Setelah Cahaya berada di kamarnya, dia teringat dengan ucapan Langit barusan, apa mungkin Langit pacarnya dulu? Atau lelaki itu hanya memanfaatkan situasi ini saja? Bisa saja Langit berbohong dan hanya berpura-pura menjadi kekasihnya dahulu.
Sebenarnya Cahaya ingin bertanya pada sang Bunda, tetapi dia tidak berani, karena dia takut depresinya kambuh lagi. Dulu, Cahaya pernah bertanya soal masalalunya dan alhasil sang Bunda menangis hingga depresinya kambuh lagi.
Masalalu selalu menjadi hal sensitif untuk Lestari, karena jika Cahaya bertanya mengenai hal itu, sama saja dengan mengingatkan Lestari pada kecelakaan itu, penyebab Cahaya hilang ingatan, penyebab Purnama meninggal serta penyebab Lestari depresi. Maka dari itu, Cahaya tidak berani menanyakan apa-apa pada Lestari.
Langit izin pergi ke apartemen untuk membawa buku pelajaran yang masih tertinggal di sana, padahal nyatanya dia bukan hanya ingin mengambil buku pelajaran, dia juga akan mengunjungi cafe Harry. Maria tidak mengizinkan Langit jika dia hanya pergi sendiri, jadi Langit diantar oleh supir.
Sebelum ke apartemen, Langit meminta supir untuk mampir dulu ke restoran, lelaki itu membeli beberapa makanan serta minuman. Saat sampai di apartemen, Langit mengajak supir untuk ikut masuk ke dalam.
"Pak, tunggu di sini ya sekalian makan-makan, saya mau keluar dulu, mungkin agak lama, kalau Papah atau Bu Maria nelepon, bilang aja Langitnya tidur."
"Terus saya gimana?"
"Bapak gak gimana-gimana, cukup diem di sini sampai saya balik lagi, bapak bebas ngelakuin apa aja di sini, saya pergi dulu," ujar Langit.
Langit pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobil serta gitarnya, setelah itu dia mengunci pintu kamar, untung saja kunci mobilnya tak disita oleh sang ayah, jadi Langit masih bisa pergi. Sebelum dia pergi, dia mengunci apartemennya agar pak supir tidak bisa keluar.
Sesampainya di cafe, Harry langsung menanyakan kabar Langit, lelaki itu tau bahwa Langit sakit, tetapi Harry tidak tahu apa penyakit yang Langit derita.
Seperti malam-malam lainnya, setelah para anggota band pulang, Langit ngobrol dulu dengan Harry, dia juga menanyakan berabgai hal tentang Mentari.
"Lo kenapa sih nyanyain nyokap gue mulu? Jangan-jangan lu naksir ya sama dia?" tuduh Harry.
"Gila lu Bang, mana mungkin gue naksir sama emak-emak," sahut Langit membuat Harry terkekeh.
"Terus, kenapa lo nanyain dia mulu?" tanya Harry, Langit terdiam dia bingung harus menjawab apa, mungkinkan ini saatnya Langit jujur?
"Mm, enggak, gue cuman pengen tau aja."
Harry memandang Langit dengan tatapan tak percaya. Aneh jika alasan Langit hanya akrena ingin tahu saja, orang kepo sekalipun tidak akan bertanya-tanya seperti Langit, apalagi Langit yang terkenal dengan sikap cuek.
"Kalau lo suka sama nyokap gue, bilang, jujur aja sama gue," sahut Harry.
Langit terdiam dengan tatapan menerawang. Menimbang-nimbang apakah aman jika dia bercetita pada Harry bahwa Mentari adalah ibu kandungnya? "Tuh kan, lu gak bisa jawab, berarti bener lu suka sama nyokap gue," lanjut Harry.
Lelaki itu masih terdiam, lalu dia menghela napas. "Kalau lo mau tau, gue sebenarnya anak kandung Bu Mentari yang udah dianggap gak ada," ujar Langit. Harry yang tengah minum langsung tersedak sampai batuk-batuk.
"Gue pulang dulu, Bang, udah malem," lanjut Langit lalu dia meninggalkan Harry yang masih batuk-batuk.
"Woy lu serius?!" tanya Harry. Langit menengok, dia tersenyum lalu kembali berjalan keluar dari cafe. Harry tak pernah menyangka bahwa Langit adalah anak kandung dari ibu sambungnya, kalau itu benar, berarti dia dan Langit adalah saudara? Lalu kenapa Mentari tak mengenali Langit bahkan sudah menganggapnya tak ada?
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Teen Fiction[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)