"Nyatanya berkeluh kesah pada diri sendiri jauh lebih baik, karena kadang kita tidak butuh solusi ataupun tanggapan, hanya perlu didengarkan."
**************
Mata itu menatap tulus sebuah foto gadis yang saat ini menguasai hati dan otaknya. Ia mulai mengelus foto itu dengan tangan kekar penuh lukanya. Bibir manisnya melengkung, menampilkan senyuman yang menunjukan dua arti, bahagia sekaligus perih.
"Harusnya dulu gue gak berharap lo sayang sama gue, Ra," lirih Regan.
Kejadian kemarin sangat amat memukul mental dan hati Regan. Tentang Syra yang kenyataannya begitu tidak memercayai dirinya. Manusia yang mati matian ia jaga dan ingin ia bahagiakan tidak sudi menyentuh Regan sedikitpun. Luka-lukanya semakin terasa sakit saat ia melihat bayangan kebencian dari sorot mata Syra.
Regan sadar, dan sangat mengakui bahwa sifat kerasnya dulu telah hilang ketika berada di dekat Syra sekarang. Entahlah, itu adalah teori yang bahkan Regan sendiripun sulit menjawabnya.
"Gue terlalu mengebu-gebu dalam mencintai lo, sampe gue lupa cara berhentinya." Regan terus mengeluarkan sesak di dadanya, nyatanya curhat pada diri sendiri lebih baik, karena kadang kita tidak butuh solusi ataupun tanggapan, kita hanya perlu didengarkan.
Regan menarik nafas panjang, membuangnya lembut dan pelan.
"Gue jatuh cinta berkali-kali sama lo, Syra."
Regan berusaha menutup matanya yang semalaman tidak kunjung terpejam, padahal ia merasa badannya telah remuk, semuanya terasa linu. Karena itulah ia memilih tidak berangkat ke sekolah, dan disinilah ia sekarang.
Di rumah mewah pemilik yayasan Airlangga, Kakek Granaga. Rumah 4 lantai, luasnya mencapai 5 hektar menjadikan rumah ini sering disebut istana. Regan memilih berada disini, setidaknya ia bisa beristirahat lebih baik, sekaligus menjernihkan otaknya yang seakan melayang dari tempatnya.
Regan menoleh ke samping kasurnya, tepatnya di atas meja nakas, ke sebuah ponsel yang sengaja ia matikan seharian. Regan hanya ingin tenang, tidak ada gangguan, walau sebenarnya ia sangat menahan untuk tidak memberi kabar pada Syra.
"Apa lo nyariin gue, Ra?" batin Regan.
Regan menggeleng kecil, menepis harapan yang semakin membuatnya gila. Ia beranjak dari kasur menuju dapur untuk membuat teh hangat. Regan mulai membuka pintu kamarnya, dan ketika itu juga langkahnya terhenti.
Badannya tiba-tiba kaku, ia mengerjap beberapa kali, berusaha untuk memastikan apa yang ia lihat di depannya ini nyata atau hanya hayalan.
"Ra?" ucap Regan dengan nada kaget.
Ya, Syra di disini sekarang, berdiri mematung di depan pintu kamar Regan. Bahkan ini sesuatu yang sulit Regan percaya.
"H-hai," sapa Syra ragu-ragu.
"Dari kapan disitu?" tanya Regan lagi.
"Tiga puluh menit-an," jawab Syra.
"Kenapa gak masuk?"
Pertanyaan Regan hanya dijawab oleh gelengan kecil oleh Syra. Sedari tadi Syra tengah bertengkar dengan hati, otak sekaligus mentalnya.
Tidak ada keberanian untuk masuk ke kamar Regan, melihat pria itu dengan kondisi seperti itu adalah sebuah hal memilukan untuk Syra.
"Dari mana kamu tau..." Regan menggantung ucapannya seakan berpikir.
"Arvin?" tebak Regan, pasti cowok itu yang telah memberitahu Syra tentang keberadaan Regan.
Syra menjawab dengan anggukan.
"Ayo masuk," kata Regan mempersilahkan, ia berbalik, kembali masuk ke kamarnya.
Syra diam, menatap Regan pasrah. Ia merasa Regan berbeda, dia ketus pada Syra. Hal itu semakin membuat Syra semakin merasa bersalah dan takut Regan tidak akan memaafkan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGAN'S
Teen Fiction-FOLLOW SEBELUM BACA :* Ketika cinta berujung malapetaka. Tentang Regan Xavier Granaga. Sang ketua perkumpulan penghancur kejahatan. Berpegang teguh pada semboyan "Brantas sampai tuntas". GANNESA! dan tentang Syra Panditha. Gadis yang membeci dunia...
