Matahari bersinar cerah hari ini, menampilkan binaran cahaya nya dari balik celah jendela besar itu. Yeri yang sudah berkemas sedari subuh tadi sebab ia yang terbangun lebih awal, mengingat tadi malam usai pertengkaran dengan adiknya yang keras kepala itu.
Yeri tak habis pikir dengan Hana yang masih mau berpacaran dengan pria itu, pria yang pernah tertangkap basah oleh Yeri bahwa pria itu sedang berciuman dengan sahabatnya sendiri. Pria yang seperti itu yang akan suka memainkan perasaan gadis-gadis sasarannya, Yeri jadi tidak suka dengannya.
Yeri merapihkan kain selimut yang tertempel di tubuh adiknya itu dengan saksama sesekali melirik kearah wajah Hana, mengingatkan Yeri pada seseorang yang pernah ditemuinya, namun entahlah Yeri juga tidak begitu mengingat persis.
Gadis Kim beralih pada selang infus sang nenek. Mengingat bahwa neneknya dirawat jauh lebih baik hari ini dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, padahal Yeri sendiri belum menyetor dana harian pengobatan sang nenek-sepertinya Yeri akan membayarnya nanti sebelum berangkat bekerja.
"Hei, Hana, bangunlah, kau tidak pergi ke sekolah eoh?"
Yeri menoel pipi sang adik dengan gerakan pelan. Tidak ada pergerakan dari sang empu melainkan Yeri yang jatuh tersungkur sebab tangan Hana yang bergerak mendorongnya menolak.
"Aish anak ini! Yasudah lah, aku berangkat duluan saja, dasar."
Yeri memungut tas sampingnya yang ikut tersungkur ke lantai, menegakkan badannya sebelum berlalu meninggalkan kamar rawat sang nenek.
Tak lupa Kim Yeri menyetel alarm di ponsel Hana supaya dia tidak kesiangan lagi ke sekolahnya.
Setelah beberapa langkah Yeri meninggalkan ruangan sang nenek, terdengar suara alarm hasil setelan Yeri, gadis itu sengaja menyetelnya hanya beberapa menit sebelum ia benar-benar melangkah pergi.
Aiyaiya...
"Nghh.."
Hana meliukkan badannya diatas busa tipis empuk itu sebagai alasan tidurnya. Banyak terusik sebab alunan suara alarm yang tepat berada di dekat telinganya.
"Aish! Berisik!!"
Aiyaiya si Hana makan petai/ *Bunyi alarm hasil setelan Kim Yeri. (Bunyinya sama seperti mainan telepon Barbie*fyi)
"HEI!! KIM YERI!!!!"
"DASAR! KIM YERI SIALAN!!"
***
Yeri berjalan sembari cekikikan, tak sadar bahwa dirinya sudah dilihati oleh banyak orang namun Yeri tak begitu memperdulikannya, gadis ini merasa puas usai mengerjai adiknya yang sulit untuk dibangunkan dari tidurnya itu, lagi pula Yeri juga berniat baik supaya Hana tidak terlambat lagi pergi ke sekolahnya, bisa-bisa Yeri akan terpotong jam kerjanya sebab harus memenuhi surat panggilan dari sekolah adiknya karna sering datang terlambat, jangan sampai itu terulang lagi.
Langkah gadis Kim tertuju pada meja administrasi rumah sakit, berhenti dan berdiri disana, bertanya mengenai biaya sang nenek.
"Maaf nona, sepertinya biaya perawatan nenek anda sudah dilunasi penuh oleh seseorang. Dan juga, Minggu depan nenek anda sudah bisa melakukan pembedahan pengangkatan kanker."
Yeri menatap tak percaya usai mendengarkan penuturan sang suster yang berada didepannya itu, seluruh penuturan itu membuat Yeri ingin menjatuhkan air matanya, siapa orang yang sudah berbaik hati ingin membayar seluruh tagihan perawatan sang nenek bahkan sampai pada biaya pembedahan.
"Kau, kau tidak bercanda, kan?" Yeri menekankan pertanyaan nya pada seorang suster yang ada didepannya itu, suster itu menggeleng pasti.
Yeri tak mampu berbuat apapun disana, gadis itu bertanya kepada sang suster siapa orang yang sudah mau membantu biaya perawatan sang nenek. Namun jawaban dari sang suster membuat Yeri semakin penasaran dan ingin segera mengucapkan terimakasih kepada orang tersebut.
"Maaf nona, tapi orang itu tidak mau disebutkan identitasnya."
Yeri tertohok mendengar penuturan dari sang suster, manakala Yeri yang sudah terlambat pada jam kerjanya, sepertinya orang baik itu berada tak jauh dari kehidupan Yeri, yasudah lah Yeri sudah terlambat, nanti Jungkook akan mencarinya dan mengamuk.
"Habislah, ini sudah pukul tujuh."
***
"Hah, hah..
Yeri berlarian disekitar lorong rumah sakit-tepatnya menuju kamar rawat Jungkook yang letaknya berada di ujung lorong, dan itu membuat Yeri semakin memakan waktu untuk mengejar kesana.
Pintu putih besar itu dibuka menampilkan seorang namja yang masih pulas dengan dengkuran halusnya yang cukup merdu di pendengaran Yeri, sepertinya pria ini nyenyak sekali, untung saja ia sama seperti Hana yang hobi tidur bahkan sampai pukul sebelas.
"Aigo, untungnya kau masih terlelap."
Yeri menyerukan nafas lelahnya, melangkahkan kakinya pada sofa disudut ruangan, seperti biasa yang rutin ia lakukan jika memasuki ruangan lebar ini, Yeri akan mendudukkan dirinya disana dan meletakkannya tas sampingnya bersamaan.
Mendesah lelah mengingat dirinya yang belum menyiapkan sarapan Jungkook dan harus bergegas mengambilnya di dekat cafetaria rumah sakit yang jaraknya, oh astaga sebelumnya Yeri sudah pernah hampir pingsan akibat berlarian menuju cafetaria tanpa menggunakan bantuan apapun.
"Aku sudah sarapan. Kau terlambat lagi."
Suara itu berhasil mengangetkan Kim Yeri yang masih menengadah memejamkan matanya. Seketika melotot dan melirik kearah sumber suara.
"J-Jungkook? Kau sudah bangun?"
***
I need your vote ಥ‿ಥ
KAMU SEDANG MEMBACA
PREDESTINATED
FanfictionSudah menjadi takdir Yeri saat bekerja di rumah sakit itu. Namun, ini bukanlah perkara mudah. Seorang suster di sebuah rumah sakit yang harus jatuh cinta kepada pasien nya. Tetapi, ini hanya settingan. Hingga Yeri mengaku bahwa benar-benar mencintai...
