Sejak semalam, Cahaya tidak pulang. Dia tetap memaksa untuk diam di rumah sakit. Menunggu Langit. Meski, dia hanya bisa menunggu Langit di luar ruangan, dia hanya bisa menatap Langit dari balik kaca.
Semua orang khawatir, semua orang mencemaskan keadaan Langit, semua orang sedih melihat kondisi Langit saat ini, tetapi diantara semua orang, Cahaya yang terlihat sangat rapuh, dia terlihat sangat menderita.
Saat pulang dari musola rumah sakit, dia berjalan, berdiri di dekat jendela, menatap Langit yang masih tak sadarkan diri.
Setetes air mata kembali membasahi pipinya. Tangan mungil Cahaya bergerak perlahan, menyentuh kaca jendela yang langsung mengarah pada tubuh Langit. "Lang, kamu cepet bangun, aku tau kamu kuat. Kamu gak akan ninggalin aku, 'kan? Kita baru aja ketemu, Lang, aku baru aja inget kamu lagi, aku gak mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu," bisik Cahaya parau dengan suara bergetar.
Lestari baru datang, dia tak tahu kalau Cahaya ke rumah sakit tadi malam, dia baru tahu tadi pagi. Saat mendengar apa yang Cahaya katakan, dadanya terasa sesak, dia bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan.
Wanita paruh baya itu mendekat, memegang bahu Cahaya dan mengusapnya pelan. Dia tak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Merasa ada yang menyentuhnya, Cahaya berbalik, menatap sang bunda dengan mata sembab.
"Bun," lirih Cahaya, nada bicaranya terdengar seolah-olah mengadu. Lestari mengangguk, seolah mengatakan bahwa dia tau bagaimana kondisi Langit. Lestari langsung menbawa Cahaya ke dalam pelukannya. Gadis cantik yang selalu tersenyum itu kini terlihat hancur.
Lestari ikut menangis dalam diam, untuk saat ini dia benar-benar tak bisa mengatakan apapun pada Cahaya. Bahkan, untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja pun dia tak sanggup. Dia hanya bisa memeluk putrinya seraya pengusap punggungnya penuh sayang.
Dia tahu bahwa satu ginjal Langit kini ada pada tubuh Cahaya, tetapi dia tak sanggup untuk memberitahukan hal itu pada Cahaya. Karena dia yakin Cahaya akan semakin terluka, dia juga yakin Cahaya akan menyalahkan dirinya sendiri.
Langit dan Cahaya sudah bersama sejak mereka baru duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Mereka tumbuh bersama, selalu melakukan apapun berdua, sampai akhirnya mereka terpisah selama empat tahun. Kini, saat mereka kembali dipertemukan, Langit ternyata malah seperti ini.
Cahaya duduk di ruang tunggu, di sana juga ada Angel. Angel merasa tak tega melihat keadaan Cahaya. Apalagi sejak semalam gadis itu tak tidur, dia hanya berdiri mematung, menatap Langit dari kaca jendela, meski sesekali dia juga duduk dan pergi ke musola, tetapi gadis itu lebih sering berdiri.
Sempat terbesit dalam benak Angel, apa Cahaya gak pegal berdiri terus? Apa dia gak ngantuk semalaman gak tidur? Apa dia gak laper belum makan dari semalam? Ah, tetapi Angel segera sadar, kini perasaan Cahaya sedang tak karuan, dia sedang hancur. Angel bisa mengerti kalau Cahaya tak merasakan pegal, ngantuk atau lapar.
"Cahaya," panggil Mentari, dia berjalan ke arah Cahaya, lalu duduk di sampingnya. Meski baru mengenal gadis itu, tetapi Mentari tahu bahwa Cahaya sangat menyayangi Langit, juga sebaliknya. Mereka saling menyayangi.
Tidak hanya itu, Mentari juga sudah tahu bagaimana kisah mereka. Langit banyak bercerita tentang Cahaya padanya, semalam setelah Langit memperkenalkan gadis itu diacara syukuran karena dia pulang dari rumah sakit.
Karena merasa namanya dipanggil, Cahaya menoleh. "Kamu makan, ya?" tawar Mentari seraya membawa makanan yang sepertinya dia beli di kantin rumah sakit.
Cahaya tersenyum lembut, dia menggeleng lemah. "Kamu belum makan?" tanya Lestari. Lagi-lagi Cahaya hanya menggeleng.
