[PART DI PRIVAT ACAK. FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA]
"Udah berani nakal ya lo!" Gara memelototkan matanya.
Acha meneguk salivanya susah payah dan nyengir. "Hehe, e-enggak lagi kok. Suer deh,"
Melihat tampang Gara yang begitu menyeramkan, mampu membu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari Senin biasanya hari termager yang pernah ada. Harus mendengarkan ceramah panjang lebar dari bapak kepala sekolah sampai berjam-jam. Belum lagi suasana lapangan yang terik. Lengkap sudah penderitaan siswa siswi SMA Nusa Bangsa. Namun tidak ada yang berani mengeluh ataupun duduk, karna yang memberi ceramah didepan bukan bapak kepala sekolah melainkan Polisi yang sengaja datang kesekolah-sekolah untuk memberikan arahan tentang Narkoba.
Acha yang berdiri dibarisan paling depan hanya bisa merutuk dalam hatinya. Coba saja ia tidak pendek, pasti sekarang ia sudah berdiri di barisan paling belakang.
Tetes-tetes keringat mulai bercucuran di kening Acha. Teriknya matahari pagi membuat tubuh Acha bermandikan keringat. Terhitung dua jam sudah mereka berdiri di lapangan. Bukan hanya Acha yang merasa badannya basah, semua murid pun juga merasakan hal yang sama dengannya.
Acha menghembuskan nafasnya. Mengibaskan tangannya agar menghasilkan sedikit udara.
Acha mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan. Dilihatnya barisan kelas Gara. Acha tau cowo itu tidak akan pernah mengikuti upacara. Untuk berjaga-jaga saja, mana tau cowo itu khilaf.
Acha mendesah panjang saat kedua bola matanya tidak menangkap sosok Gara. Sudah dipastikan cowo itu tengah asik berkumpul bersama empat temannya yang lain di warung belakang sekolah. Tempat paling aman untuk bolos. Kebanyakan guru tidak mengetahui warung itu karna letaknya yang berada dibelakang sekolah. Apalagi belakang sekolah SMA Nusa Bangsa terkenal angker. Tidak ada satupun yang berani melewati belakang sekolah. Pengecualian untuk Gara dan teman-temannya.
"Saya akhiri dengan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,"
Semua murid bersorak girang saat polisi mengakhiri ceramahnya. Tidak berlangsung lama karna beberapa guru mulai menyuruh mereka kembali berdiri tegak karna sebentar lagi upacara akan segera selesai.
Setelah pembacaan doa dan penghormatan terakhir, semua murid baru diperbolehkan meninggalkan barisan.
Acha memegangi kedua lututnya. Melepaskan topi upacara dan mengibaskan topi itu kedepan wajahnya berharap dapat menghasilkan sedikit udara. "Untung Acha nggak pingsan,"
"Hay Ca," Acha terlonjak kaget saat bahunya di pukul dari belakang. Ia menolehkan kepalanya kebelakang.
"Mita??!!" Pekik Acha, ia langsung menubruk badan Mita dan memeluk teman nya itu dengan erat. "Mita kemana aja? Acha kangen tau,"
Mita terbatuk-batuk akibat pelukan Acha yang begitu erat. Dia meminta Acha untuk melepaskan pelukannya. Acha pun menurut dan mengeluarkan cengegesannya.