Belum revisi, maaf telat up ...
Enjoyy..
•••
"Yeri, kau dimana sih! Nenek terus-terusan mengigau kan namamu." Hana bermonolog sendirian di sebelah neneknya yang masih terus mengigau kan nama Yeri.
"Nak Yeri.."
"Iya nek, sebentar ya nek, kak Yeri sedang dalam perjalanan kemari." Hana yang tampaknya sudah sangat lelah itupun hanya mampu menatap neneknya dengan tatapan lelah.
Melihat wajah sang nenek berhasil mengingatkannya pada raut wajah sang ibu yang sebenarnya masih ia rindukan. Tapi semua perasaan itu berusaha ia tepis kuat-kuat sekalipun mengenai sang ayah yang sama halnya saat itu sedang tidak baik kondisinya.
"Yeri! Kau dimana sih, ini sudah pukul dua malam, aku lelah, hiks.." Hana mulai merengek tak berdaya disebelah neneknya. Dirinya juga belum ada beristirahat sejak pergi bersama dengan Jimin tadi.
Kantung matanya menghitam, ada secarik rasa sedih disana, ia gadis yang keras kepala namun yang sebenarnya terjadi adalah hatinya tengah remuk dan hancur sekarang ini, ia butuh dan merindukan keluarganya.
"Kau baik-baik saja kan Oppa?" Tanyanya di dalam dirinya sendiri. Mengingat kakak kandungnya yang terakhir kali ia temui dalam keadaan mengenaskan, kecelakaan dan koma di sebuah rumah sakit selama berbulan-bulan lamanya.
Wajah cantik itupun mulai tertunduk seirama dengan matanya yang mengatup sempurna. Gadis itu tertidur dengan damainya. Ia dan jemarinya yang masih memegangi jemari sang nenek yang tampaknya sudah tidak mendapati suara mengigau lagi.
"Yeri, aku butuh kau." -Hana
***
Sementara di dalam sebuah taksi oranye, Kim Yeri tak henti-hentinya menggerutu sebal sembari menunggu sang sopir taksi yang masih berada diluar tepatnya di toilet umum.
Sopir tersebut meminta izin pada Yeri untuk sebentar saja mampir ke pom bensin sebab dirinya yang sudah tidak tahan lagi ingin buang air. Awalnya Yeri ingin menolak namun dilihatnya pak sopir itu sudah berusia lanjut maka hal itu berhasil mematahkan keegoisan Yeri menjadi lekas iba.
Dan dari detik itu sampai menit sekarang ini, sopir taksi itu pun belum kembali juga. Manakala ponsel milik Yeri lowbat dan ia tak memiliki persediaan apapun disana termasuk power pack yang hanya berisi kosong.
"Aigo.. aku bisa mati sendirian kalau tiba-tiba saja taksi ini mogok." Gerutu Yeri yang mulai melihat kearah jendela bahwasanya sang sopir belum juga menampakkan diri. Yeri takut ketika taksi ini terus-terusan dinyalakan tanpa di jalankan, bensinnya habis dan AC yang berada di dalam pun akan mati.
"Aish! Ahjussi kajja!" Teriak Yeri yang tak digubris siapapun disana sebab memang keadaan yang sunyi senyap.
Namun saat sepersekon Yeri membalikkan kepalanya tiba-tiba seorang pria bertopeng hitam masuk melalui pintu sambil sambil membawa pistol dan pisau tajam. Yeri yang melihat itu kontan membelalakkan matanya dan tercekat tak sanggup berbuat apa-apa.
"S-siapa kau!" Gentar Yeri yang terus memundurkan tubuhnya dan memepetkan kepalanya pada jendela taksi yang terbuka sedikit olehnya tadi.
"Siapa kau! Jangan berani mengganggu ku!" Teriak Yeri yang membuat penjahat itu semakin menodongkan pisau tajam nya kearah wajah takut Yeri.
Yeri yang kewalahan sekaligus ketakutan pun hanya mampu berdoa seraya memepetkan tubuhnya terus ke pintu taksi manakala aksinya itupun hanyalah berbuah sia-sia sebab pintu taksi yang tak dapat dibuka oleh Yeri, entah kenapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREDESTINATED
FanfictionSudah menjadi takdir Yeri saat bekerja di rumah sakit itu. Namun, ini bukanlah perkara mudah. Seorang suster di sebuah rumah sakit yang harus jatuh cinta kepada pasien nya. Tetapi, ini hanya settingan. Hingga Yeri mengaku bahwa benar-benar mencintai...
