"Thor, datang-datang bawa ending aja nih? Kemana selama ini, kami nungguin lohh!"
"Hehe, digantungin author."
Sebelum daripada itu, maafkan atas keterlambatannya. Author sungkem kepada pembaca setia 🙇 Terima kasih ya!🤗
Kalau kalian masih nyaman banget untuk ngulang baca dari BAB. Meolli Gajima. Supaya kebawa alur cerita endingnya. Okay😉
Jangan lupa vote🌟! Happy reading!
***
Jeon Jungkook kini sudah di pindahkan ke ruang perawatan karena masih harus mengikuti proses pemulihan dan membutuhkan waktu untuk menghabiskan satu botol infus suntiknya barulah diperbolehkan untuk pulang.
Pria Jeon mengedipkan matanya lamat memandangi asbes ruangan mencoba untuk mengumpulkan tenaga. Pria ini baru saja siuman dan masih bingung dengan keadaannya.
"Yeri," lirihnya dapat terdengar lemah, wajah pria itu benar-benar pucat pasi.
Suster tiba-tiba berdatangan dengan seorang dokter yang langsung memeriksanya. "Mohon jangan banyak bergerak, tuan." ucap suster tersebut sebelum melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang menatap diam.
Selanjutnya tidak ada siapa-siapa yang menyapa. Jungkook langsung mengingat kejadian beberapa waktu silam ketika dirinya harus terjebak di dalam halte bersama Ye..Yerim.. dimana perempuan itu?
Lengan Jungkook yang mengilu berusaha untuk ia gerakkan guna meluncur turun dari ranjangnya namun kembali lagi tenaga pria itu tak sekuat saat ia sehat. Pingsan yang menerpanya beberapa jam silam membuatnya menjadi lumpuh tak karuan.
Air mata tiba-tiba menetes begitu saja di pipi pria itu begitu mengingat tentang semua, disaat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok yang sedari tadi muncul di benaknya. "Yerim.." lirihnya begitu berhasil menangkap sosok tersebut.
"Jungkook-ah, kau sudah tersadar," Yeri langsung melangkahkan kakinya menghampiri sang pria.
"Kau baik-baik saja, kan?" ucap gadisnya meremat jemari Jungkook pelan. Ada nada khawatir di suara Yerim, begitu pula dengan pandangan khawatirnya.
Kehadiran Yeri seketika langsung diisi dengan jawaban rentetan kalimat penuh tanya dengan nada kekhawatiran dari sang empu yang terbaring lemah di kasur rawatnya.
"Yeri-ssi! Kau tidak apa-apa? Kau pendarahan? Kau belum pergi untuk selamanya kan?" Dengan penuh penekanan, nada kekhawatiran serta ketakutan pria Jeon mengutarakan pada wanita itu.
Dengan raut tak percaya Yeri mengatakan sebaliknya "Hey, Jungkook-ah. Aku baik, aku baik-baik saja disini. Aku masih hidup Jungkook. Kau jatuh pingsan saat kita menunggu di halte. Kau yang tidak baik-baik saja Jungkook. Lihat, tensi mu rendah. Kau tidak meminum obatmu kan?"
Serangan rentetan kalimat penuh kepedulian Yeri runutkan pada sang empu. Tak ayal, seharusnya Yeri yang lebih khawatir, melainkan Jungkook—mungkin karena mimpi delusinya terasa begitu amat nyata.
Dengan satu tarikan nafas Yeri memindahkan jemari Jungkook diletakan di atas perut kotak-kotak milik pria itu sendiri. "Memangnya mimpi apa yang terjadi saat kau pingsan? Apa kau masih dapat mengingatnya?" Tetapi jangan terlalu dipaksakan, nanti kepala mu pening lagi." Ucap Yeri sedikit menyinggung tentang apa yang baru saja pria itu alami.
Sejemang, dengan tatapan kosong
Jungkook menjelaskan "Ada mobil yang menabrak mu, kemudian ia hadir." ucapnya sekilas melirik Yeri dan menghadapkan wajah ke awang-awang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREDESTINATED
FanfictionSudah menjadi takdir Yeri saat bekerja di rumah sakit itu. Namun, ini bukanlah perkara mudah. Seorang suster di sebuah rumah sakit yang harus jatuh cinta kepada pasien nya. Tetapi, ini hanya settingan. Hingga Yeri mengaku bahwa benar-benar mencintai...