"Kalau kamu gak mau makan, nanti kamu sakit, sayang," ujar Lestari mengusap rambut putri sulungnya penuh sayang. Cahaya hanya terdiam dengan tatapan kosong.
"Bener tuh kata nyokap lo. Lagian sedih itu butuh tenaga, nangis juga butuh tenaga, bahkan menunggu aja butuh tenaga," sahut Angel.
Mentari menyunggingkan senyumnya. Kata-kata Angel itu memang ada-ada saja, tetapi itu ada benarnya. "Biar aku yang bujuk," ujar Angel seraya mengambil makanan itu dari tangan sang Bunda, Mentari lantas pindah tempat duduk, karena tempat duduknya diambil alih oleh Angel.
"Lagian gue yakin, Langit gak bakalan seneng kalau lo nyiksa diri kayak gini. Ayok kita makan, gue suapin, tapi gue boleh minta makanan lo, ya?"
"Itu buat Cahaya, kamu 'kan udah makan, Ngel," sahut Mentari.
"Belum kenyang, Bundaaaa."
Cahaya sedikit tersenyum. Ternyata Angel mau membujuk serta menyuapi dia karena ada maunya. Meski begitu, Cahaya tetap tersenyum, juga menerima suapan dari Angel.
Seandainya Langit melihat kejadian itu, dia pasti akan tersenyum dan merasa sangat bahagia. Namun, sayangnya kini dia tengah terbaring lemah tak sadarkan diri di atas kasur rumah sakit.
"Makasih, Ngel," bisik Cahaya.
"Gak usah makasih, ah, gue 'kan adik lo sekarang," balas Angel, lalu dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Mentari dan Lestari saling pandang, lalu mereka saling melempar senyuman. Cahaya sedang makan dengan Angel, sementara Mentari dan Lestari tengah mengobrol di kursi yang lain.
"Gimana kondisi Langit sekarang?" tanya Lestari.
"Tadi pagi, kondisi Langit masih kritis. Dan dengan kondisi yang seperti itu, saya gak bisa ngapa-ngapain selain berdo'a semoga Langit cepat melalui masa kritisnya."
Lestari mengangguk-anggukan kepalanya, dia mengusap jemari Mentari, memberinya kekuatan. "Memang hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Kamu yang kuat, ya. Saya juga hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan Langit. Dia anak yang baik."
Mentari tersenyum hangat. "Terima kasih," balasnya.
Lestari mengajak Mentari berbicara di luar, sengaja. Dia tak ingin bertia ini terdengar ke telinga Cahaya. Dia ingin mengatakan semua yang dirinya ketahui pada Mentari, karena dia merasa ibu kandungnya Langit berhak tahu.
Saat mereka sudah cukup jauh dari tempat Cahaya dan Angel, Lestari mulai menceritakan semuanya. Dia memberi tahu bahwa, empat tahun yang lalu ada kecelakaan yang menimpa Cahaya, membuat ginjalnya terluka lalu Langit dengan suka rela memberikan satu ginjalnya untuk gadis itu.
Mentari menitikan air mata seraya menutup mulutnya tak percaya. Kini dia semakin tahu bahwa Langit memang benar-benar mencintai gadis itu. Sampai-sampai dia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menolong gadis itu.
Lestari mengucapkan maaf berkali-kali, dia merasa bersalah. Sebagai seorang ibu dia bisa merasakan apa yang mentari rasakan. Mentari hanya bisa diam, tak bisa mengatakan apapun, karena Langit melakukan itu untuk gadis yang dia cintai, tetapi entah mengapa dia merasa Cahaya adalah penyebab anaknya menderita seperti ini.
Apa boleh jika Mentari menyalahkan gadis itu? Apa boleh jika dia marah pada Cahaya? Karena kalau Langit tak memberikan ginjalnya, dia yakin anak sulungnya itu tidak akan merasakan sakit seperti ini.
"Kalau kamu mau marah, silahkan marah sama saya, tetapi saya mohon jangan marah sama Cahaya, jangan salahkan dia, karena Cahaya juga tak pernah tahu bahwa Langit yang mendonorkan ginjalnya."
"Apa? Langit donorin ginjalnya buat Cahaya?" tanya seseorang dengan nada lemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Teenfikce[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)