Part 48

823 19 6
                                        

Seketika dunia serasa runtuh, waktu terasa berhenti. Air mata Angel kembali luruh. "Gak! Ini gak mungkin, Langit gak mungkin meninggal!" teriak Angel, dia meronta-ronta dalam pelukan Maria.

Angel berlari menuruni tangga, berniat menyusul Langit ke rumah sakit. Namun, Maria berusaha melarang Angel untuk pergi, karena tadi Dirgantara meminta agar mereka tetap berada di rumah, karena Langit akan dibawa pulang ke rumah duka.

Angel hanya bisa terduduk lemas di dekat pintu keluar rumah, dia terus berteriak dengan air mata yang terus mentes. Maria memeluk Angel, berusaha untuk menenangkan seraya menguatkan.

Sedangkan Cahaya, saat dia mendapatkan kabar itu dia belum sampai ke rumah, karena tadi mereka mampir dulu ke kantor Lestari untuk mengambil dokumen yang entah apa isinya. Kebetulan, letak kantor Lestari tak begitu jauh dari rumah sakit.

"Bun, ada apa?" tanya Cahaya saat menyadari perubahan raut wajah Lestari setelah mengangkat sebuah panggilan.

"Sayang ...," lirih Lestari menatap Cahaya dengan tatapan penuh luka.

"Ada apa, Bun?!" tanya Cahaya dengan nada khawatir, suaranya terdengar meninggi serta bergetar.

"Langit ...."

Firasat Cahaya sudah mengatakan sesuatu yang buruk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Kenapa, Bun! Langit kenapa?!" tanya Cahaya seraya menggoyangkan tangan sang Bunda.

"Langit ... Langit meninggal," lirih sang bunda. Air mata lolos begitu saja dari kelopak mata Lestari.

Cahaya berdiam beberapa saat. Dia menggelengkan kepalanya cepat. "Gak, bun, gak. Langit gak meninggal. Bunda bohong, 'kan? Langit gak mungkin meninggal! Dia gak bakalan ninggalin Cahaya, Bunda!" teriak Cahaya dengan air mata yang sudah tak lagi dapat dibendung. Dia menangis sejadi-jadinya.

Lestari memeluk Cahaya, dia mengusap punggung Cahaya lembut.

"Enggak bunda, Langit gak meninggal, dia masih hidup!"

"Sayang ...," bisik Lestari.

"Aku mau ketemu Langit! Aku mau ketemu Langit, Bunda!" teriak Cahaya.

"Iya sayang, iya." Setelah mengucapkan itu, Lestari langsung menancap gas untuk kembali ke rumah sakit. 

Hal pertama yang Cahaya lihat saat sampai di depan ruangan Langit adalah Dirgantara yang tengah menangis seraya memukul-mukul tembok, di sampingnya ada Baskara yang juga tengah menangis, tetapi dia berusaha menenagkan kakaknya.

Baskara menatap Cahaya dengan tatapan sendu, Cahaya juga menatapnya sebentar, dia berlari masuk ke ruangan Langit. Hal pertama yang dia lihat di ruangan Langit adalah tubuh Langit yang sudah terbujur kaku dengan mentari yang menangis tersedu-sedu di sampingnya.

Belum sampai memeluk Langit, tubuh Cahaya sudah luruh lebih dulu, kakinya tak cukup kuat untuk menopang tubuhnya yang rapuh. Dia menangis kembali. Menumpahkan semua rasa sakit yang dia rasakan.

"Langit! Kamu udah janji gak bakalan ninggalin aku, kenapa kamu pergi sekarang?! Kenapa?!" jerit Cahaya dengan suara bergetar yang begitu menyayat hati.

Mentari menatap tajam ke arah Cahaya. Dia berlari lalu memaksa gadis itu untuk berdiri, sebuah tamparan keras mendarat sempurna di wajah Cahaya. "Ini semua gara-gara kamu!" teriak Mentari.

"Harusnya kamu yang mati! Anak saya gak akan mati kalau dia gak donorin ginjalnya untuk kamu! Ini semua gara-gara kamu!" jerit Mentari seraya menggoyahkan tubuh Cahaya.

Deg!

Dunia Cahaya yang sedang runtuh semakin runtuh ketika mendengar sebuah kalimat yang keluar dari mulut Mentari. Hati Cahaya yang sedang sakit, semakin sakit saat mengetahui hal ini. Rasa sesak yang sudah menghujam sejak tadi, kini semakin menikam.

Langit [COMPLETED ✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang