Part 33

430 22 0
                                        

Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, hanya saja mereka terkadang menunjukan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.

- Author.
__________________________

Setelah selesai dengan urusan suasana hatinya, Langit langsung bergegas menuju rumah sang ayah. Bukan hanya ingin membicarakan masalah yang kemarin, dia juga ingin membicarakan apa yang baru saja dia dengar.

Langit tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh ayahnya. Dia bukan hanya ingin marah, dia juga ingin meminta penjelasan dari sang ayah.

Saat sampai di sana untung saja Dirgantara sudah pulang, jadi Langit tidak perlu menunggu.

"Datang juga kamu ternyata," ujar Dirgantara saat mereka sudah duduk di ruang tamu.

"Saya bukan pecundang seperti anda," sahut Langit dengan wajah datarnya.

"Apa kamu bilang?!" tanya Dirgantara mulai tersulut amarah.

"Saya bilang, saya bukan pecundang seperti anda!" jawab Langit tegas. Sebelum Dirgantara menjawab, Langit menyela terlebih dahulu. "Untuk apa anda menyembunyikan kematian adik saya dan untuk apa anda menyembunyikan keberadaan saya dari Bunda?!" tanya Langit to the poin, ia sudah tidak ingin basi-basi lagi.

"Bahkan anda bilang saya sudah meninggal," lirih Langit, meskipun dia tidak menunjukan kesedihan, tetapi terlihat jelas di matanya bahwa Langit terluka, lalu Langit tertawa sumbang sebelum melanjutkan ucapannya. "Atau, anda memang menganggap saya seperti itu?"

Dirgantara membeku, darimana Langit tahu tentang itu semua? Jangan-jangan dia mendengar ucapannya tadi?

"Kenapa diam? Anda bilang jangan jadi pecundang, tetapi anda sendiri pecundang! Kalau anda memang bukan pecundang, jelaskan semuanya," ujar Langit dengan nada santai, tetapi mengintimidasi.

"Langit, Papah ngelaukin ini semua karena Papah sayang sama kamu," jawab Dirgantara enteng tanpa dosa.

Lagi-lagi Langit tertawa, "kalau Papah sayang sama Langit, Papah gak akan ngelakuin ini semua, Papah tahu gimana rasanya dianggap meninggal sama ibu kandung sendiri? Dan Papah tahu betapa terlukanya Langit saat tahu Papah Langit sendiri yang memberitakan hal itu?"

"Langit, kamu gak ngerti maksud Papah."

"Langit gak ngerti karena Papah gak ngejelasin apa-apa!" tegas Langit.

Dirgantara menghela napas seraya mengusap kepalanya gusar. Harus dengan cara apa ia menjelaskan ini semua pada Langit? Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan.

"Dan, kenapa Papah nyembunyiin kematian El dari Langit?" tanya Langit, tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Langit. Dia masih tak menyangka saudara kembarnya sudah tiada.

Gadis cantik dengan bulu mata lentik  itu sudah meninggalkan Langit lebih dulu, kenapa Tuhan mengambilnya lebih cepat, bukankah mereka lahir ke dunia ini bersama?

Ya, saudara kembar langit adalah seorang perempuan. Gadis yang tak betah di rumah karena selalu diganggu oleh Langit, gadis pendiam yang suka ketenangan. Itulah kenapa saat detik-detik Mentari meninggalkan rumah, hanya ada Langit yang menyaksikan di sana, karena saudara kembar Langit tengah berada di rumah neneknya.

"Karena Papah gak mau kamu terluka," jawab Dirgantara. Langit tersenyun kecut. "Langit jauh lebih terluka sekarang, Pah. Entah Papah sadar atau tidak, Papah membuat hidup Langit menderita, Langit benci sama Papah."

Langit menatap Diragntara penuh kekecewaan, lalu dia berjalan keluar meninggalkan Diragntara. Lelaki paruh baya itu berusaha mengejar Langit. Namun sayang, Langit sudah pergi dengan mobilnya.

Lelaki paruh baya itu menatap mobil hitam yang dikendarai oleh Langit dengan tatapan menyesal, kesedihan tampak jelas di wajahnya. "Langit, maafkan Papah, Papah memang bukan orang tua yang baik untuk kamu," lirih Dirgantara seraya menatap mobil Langit yang tak lama kemudian lenyap dari pandangannya.

