Noji Mothagetneungeol

140 22 1
                                        

Dengan nafas gusar dan langkah yang tertatih setelah lelah mengejar dua orang paruh baya yang mirip sekali dengan orang tua kandungnya, akhirnya gadis itu menyerah sambil membungkukan punggung kedua tangannya bertopang di lutut.

"Haah.. haah.. Kemana mereka? Kenapa hari ini semua orang berjalan cepat?" Hana yang ngos-ngosan tak berhenti mengoceh sambil mengatur nafas.

Setelah nafasnya kembali teratur Hana melanjutkan langkahnya menuju salah satu lorong rumah sakit yang berasal dari intuisinya bahwa keberadaan orang yang mirip dengan ayah dan ibunya itu ada disana.

Dan dugaan itu benar, dua orang yang ia lihat di parkiran tadi kini ada di depan matanya, tampaknya berbelok arah memasuki ruangan yang bertuliskan dokter, langkah Hana terjebak tidak mungkin kan jika ia juga ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.

Kehabisan akal gadis itu memilih untuk duduk di sekitaran ruangan tersebut alih-alih hanya berduduk ria ingin menetralkan nafasnya namun kedua maniknya justru menangkap jelas keberadaan seorang pria jakung yang selama ini selalu menjadi musuh bebuyutan karena mengalir gen dan darah yang sama di masing-masing tubuh mereka.

"Jungkook Oppa?!" Pekik Hana bangkit dari duduknya loncat begitu saja memasuki ruang kamar yang berisikan pria yang mirip sekali dengan kakak kandungnya.

"Jungkook!"

"Hein?!"

Keduanya membola sesaat. Kemudian berbaur dalam pelukan yang begitu dalam sedalam mungkin menyelami rindu mereka sebagaimana seorang adik kakak.

"Jeon Hein? Kau benar-benar Hein, kan??" Tanya Jungkook memastikan wajah sang adik yang tampaknya sedikit berubah.

"Hiks.. iya Oppa, aku Hein, kau masih mengingatku?" Gadis itu menangis berlinangan air mata menatap Jungkook.

Rasanya tak percaya bahwa kini Jungkook bisa berpelukan dengan adiknya yang selama ini ia dan ayah ibunya cari-cari. Gadis petakilan yang selama ini ia rindukan, Hein yang menemani Jungkook sejak menjadi abangan.

Begitu pula Hein yang tidak yakin jika saat ini orang yang tengah ia peluk dalam adalah kakak kandungnya sendiri, seperti mimpi di tidur yang paling nyenyak seperti itu rasanya.

"Kau kemana saja Hein? Semua orang mencari mu! Jangan membuat semua khawatir." Jungkook melepaskan pelukannya dan menatap wajah adiknya yang semakin bertambah tirus.

"Lihat! Kau kurus. Eomma Appa pasti sangat marah jika melihat kondisi putrinya seperti ini." Omel Jungkook menatap presensi wajah Hana yang memang tampak lebih tirus dan badan yang kurang berisi.

Menyadarinya Hana memang jarang makan nasi semenjak Yeri bekerja untuk kebutuhan sehari-hari dan juga keperluan neneknya yang sakit membuat Hana terpaksa harus makan di waktu yang tidak tepat mengingat bahwa dahulu makan Hana begitu banyak sampai-sampai pipinya menjadi gembul.

"Kau sudah sembuh ya Oppa?" Mengalihkan pembicaraan Hana bertanya khawatir saat melihat diri Jungkook yang tidak menampilkan seorang pria pengidap masalah mental skizofrenia di masa lalu.

"Seperti yang kau lihat,"

Pria itu benar-benar bahagia saat Hein akhirnya kembali di waktu yang tepat sebab Eomma dan Appa nya tampak memasuki ruangan kamar miliknya dan terkejut bukan main saat menemukan putri semata wayangnya yang kini sudah berjumpa.

"Hein?!" Teriak Eomma dan Appa Jungkook bersamaan.

***


Berpamitan pada prianya agaknya membuat hati Yeri sesak sebab harus meninggalkan pria yang ia kagumi dalam diam untuk waktu yang tidak tentu sepertinya Yeri harus sering-sering mampir menjenguk Jungkook.

PREDESTINATED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang