Terkadang hewan peliharaan lebih enak dijadikan teman.
- Langit Aditya D.
__________________
Hari ini Langit tidak pergi ke restoran favoritnya, dia juga tidak memasak, dia hanya memakan buah-buahan yang tersedia di dalam lemari pendingin.
Langit yang memang tergolong anak yang rajin. Seperti sekarang, dia mengambil buku catatannya untuk Langit pelajari ulang. Memang sudah menjadi kebiasaan Langit sejak kecil mempelajari kembali materi yang tadi diberikan oleh guru di sekolah. Sang bunda selalu mengajarkan Langit seperti itu, makanya kebiasaan itu terus Langit lakukan hingga sekarang.
Saat membuka tasnya, dia menemukan selembar sticky note berwarna merah muda yang bertuliskan.
Keep strong Langit!
Hantinya menghangat ketika membaca sticky note dari Cahaya, bagaimana tahu itu dari Cahaya? Tentu saja karena Langit mengenali tulisan tangan gadis itu. Dia tersenyum, meski singkat dan sederhana, tetapi itu sangat bermakna untuk Langit.
Untuk beberapa saat, lelaki itu tetap memandangi sticky note dari Cahaya, kemudian dia menempelkannya pada pinggiran frame foto dirinya dan Cahaya di masa lampau.
"Aku mencintaimu dan akan tetap seperti itu," ujar Langit memandangi foto Cahaya.
Smartphonenya berbunyi. Langit berdiri lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas kasur, ternyata yang menelepon Langit adalah sang ayah.
Remaja tampan itu hanya melihatnya tanpa mengangkat teleponnya sampai telepon itu mati dengan sendirinya. Tidak lama kemudian, ayahnya kembali menelpon, tetapi kali ini Langit mengangkat teleponnya.
"Kenapa lama angkat teleponnya?" sahut suara bariton dari ujung sana.
"Ada apa?" Bukannya menjawab, Langit malah balik bertanya.
"Papah mau ketemu sama kamu, ada yang harus dibicarakan, Papah udah share lokasinya."
"Hm," jawab Langit setelah itu panggilan terputus, tentu saja Langit yang memutus panggilan teleponnya.
Wajah Langit langsung muram, untuk apa ayahnya mengajak Langit bertemu? Ngajak berantem lagi? Kira-kira begitulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak Langit.
Langit langsung menuju lokasi yang dikirim oleh ayahnya, ternyata sang ayah mengajaknya bertemu di sebuah restoran.
Kini mereka sudah duduk berhadapan, mereka juga sudah selesai makan.
"Jadi ada apa?" tanya Langit memecah keheningan.
"Kamu anak Papah," ujar Dirgantara.
"Iya, tau, terus?"
"Rumah Papah adalah rumah kamu. Papah mau kamu pulang."
"Kok tiba-tiba, ada apa? Tadi aja Papah bilang masih punya muka kamu dateng ke sini?" tanya Langit meniru perkataan ayahnya tadi pagi.
Lelaki paruh baya yang Langit panggil dengan sebutan papah itu hanya menghela napas, anaknya yang satu ini selalu saja punya jawaban untuk membalas perkataannya.
"Papah sedang ada masalah," jawab Dirgantara dengan tenang.
Ya, dia memang sedang memang sedang memiliki masalah, tetapi ini tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, ini benar-benar masalah dirinya dan orang itu. Keluarganya sedang dalam bahaya, maka dari itu dia mengajak Langit pulang, karena tinggal sendirian di apartemen bukanlah pilihan yang baik.
Meski Langit sedikit keras kepala juga menyebalkan, tetapi Langit tetaplah Langit, dia tetap anak Dirgantara, darah dagingnga. Meskipun hubungan mereka kurang baik, tetapi Dirgantara tetap menyayangi anak kandungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Novela Juvenil[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)