Komunikasi itu penting, agar tidak terjadi kesalah pahaman, terkadang miss komunikasi bisa menjadi awal permasalahan.
- Author.
____________
"Baru aja nyampe langsung di tanya, kasih minum dulu kek," sahut Langit dengan wajah kesalnya.
Sedatar-datarnya Langit, sedingin-dinginnya Langit, secuek-cueknya Langit masih kalah oleh sang ayah. Langit masih bisa berbasa-basi dan sedikit bercanda, tetapi beda lagi dengan Dirgantara yang lebih suka to the point juga lebih serius.
Jadi, tidak heran jika Langit menjadi pria dingin karena ada faktor keturunan.
Pria yang Langit sebut Papah itu tidak menyahut, dia berhenti membaca dokumen yang entah apa isinya kemudian dia beranjak lalu duduk di sofa diikuti oleh Langit.
"Pah, kenapa tiba-tiba papah nyewa bodyguard?"
"Kamu juga pasti tahu kegunaan bodyguard itu apa."
Langit berdecak sebal mendengar jawaban sang ayah. Kenapa gak langsung jawab aja sih?
"Pilihan kamu cuman dua pulang ke rumah atau diawasi sama bodyguard."
"Gak dua-duanya, aku gak mau di awasi sama bodyguard."
"Terus maunya apa?"
"Di awasi langsung sama Papah," jawab Langit asal, dia menjawab seperti itu karena tahu Papahnya tidak mungkin mengawasi Langit, tidak ada gunanya mengawasi anak itu dan tentunya tidak digaji, pekerjaan jelas lebih penting.
Keadaan tiba-tiba menjadi hening, tidak ada lagi jawaban dari Dirgantara. Dia salah paham, dia kira maksud dari kata diawasi adalah sebuah perhatian dari orang tua untuk anaknya, padahal sebenarnya maksud tidak seperti itu.
"Pah, Langit saranin Papah ambil lagi kedua bodyguard Papah itu, Langit gak perlu, ngabis-ngabisin uang aja," ujar Langit.
Dirgantara masih tidak menjawab, dia hanya terdiam seraya menatap Langit. Meskipun hanya ditatap seperti itu, tetapi nyali Langit langsung ciut, entah mengapa ayahnya yang terdiam seperti itu lebih menyeramkan daripada saat sedang mara-marah.
Walaupun Langit sering membantah bahkan mereka sering berantem, tetapi dia masih mempunyai rasa takut dengan sang ayah. Langit menghela napas lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Mau kemana kamu?"
"Pulang," jawab Langit tanpa menatap sang ayah.
"Pulang kemana?"
"Pulang ke rahmatullah," jawab Langit sekenanya.
Remaja itu langsung keluar dari kantor Dirgantara dan dia masih diikuti oleh kedua bodyguardnya. Langit juga tidak terlalu menghiraukan keberadaan dua insan itu.
Berbicara dengan Dirgantara tidak membuahkan hasil apa-apa malah membuang-buang waktu saja. Langit tidak langsung pulang ke apartemenya, melainkan dia mampir dulu ke restoran favoritnya.
Langit juga mengajak kedua bodyguard itu untuk makan bersama, tak enak jika hanya dia saja yang makan sedangkan mereka hanya berdiri bak patung. Langit memang cuek bahkan terlihat tak peduli, tetapi sebenarnya Langit itu baik hati.
Sejak kecil, Langit memang sudah baik hati. Lelaki itu juga ceria dan aktif, tetapi semenjak kejadian menyakitkan itu, sosok Langit yang ceria penuh dengan tawa menghilang bagai ditelan bumi.
Namun, saat itu Langit masih memiliki seseorang yang cukup berarti dalam hidupnya, dia masih bisa tertawa, tetapi lagi-lagi kejadian yang tak diinginkan terjadi, hingga akhirnya Langit menjadi seperti saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Ficção Adolescente[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)