehatan gadis itu.
"Acha bosen diatas. Lagian kak Gara nggak mau temenin Acha," adu Acha. Ia kesepian. Disaat orang lain malah asik bercanda ria, Acha malah disuruh menetap di villa sendirian.
"Yaudah deh terserah lo," pasrah Gara lalu kembali memandangi ombak pantai.
Acha menggosok-gosok kedua tangannya didepan dada. Udara diluar ternyata sangat dingin di banding yang ia pikirkan.
Gara menolehkan kepalanya kesamping. Dia berdecak. Melepaskan jaketnya dan memakaikannya ketubuh Acha. Walau Acha sudah menggunakan jaket, tak cukup membuat tubuh gadis itu menghangat.
Acha menatap Gara bingung. "Acha kan udah pake jaket. Kenapa dipakein lagi? Trus kak Gara pake apa?" Tanya Acha berturut-turut.
Gara menoleh, tetapi sedetik kemudian dia kembali fokus dengan ombak yang ada didepannya.
Acha mendengus sebal. "Kak Gara nggak kedinginan?"
Gara menggeleng. "Gue nggak mau lo sakit,"
Perkataan Gara mampu membuat hati Acha menghangat. Dia tersenyum tipis, "Kak Gara khawatir kan sama Acha?"
Gara terdiam. Menggelengkan kepalanya. "Nggak,"
Acha mengerucutkan bibirnya.
"Cuma gue nggak mau lo sakit, trus nyusahin gue."
Perkataan Gara lagi-lagi membuat Acha kesal setengah mati. Lelaki itu pandai membuat emosinya memuncak. "Ya udah kalau gitu. Acha mau balik ke villa aja," Acha bangkit dari tempat duduknya. Namun tangannya ditahan oleh Gara.
"Duduk,"
Acha memalingkan wajahnya kearah lain.
"Duduk Ca,"
Acha menghembuskan nafasnya. Kembali mendudukkan bokongnya disamping Gara.
Angin malam menerpa rambut Acha hingga mengenai wajahnya. Acha menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Pandangannya fokus ke langit yang tampak disinari oleh bintang-bintang yang tampak berkilau.
Gara tersenyum memandangi wajah Acha dari samping.
"Ca,"
Mendengar panggilan itu, Acha menolehkan kepalanya kesamping kesamping.
"Lo tau kan kalau gue sayang sama lo?" Tanya Gara. Sebenarnya dia tidak ingin membicarakan ini. Seolah bibirnya bergerak dengan sendirinya.
Acha mengangguk. "Acha tau,"
"Lo mau kan nurutin apapun permintaan gue?"
Acha mengangguk untuk kedua kalinya.
Gara tersenyum. Sedikit menggeser tempat duduknya. Menatap manik mata Acha lekat. "Do you want to kiss me?"
Acha membulatkan matanya. Segera dia menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya dan menggeleng. "Kak Gara apaan sih!" Mendorong dada Gara agar menjauh. Acha bukan berniat mengusir ataupun menolak. Hanya saja, waktu nya tidak tepat.
Gara menghembuskan nafasnya. Perasaan macam apa ini? Dia merasa sedikit jengkel saat Acha menolak permintaannya. Dan satu lagi, tidak biasanya dia meminta izin terlebih dahulu ke Acha karna cowo itu tau, Acha akan menolaknya.
Acha menggigit bibir bawahnya saat Gara mulai menjauhkan badannya. Dia takut cowo itu tersinggung.
"Kak Gara nggak marah sama Acha kan?" Tanya Acha sedikit berhati-hati.
Gara menggeleng kecil. Melempar kerikil ke laut hingga menghasilkan bunyi gemericik air.
"Emmm, Yes, I want to," cicit Acha. Dia menunduk, tak berani menatap wajah Gara karna kedua pipinya sudah berubah warna menjadi merah.
Gara menghentikan kegiatannya. Dia sedikit tidak percaya dengan keputusan Acha. "Ca gue-"
"Cepetan kak Gara! Sebelum Acha berubah pikiran,"
Gara tersenyum. Kedua tangannya merengkuh wajah Acha. Mendekatkan wajahnya ke wajah Acha, lalu mengecup bibirnya. Acha membulatkan matanya, sedikit terkejut karna Gara bukan hanya mengecup bibirnya, tapi sedikit memberi lumatan lembut di bibir mungilnya. Namun tak berlangsung lama, Acha justru membalas ciuman itu.
Gara tersenyum saat Acha membalas ciumannya, menarik tengkuk Acha agar memperdalam ciuman mereka. Acha melingkarkan tangannya ke leher Gara. Menikmati setiap kecupan yang diberikan cowo itu.
Malam ini, Acha merasa dibuat terbang setinggi-tingginya. Hingga lupa caranya agar kembali ke daratan. Acha senang, dan mungkin saja Gara merasakan hal yang sama. Tidak ada salahnya kan, toh mereka berdua sama-sama saling mencintai.
Ciuman itu dilakukan dengan ombak yang menemani mereka. Ombak, batu karang, dan beberapa ikan menjadi saksi adanya cinta diantara mereka berdua.