Seperti yang dikatakan olehnya, Dirgantara mempunyai alasan mengapa dia menyembunyikan keberadaan Langit dari Mentari bahkan semua orang. Banyak alasan di balik itu semua, tetapi yang jelas dia tidak ingin kehilangan Langit. Dirgantara sudah kehilangan Mentari dan El, maka dari itu kali ini Dirgantara tidak akan membiarkan siapapun merenggut Langit dari dekapannya.

Namun, sikap yang ditunjukan Dirgantara malah seolah berbalik dengan apa yang ada dalam hatinya. Sikap Dirgantara justru malah membuat Langit perlahan pergi, menganggapnya monster jahat dan orang tua yang buruk. Sekali lagi, Dirgantara kehilangan orang yang dia sayangi, orang yang berharga dalam hidupnya.

Jika saja Dirgantara tidak tergoda untuk selingkuh, ini semua tidak akan terjadi, dia tidak hanya menyakiti Mentari, kini semua orang ikut tersakiti. Bahkan, dirinya sendiri, dia harus menanggung penyesalan atas perbuatannya.

Kalau sudah begini, apalagi yang bisa Dirgantara lakukan? Semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki, Langit sudah pergi, apakah ini balasan dari Tuhan atas perbuatannya selama ini?

Dirgantara sadar dia memang tidak memperlakukan Langit dengan baik, tetapi itu semua Dirgantara lakulan demi kebaikan Langit juga. Agar Langit tidak menjadi anak yang terlena karena dimanja, itu cara Dirgantara mendidik Langit agar menjadi anak yang mandiri dan sukses di kemudian hari.

Percayalah, apapun yang Dirgantara lakukan adalah bentuk kasih sayangnya, dia marah Langit bolos karena Dirgantara tidak ingin Langit tersesat di jalan yang salah, dia menamparnya untuk menyadarkan Langit, dia melarangnya bertemu dengan Mentari karena ia takut kehilangan Langit. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, hanya saja mereka terkadang menunjukan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.

Langit berteriak serta memukul stir sebagai luapan emosi, dia berkali-kali menjambak rambutnya, setetes air mata mengalir begitu saja melewati pipi Langit, lelaki itu mengusapnya dengan kasar, lagi-lagi Langit berteriak.

Namun, sebelum dia larut dalam emosi, dia sadar bahwa dia tengah merasakan emosi negatif, lalu dia memilih menepi dari jalanan, menyandarkan kepala pada kursi kemudi dengan mata terpejam, lebih baik Langit berhenti dulu sampai emosinya sedikit mereda. Berkendara dengan keadaan tak baik-baik saja adalah pilihan yang salah. Dia bukan hanya akan mencelakakan dirinya, tetapi juga pengguna jalan lain.

Dengan mata yang masih terpejam, Langit mengatur napasnya, dia berusaha merasakan semua emosi yang dia terima, rasa sakit, dendam, marah, kecewa, kesal, semua emosi itu berusaha Langit terima, dia tidak akan berusaha melawan karena hal itu tidak akan menyembuhkan. Bahkan, Langit beberapa kali merapalkan kalimat 'rasakan lalu terima'.

Sebenarnya emosi itu hanya perlu kita rasakan lalu terima, bukan melawan. Karena semakin kita melawan, semakin kita akan tenggelam dalam lautan emosi itu.

Emosi hanyalah reaksi kimia yang terjadi dalam otak, hal itu tidak bisa dikendalikan dan bersifat sementara. Karena Langit tidak bisa mengendalikan emosinya, jadi lebih baik dia merasakan dan menerimanya, meredam atau pun melawan bukanlah pilihan yang tepat.

Setelah hampir setengah jam berlalu, perasaan Langit sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dia menegak sebotol air mineral yang ada di dalam mobil. "Gue tahu gue sakit hati, gue tahu gue kecewa, gue tahu gue marah dan gue juga tahu alasannya kenapa, jadi yaudah gapapa, semua emosi yang gue rasain itu wajar bukan?" monolog Langit seraya menghela napas beberapa kali.

Saat sedang seperti itu, Langit dikagetkan dengan sebuah ketukan pada kaca mobilnya.

Langit [COMPLETED ✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang