Apapun yang aku lakukan, di mata papah itu salah, walaupun aku melakukan sepuluh ribu kebaikan, papah akan tetap memandang serta mengungkit-ungkit satu kesalahan.
- Langit Aditya D.
________________________
Para orang tua yang hadir sudah duduk di kelas dengan wali kelas yang tengah menyampaikan satu dua patah kata sebagai pembukaan. Sedangkan para siswa maupun siswi tengah menunggu di luar kelas dengan perasaan tegang, bahkan ada yang tidak bisa diam saking tegangnya.
Dari semua siswa maupun siswi yang tengah menunggu hasil, sepertinya hanya Langit saja yang terlihat tenang, entah karena wajahnya yang datar atau karena dia memang tidak merasa tegang, kali ini Langit tidak berharap mendapatkan peringkat, karena dia saja sudah sering bolos.
Lagi pula mau dia mendapatkan peringkat satu ataupun peringkat terakhir, ayahnya tidak akan peduli dan dia akan tetap memandang Langit hanya anak bodoh yang gak tau diri, gak berguna cuman malu-maluin nama keluarga. Namun, di luar itu semua, Langit sudah berusaha menjadi yang terbaik, meskipun tanggapan orang tuanya tetap sama, tetapi setidaknya dia tidak tersesat di jalan yang salah.
Seperti menyelam sambil minum air, Langit berusaha mendapatkan perhatian sang ayah serta kasih sayangnya dengan segala prestasi yang berhasil dia raih, meskipun Langit tidak mendapatkan itu semua, tetapi Langit tidak menyia-nyiakan masa remajanya dengan melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.
Jika saja Dirgantara sadar, seharusnya dia bersyukur memiliki anak yang berpikiran seperti Langit. Meskipun dia tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup darinya, tetapi dia tidak melakulan kenakalan-kenakalan yang bahkan mungkin lebih merugikan daripada apa yang Langit lakukan sekarang, tetapi sayangnya Dirgantara tidak sadar akan hal itu, dia hanya fokus pada kesalahan Langit saja.
Entahlah, terkadang orang hanya fokus pada kesalahan yang diperbuat tanpa melihat kebaikannya. Seperti pribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kesalahan yang Langit lakukan sebenarnya tidak terlalu fatal, lagi pula Langit melakukan itu semua bukan tanpa alasan.
Dirgantara menganggap bolos serta keluyuran yang Langit lakukan adalah bentuk kenakalan, ya, mungkin memang seperti itu, tetapi sebenarnya selalu ada alasan di balik kenakalan, seperti halnya yang Langit lakukan, itulah kenapa penting untuk menanyakan alasan sebelum menghakimi seseorang.
Niat Dirgantara sebenarnya baik, ingin Langit menjadi orang yang sukses seperti dirinya, tetapi cara Dirgantara yang salah, seharusnya dia mengutarakan keinginannya secara baik-baik. Namun, Langit juga tidak benar, seharusnya dia berterus terang pada sang ayah, dengan begitu tidak akan ada kesalah pahaman. Ini semua adalah akibat dari renggangnya hubungan anak dan orang tua.
Langit ataupun Dirgantara mereka sama-sama tidak berusaha untuk saling mengerti, tidak berusaha mencari tahu keinginan dari masing-masing pribadi. Padahal, saling mengerti dan memahami adalah hal yang cukup penting dalam hubungan seorang anak dan ayah.
Satu persatu orang tua keluar dari dalam kelas, tentunya dengan ekspresi yang berbeda beda, ada yang terlihat kesal, marah, bahagia, haru, dan banyak lagi, di antara banyaknya orang tua atau wali siswa, terselip Baskara yang tengah tersenyum lebar seraya berjalan menghampiri Langit.
Lelaki paruh baya itu memeluk Langit seraya menepuk-nepuk punggungnya, Langit hanya berdiri mematung dengan ekspresi bingung.
"Selamat, Langit, nilai kamu bagus," ujar Baskara setelah melepaskan pelukannya seraya memegang kedua bahu Langit.
"Oh, ya? Langit pikir bakal turun."
"Ya, emang sih, turun, tapi masih bagus, kamu dapet peringkat dua," ujar Baskara seraya mengusap rambut Langit penuh sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Fiksi Remaja[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)