Part 47

712 31 4
                                        

Kini, Cahaya tengah berada di mobil sang bunda. Ya, dia pulang, tak hanya karena diajak oleh sang bunda, tetapi juga disuruh oleh Mentari dan Angel. Gadis itu sempat merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.

Meski ibu dan anak itu tak mengatakan apapun, bahkan mereka menyuruh Cahaya pulang karena disuruh istirahat, tetapi dari nada bicaranya saja Cahaya bisa tahu kalau mereka seolah mengusir Cahaya. Bahkan, Angel terlihat tak ingin menatap Cahaya, gerak-gerik Angel sama seperti ketika kali pertama mereka bertemu, ketika Angel masih menganggu Cahaya.

Namun, dia tak memusingkan hal itu, mungkin itu hanya perasaannya saja, atau mungkin mereka sedang lelah. Saat melihat Langit yang terbaring lemah, Cahaya merasa berat harus meninggalkannya.

Dia tak ingin berpisah dengan laki-laki yang berhasil membuat dia jatuh cinta. Dengan laki-laki yang selalu melinduninya, membuatnya tersenyum dan yang selalu menemani Cahaya. Sejujurnya Cahaya masih ingin berada di rumah sakit, tetapi apa daya semua orang menyuruhnya pulang.

Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, Cahaya hanya bisa menatap Langit, dia mengatakan bahwa dirinya akan segera kembali, dia mengatakan bahwa Cahaya akan selalu menunggu Langit bangun dan dia juga mengatakan dia menantikan senyuman Langit serta tatapan mata Langit yang selalu bisa membuat Cahaya merasa aman.

Sejak mobil melaju keluar dari area rumah sakit, Cahaya hanya terdiam seraya memandang kosong ke luar jendela. Dia memikirkan banyak hal saat ini, Langit, acara mensive mereka yang tak berhasil, juga perubahan sikap Angel dan Mentari.

Cahaya memalingkan wajah, dia menatap sang bunda yang tengah mengemudi. "Bun," panggil Cahaya.

"Hmm, kenapa Sayang?" tanya Lestari.

"Bunda ngerasa ada yang aneh gak? Tadi tante Mentari kayak gak suka deh sama Cahaya, Angel juga. Cahaya salah apa, ya?" tanya Cahaya polos.

Tenggorokan Lestaru tercekat, dadanya juga terasa sesak. Dia menatap Cahaya sebentar dengan tatapan sendu, seolah mengatakan 'seandainya kamu tahu.'

Namun, Lestari segera memalingkan pandangannya, kini pandangan beliau kembali fokus ke jalanan. "Ah, enggak, perasaan kamu aja. Mungkin kamu kurang istirahat jadi agak sensitif," jawab Lestari. Dia berlagak seolah tak terjadi apa-apa.

Gadis itu terdiam beberapa saat. "Hm, mungkin," lirihnya. Dia kembali terdiam, suasana mobil kembali hening, Cahaya menghela napas lalu memejamkan matanya.

Di lain tempat, Angel juga pulang ke rumah papahnya. Dia sedikit tidak terima saat tahu ternyata Langit mengorbankan diri untuk Cahaya. Jujur saja, dia emosi saat mengetahui fakta itu. Kalau ibunya Cahaya tak memintanya untuk merahasiakan ini dari Cahaya, mungkin sejak tadi dia sudah memarahi gadis itu. Ingin sekali Angel berteriak di depan wajah Cahaya. "Ini semua gara-gara lo!" namun, dia mengurungkannya.

Dia pulang ke rumah papahnya. Dia butuh waktu untuk sendiri, dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Dia memilih untuk pulang ke rumah Dirgantara karena rumah itu sepi, hanya ada Maria, Bumi serta para asisten keluarga. Jadi, dia bisa menengkan diri, kalau dia pulang ke rumah ayah tirinya, dia pasti bertemu dengan Harry atau Dinda yang pasti tak akan membiarkannya sendiri.

"Angel, kamu ke sini?" sapa Maria.

"Iya, Bu, mau numpang istirahat," jawab Angel seraya memaksa untuk tersenyum.

Maria mengangguk. "Kamu mau istirahat di kamar kamu yang dulu, apa di kamar tamu?" tanya Maria.

"Di kamar Langit boleh gak, Bu?"

Maria terdiam sebentar, dia tak punya hak untuk mengizinkan atau melarangnya. Karena itu kamar Langit dan itu juga privasi Langit, tetapi Angel 'kan adiknya.

Langit [COMPLETED ✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang