Langsung baca aja yuk!
________________________________
Regan segera keluar dari ruang rawat, diikuti Arvin, Syra dan Defri dari belakang.
Langkah mereka terhenti melihat gadis asing berdiri tepat di depan pintu.
"Gak ada yang salah," ucap gadis itu tiba-tiba. Kedua tangannya terulur kedepan, kepalanya tertunduk di depan Regan.
"Karena saya pelakunya."
Mata Syra menyipit. Ia merasa familiar dengan gadis ini. Otaknya berputar dengan cepat, berusaha mengingat siapa dia.
"Lo," pikir Syra. Gadis asing itu mengangkat kepalanya. Menatap Syra dengan takut.
"Iya, gue cucu nenek yang lo tolong," ucap gadis itu membantu mengingatkan.
Syra mengangguk, ia ingat semuanya sekarang. Mereka sempat bertemu di jalan tadi. Sangat tidak mungkin bagi Syra untuk percaya bahwa gadis malang ini pelakunya.
"Lo baik, Ra. Mau ngebelakangin urusan lo demi nyelametin nyawa Nenek gue. Tapi dengan bodohnya gue malah mau bunuh lo," ungkapnya penuh penyesalan.
"Nyadar lo bodoh?"
Semua mata tertuju pada Regan. Sudah dipastikan cowok itu sangat emosi sekarang. Ia menyorot tajam gadis di depannya.
"Ada salah Syra sama lo?" tanya Regan. Sebisa mungkin ia mengontrol amarahnya mengingat jika yang ia hadapi sekarang adalah wanita.
"Gu-gue terpaksa, Regan."
"Terpaksa jadi pembunuh?!" sulut Regan. Nada bicaranya mulai meninggi. "Jawab!"
Gadis itu memejamkan matanya. Ketakutan menjalari aliran darahnya.
Pipinya mulai basah dengan air mata, membuat hati lembut Syra tidak tahan melihatnya.
Syra meraih satu tangan Regan yang terkepal kuat. Mengusapnya pelan, memberi ketenangan pada cowok itu, dan mencegah agar Regan tidak terlewat batas.
"Regan, ngomongnya baik-baik," peringat Syra.
"Ngomong baik-baik nggak pantes buat orang yang gak pernah ngehargain kebaikan." Mata Regan kian menajam. Menggerogoti mental gadis itu.
"Gan, gue mohon." Syra mengeratkan gengamannya.
Regan melirik tangan Syra. Sentuhan Syra mentransfer energi baik untuk Regan, hingga ajaib emosi Regan sedikit mereda. Rasa cintanya pada Syra membuat Regan tak bisa munafik, ia selalu ingin menuruti keinginan gadisnya.
"Gapapa,kali-kali receh. Gak bakal meninggoy," batin Syra. Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan adegan romantis. Tapi yaudahlah, lumayan bikin Regan tambah sayang. Pede, skip.
Lirikan Regan berpindah ke Arvin. Cowok itu selalu terlihat tenang tanpa ekspresi. Seakan Indra perasanya telah beku bersama sikapnya.
"Vin," panggil Regan memberi kode agar Arvin yang mengintrogasi gadis ini. Karena bukan keahlian Regan bisa bicara baik pada saat ia sedang emosi. Hanya Arvin satu-satunya orang yang bisa melakukan itu.
Arvin mengangguk. Dengan tenang ia melangkah mendekati gadis itu.
"Siapa nama lo?"
Gadis itu terhenyak sebentar mendengar suara berat nan lembut Arvin. Sangat berbeda dengan Regan.
"Novi," jawabnya.
"Tadi lo bilang terpaksa nyelakain Syra," ucap Arvin dan di jawab anggukan oleh Novi.
"Siapa yang maksa lo? Dan apa yang dia pertaruhkan sebagai jaminan?"
Sekali lagi, Novi dibuat tercengang.
Pertanyaan Arvin benar-benar diluar dugaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGAN'S
Novela Juvenil-FOLLOW SEBELUM BACA :* Ketika cinta berujung malapetaka. Tentang Regan Xavier Granaga. Sang ketua perkumpulan penghancur kejahatan. Berpegang teguh pada semboyan "Brantas sampai tuntas". GANNESA! dan tentang Syra Panditha. Gadis yang membeci dunia...
