"Pepatah mengatakan, bermimpilah setinggi langit sampai kamu nabrak satelit."
***
Keheningan terjadi sangat lama antara dua insan yang telah larut dalam dimensinya masing-masing. Regan terlalu nyaman rebahan ditumpuan paha Syra. Ia menutup matanya, menikmati hembusan angin ditambah usapan lembut tangan Syra memanjakan kepalanya.
Sedangkan Syra hanya melakukan dua hal. Menatap Regan dan berpikir. Berpikir bagaimana bisa takdir menemukan ia dengan pria seperti Regan. Syra tak bisa menebak isi otak bahkan hati cowok itu, namun ia jelas bisa merasakan kasih sayang Regan untuknya.
"Makasih, ya." Kalimat itu keluar tanpa izin dari Syra, disertai senyum yang juga tidak ia rencanakan. Semua hal seakan refleks jika di dekat Regan.
Mata Regan terbuka pelan, kemudian lirikannya teralih kepada Syra. Ia mengadah, mengunci tatapannya dengan Syra.
"Makasih untuk?" tanya Regan.
Jujur, bila ditanya seperti itu Syra bingung menemukan jawabannya. Karena ia sendiri pun tak mengerti mengapa bibirnya mengatakan kalimat itu.
"Eum, engga tau. Pokonya makasih aja," jawab Syra kikuk.
Regan mengangkat satu alisnya seraya tersenyum kecil. Tangannya terangkat, menggapai pipi gadisnya, kemudian mengelusnya sehangat mungkin hingga Syra kehilangan ritme detak jantung normalnya.
"Kalau gitu makasih juga," seloroh Regan.
"Makasih untuk?" Kini giliran Syra yang dibuat bingung.
"Karena udah hadir di sini." Regan menuntun tangan Syra menuju dadanya, yang di dalamnya terdapat sebuah organ bernama hati.
Syra menahan nafasnya, ia terenyuh. Tatapan Regan begitu alami, sentuhannya sangat apa adanya, apakah itu adalah simbol ketulusan Regan pada Syra?
"Regan," panggil Syra bernada kecil.
"Iya sayang?"
Syra mengerutkan keningnya merasa keharmonisan jantungnya terganggu bila Regan memanggilnya seperti itu.
"Bisa panggil Syra aja enggak?" ucap Syra.
"Lho kenapa? Gue kan emang sayang elo."
"Ya tapi gak harus selalu panggil sayang juga."
"Terus manggilnya apa dong?"
Regan melirik Syra dengan mata jahil.
"Bunda?"
Mendengar itu, mata Syra terbuka lebar. Refleks tangannya menutup mulut nakal Regan.
"Jangan gitu, malu didenger orang."
Regan hanya terkekeh geli karena puas meledek Syra. Sedetik kemudian ia mengambil tangan Syra yang berada di bibirnya. Bukan dilepas, melainkan mengecup punggung tangan Syra sangat lama dan dalam.
Dan Syra tidak pernah merasakan disayangi laki-laki sebesar ini selain dari ayahnya. Namun dengan Regan, ia seolah menjadi wanita paling spesial di dunia. Mungkin ini terkesan berlebihan, tapi perlakuan Regan memang benar-benar manis dan tidak ada yang bisa mengelak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGAN'S
Teen Fiction-FOLLOW SEBELUM BACA :* Ketika cinta berujung malapetaka. Tentang Regan Xavier Granaga. Sang ketua perkumpulan penghancur kejahatan. Berpegang teguh pada semboyan "Brantas sampai tuntas". GANNESA! dan tentang Syra Panditha. Gadis yang membeci dunia...
