Perpisahan orang tua itu memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk menyalahkan atau bahkan membenci orang tua sendiri. Jangan hanya menyalahkan satu pihak, karena dia belum tentu salah sepenuhnya.
- Langit Aditya D
_________________
Bel pulang berbunyi dengan nyaring mengundang kebahgiaan bagi para siswa maupun siswi. Cahaya tengah memasukan alat tulis ke dalam tasnya, ia langsung beranjak keluar dari kelas.
Namun, saat Cahaya melewati pintu ada sebuah pegangan tangan yang menghentikan langkahnya, membuat Cahaya langsung melihat siapa pemilik tangan itu, dan ternyata dia adalah Langit.
"Lo pulang sama gue," ujar Langit lalu menarik tangan Cahaya tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
"Bentar-bentar, aku belum bilang setuju loh," ujar Cahaya seraya berusaha melepaskan pegangan tangan Langit.
"Mau lo setuju atau enggak, lo tetep harus pulang sama gue," jawab Langit mengabaikan Cahaya yang terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Ikh, kok maksa!" desis Cahaya dengan wajah cemberutnya.
"Jangan manyun kalau gak mau gue cium."
Mata Cahaya membola mendengar penuturan Langit, pipinya terasa panas, jantungnya pun berdegup dengan kencang. Kalau boleh jujur Cahaya malu mendengar penuturan Langit, bagi Cahaya kata 'cium' itu sensitif di pendengarannya.
"Ish, apaan sih kamu kok gak sopan banget? Jangan harap cuman karena kata cium aku bakalan luluh! Aku tuh bukan cewek kek gitu yang baper karena perlakuan gak sopan! Itu namanya gak sopan, tau gak?!" semprot Cahaya panjang kali lebar.
Langit melongo seketika, dia tidak menyangka reaksi Cahaya akan semenakutkan itu. "Iya-iya, maaf, deh. Lo mau ya gue anterin pulang? Sebagai permintaan maaf karena udah gak sopan sama lo," ujar Langit memelas.
"Aku gak mau!" tolak Cahaya judes, gadis itu masih sensi sama Langit.
"Kalau lo nolak gue anterin pulang, berarti lo gak maafin gue. Padahal Tuhan aja maha pemaaf loh," sahut Langit lagi-lagi dengan wajah memelas yang jarang bahkan tak pernah Langit tunjukan.
Dia bisa melakulan apapun bahkan yang sebelumnya tak pernah dia lakukan, dan Langit tidak akan pernah kehabisan cara untuk membujuk Cahaya agar mau dia antarkan pulang.
Akhirnya, karena permohonan Langit yang lebih terkesan memaksa, Cahaya mengizinkan cowok itu untuk mengantarkannya pulang, meskipun dengan perasaan Cahaya yang masih kesal.
Di lain tempat, Angel sudah menunggu mangsanya, yang tak lain dan tak bukan Cahaya. Siapapun orang yang berani mengusik kehidupan Angel, sama saja dengan membangunkan singa yang sedang tidur. Begitu katanya.
"Cahaya," panggil Langit memecah keheningan yang tercipta. Cahaya tidak menjawab, ia hanya menoleh pada Langit.
"Liat siapa yang berdiri di sana, dia nunggu lo. Makanya gue mau lo pulang sama gue, gue gak mau lo kenapa-napa untuk kedua kalinya," ujar Langit memelankan suaranya pada akhir kalimat seraya menunjuk Angel dan kedua temannya yang tengah melipat tangan di depan dada.
"Ikh, jangan su'udzon, dosa tau," ujar Cahaya.
"Gue berusaha melindungi lo."
"Aku bukan hewan langka yang harus dilindungi!" tegas Cahaya.
"Lo emang bukan hewan langka yang harus dilindungi, tapi lo calon istri gue, jadi lo wajib dijaga."
"Sok tahu," cibir Cahaya.
Langit tidak menanggapi cibiran Cahaya, ia langsung membawa gadis itu ke parkiran, meskipun setengah terpaksa, tetapi Cahaya tetap menuruti Langit. Gadis yang malang itu hanya bisa pasrah, lelaki yang kini menggenggam tangannya sungguh keras kepala, tidak mau di bantah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Novela Juvenil[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)