Peringatan Kekerasan!
Bagian ini mengandung unsur kekerasan dan pemikiran gelap. Mohon bijak dalam membaca.
ʕっ•ᴥ•ʔっ
“HARUSNYA lo mati kemarin.”
Jleb.
Salim kembali menghujami tubuh tak bernyawa di bawahnya dengan sebilah pisau tumpul kesayangan miliknya. Sorot matanya dingin, seolah yang ia lakukan hanyalah rutinitas biasa.
“Lim!” panggil Saadan.
“Apaan?”
Saadan yang datang membawa sekaleng minuman dingin hanya berdeham pelan. Pemandangan mengerikan di depannya sudah menjadi hal lumrah bagi kedua saudara itu. “Temen lo telfon nih. Gusti.”
Salim berdecak, ia masih enggan berhenti ‘bermain’ dengan mainannya. Cowok itu memang memiliki banyak wajah; sebuah kesalahan fatal jika hanya menilainya dari penampilan luar saja.
“Ada telfon lagi. Dari Amarant,” lanjut Saadan.
Kedua tangan Salim yang bersimbah darah berhenti seketika. Ia melemparkan pisau itu hingga menancap di tanah pekarangan. Namun, saat hendak melangkah, Saadan menghentikannya dengan tatapan memperingatkan.
“Bersihin dulu! Gue gak mau ya rumput-rumput hijau sama tanah pekarangan ini jadi bau darah. Jadi adek sopan dikit kek.”
Salim berdecak. “Iya, iya.”
Saadan menghela napas menatap rumput pekarangan belakang rumahnya yang mendadak berubah warna menjadi merah. Ia memilih duduk di bangku yang menghadap kolam renang, membelakangi adiknya. Jika Saadan adalah tipe yang langsung membersihkan ‘sisa permainan,’ maka Salim adalah kebalikannya; ia suka meninggalkan bekas sesuka hati.
Cute but psycho. Itulah gambaran yang pas untuk Salim.
“Kelinci gue udah habis. Beliin lagi,” pinta Salim sembari membereskan potongan tubuh kelinci hitam jenis Havana yang malang itu.
“Uang bulanan lo kan udah gue transfer,” balas Saadan tanpa menoleh.
“Ck! Eh Dan—IYA BANG IYAA!!” Salim buru-buru meralat ucapannya sebelum abangnya yang tidak punya belas kasih itu memotong uang sakunya.
Sebenarnya, bagi Salim, Saadan adalah kakak yang hampir sempurna. Sejak mulai menjalani pengobatan untuk menjadi ‘normal,’ temperamen Saadan mulai membaik. Saadan terlalu manis untuk diklaim sebagai seorang psikopat sekarang. Too sweet but psycho.
“Bang, beliin satu Husky aja kenapa sih?”
Saadan mengernyit, matanya masih fokus pada layar iPad yang sedang menyadap ponsel seseorang. “Buat peliharaan atau ‘mainan’?”
“Peliharaan adalah mainan, ok?”
“Gak! Anjing, kucing, manusia—no!” tegas Saadan.
“Tapi lo sering ‘gores-gores’ ke kak Nanta, kan? Udah ada berapa bekas saja di lengannya,” sindir Salim.
“Ya itu gak sengaja, pinter! Pensiunan psikopat kayak lo emang gak asik.”
Saadan memilih diam. “Beryl udah pulang dari rumah sakit. Lo gak mau kasih sesuatu ke dia?”
“Kasih kelinci ini gimana?”
Saadan berdecak. Adiknya ini benar-benar menyebalkan.
“Bang, lo udah paksa kak Nanta buat kirim boneka sama kertas itu? Udah siapin bunga matahari?” tanya Salim beruntun.
“Hm,” sahut Saadan singkat. Keduanya terhanyut dalam keheningan sejenak, menatap air kolam yang tenang.
“Lim. Lo gak pernah jatuh cinta?” tanya Saadan tiba-tiba.
Salim menghentikan kegiatannya mencuci tangan. “Jangan bilang lo lagi jatuh cinta. Bang, lo suka sama Beryl?”
Saadan tak menjawab.
“Kita kan udah pernah omongin ini. Gak ada yang namanya cinta. Yang ada hancur semuanya. Orang kayak kita cuma bisa sakiti mereka. Lo mau Beryl kenapa-kenapa di tangan lo sendiri? Gue tahu lo berobat karena dia,” cerocos Salim.
Saadan memejamkan mata, membiarkan omelan panjang adiknya berlalu begitu saja. “Apa lo emang gak punya hati, Lim?”
“Hati gue udah mati sejak lahir. Kenapa? Lo udah punya hati?”
“Apapun yang terjadi, lo gak boleh suka sama Beryl! Cinta itu cuma sampah!” tegas Salim sebelum beranjak pergi.
Saadan membuka mata dan tersenyum samar. “Akan ada saatnya lo tau gimana rasa sampah itu, Lim,” gumamnya lirih.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Di sebuah bakery…
“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Luna ramah.
Salim menggaruk tengkuknya dengan canggung. Sebagai orang yang jarang berinteraksi normal dengan lawan jenis, ia merasa asing di sini. “Buat pacarnya ya?” tanya Luna lagi. Salim hanya mengangguk kikuk, berbohong demi menutupi tujuan aslinya.
“Kalau boleh tau, pacar kamu tipe perempuan kayak gimana?”
“Dia… lucu,” jawab Salim tak yakin. Sebagai hacker, ia tahu siapa Luna; wanita di hadapannya ini adalah Bunda dari sahabat abangnya, yang juga menjaga Beryl.
Luna tersenyum dan menunjukkan deretan cupcakes cantik. “Kalau buat perempuan lucu, kuncinya lucu. Kue-kue ini gak cuma lucu bentuknya, tapi juga manis rasanya. Tante jamin pasti dia suka.”
Salim mengangguk paham. Ia menemukan kata kunci yang ia cari.
Lucu.
Beryl pasti menyukainya.
— Celandine —
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Celandine ✓
Misteri / Thriller[Psychological Thriller | Romantic Suspense] Sejak hari terjadinya 'insiden kecil' di kantin saat itu, Beryl mendapat banyak teror aneh. Kertas clue yang selalu muncul tiba-tiba, bahkan di tempat yang tak terduga. Beberapa kali benda-benda aneh...
