Jangan terlalu mudah menyimpulkan, karena kamu gak pernah tahu bagaimana dia sebenarnya. Bisa saja apa yang kamu lihat itu hanyalah sebuah topeng, orang yang kamu anggap baik belum tentu dia benar-benar baik dan orang yang kamu anggap jahat belum tentu dia memang jahat.
- Author
____________________
"Kamu siapa?" tanya Cahaya seraya duduk kembali di kursi samping Langit.
"Gue Langit," jawab Langit dengan wajah polosnya.
"Langit jangan becanda, kamu siapa sebenarnya? Aku yakin kamu pernah kenal aku dulu, 'kan?!"
"Gue, bagian dari ingatan yang lo lupakan."
"Tuh 'kan, sejak awal aku emang udah curiga, kamu pasti ada niat sesuatu sama aku, awalnya aku kira kamu punya niat jahat, tapi sekarang perkiraan aku berubah, jangan-jangan kamu dulunya suka bully aku, suka jahatin aku, terus sejak aku kecelakaan kamu ngerasa bersalah, makanya sekarang kamu baik sama aku. Ngaku?!"
Benar bukan? Cahaya memang selalu punya pikiran buruk tentang Langit. Itu karena untuk saat ini belum ada penjelasan yang masuk akal mengapa Langit bisa sebaik itu pada Cahaya, karena kalau hanya mengandalkan cinta, rasanya Cahaya kurang percaya.
Langit langsung menatap cahaya dengan tatapan tak percaya. Dia sudah memberikan segalanya untuk Cahaya, tetapi kenapa Cahaya malah menuduhnya yang tidak-tidak.
"Gue gak sekeji itu," jawab Langit.
"Aku gak percaya," ujar Cahaya lalu dia kembali melangkah meninggalkan Langit sendirian di bangku taman.
Langit memandang punggung Cahaya yang semakin menjauh, lalu dia memegang wajahnya. "Emang wajah gue wajah penjahat, ya?" tanya Langit entah pada siapa.
***
Jam istirahat sudah tiba, saat Cahaya akan melangkah keluar dari kelas bersama Andin, Langit langsung menahan pergerakan Cahaya.
"Cahaya 'kan udah gue bilang, lo gak boleh jauh dari gue," ujar Langit.
"Ikh apaan sih, aku mau ngantin sama Andin," jawab Cahaya seraya melepaskan cekalan Langit pada tangannya.
"Ya, gapapa, tapi gue ikut," sahut Langit diakhiri dengan senyuman lebarnya.
"Andin lo gak keberatan 'kan kalau gue ikut ngantin bareng lo?" tanya Langit.
"Ya, gapapa sih," jawab Andin seraya mengidikan bahunya.
"Tuh 'kan, Andin aja gak keberatan, masa lo keberatan sih," ujar Langit seraya menaik turunkan alisnya menatap Cahaya.
"Hm," gumam Cahaya.
Lalu Langit bergegas mengambil kotak makan serta botol minumannya. Langit sama sekali tidak gengsi membawa kedua benda itu, di jaman sekarang ini sangat jarang ada remaja yang mau membawa bekal dari rumah, apalagi cowok.
"Ciee bawa bekel nih," ujar Andin.
"Iya lah, anak mamah," jawab Langit seraya tersenyum riang. Padahal nyatanya, itu semua Langit yang menyiapkan, lagi pula dia tidak pernah bertegur sama dengan sang bunda bukan?
"Gue gak nyangka lo ternyata deket banget ya sama ibu lo, padahal lo keliatan cuek banget dan gue juga gak nyangka bisa tau ini langsung dari mulut lo."
Langit tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Entahlah, kata-kata Andin seolah mengingatkan Langit bahwa hubungan dia dengan orang tuanya memang tidak sedekat dan sebaik itu.
"Sebenernya nih, gue udah lama penasaran sama lo, tapi keburu takut sama lo."
"Padahal gue gak makan orang," jawab Langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit [COMPLETED ✔]
Novela Juvenil[Follow akun aku kalau mau] Langit Aditya Dirgantara, lelaki misterius yang irit bicara, masalalu yang kurang menyenangkan membuatnya menarik diri dari semua orang. Di tengah gelapnya hidup Langit, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap untuk menyin...
![Langit [COMPLETED ✔]](https://img.wattpad.com/cover/241846159-64-k953720.jpg)