CHAPTER 15

15.3K 443 9
                                        

"Tha" panggil Caca sembari mengunyah pentol, kami berdua sedang berada dikantin. Caca memesan bakso dan aku memesan soto, aku makan lebih dulu dari Caca, dan sekarang aku sedang menunggunya memakan bakso yang dimana pentolnya masih tersisa lima.

"Apa" balasku sembari menyeruput jus ku yang mulai habis, "semalem gimana malam pertamanya? Asik nggak?" Caca sialan, kenapa malah membahas malam pertama, membuatku malu saja.

"Malam pertama apaan?" tanyaku berpura-pura bodoh, "gak usah sok begok, gue tau lo ngerti maksud gue" ketusnya. Aku memutar mataku jengah dan memilih untuk tak menjawabnya, Caca yang sadar aku hanya diam saja langsung membuka suara, "jawab lah bego!" kesal Caca.

Aku mendecih kasar dan memilih untuk menjawab seadanya saja, "gak ada malam pertama begok, lo mau gue ngapain? Ngewe sama, Al? Halu!" gasku diakhir kalimat.

"Dih, terus lo ngapain weh?" tanya Caca meletakan sendok dan garpu ditangannya keatas mangkok, lalu melipat tangan diatas meja dan menyondongkan tubuhnya kedepan, "ya enggak ngapa-ngapain, cuman ngobrol bentar terus tidur" balasku acuh, "tapi masih sekamar kan?" tanyanya yang tentu saja langsung kuangguki kepala, "masihlah" balasku. "Eh, apa gue minta pisah kamar aja ya?" ide itu muncul begitu saja, namun mendengarku berkata seperti itu. Caca pun langsung memukul kepalaku

PLAK

"Gak usah aneh-aneh begok, gue tuh mau jadi rich aunty buat debay lo anjir. Kalau lo pisah kamar gimana produksi debaynya su" kesalnya, Caca memasang wajah cemberut dan melanjutkan acara makan baksonya yang sempat tertunda karna tadi.

"Halu, mana mungkin gue produksi anak sama, Al. Anjir" ucapku, mana mungkin aku membuat anak bersama Al. Aku tak akan mau dan Al pun juga tak akan mau, dan untuk mengurus diri sendiri saja masih kacau, apalagi mengurus bayi. Ditambah lagi sekarang masih sekolah, semakin tidak ada kemungkinan untuk memproduksi anak.

"Ya siapa tau mau nyicil dulu, kan enak tuh. Nanti jarak umur lo sama anak lo gak jauh-jauh" otak Caca sepertinya geser sedikit, "gila" cibirku.

Caca tertawa renyah sebelum akhirnya kembali membuka obrolan baru, "eh Tha, berarti sekarang elo tinggal sama, Al ya?" Caca kembali membuka obrolan dengan topik baru. "Iya" balasku.

"Berdua doang atau sama keluarganya Al?" tanya Caca mulai kepo, "berdua doang" balasku, "terus keluarganya, Al gimana?" tanya Caca sembari memasukan satu pentol ketok kedalam mulutnya.

"Ya tinggal di Pakuwon, masa gue angkut juga. Rumah gue sama, Al gak segede itu weh. Cuman  2 kamar doang" balasku, rumah ku dan Al hanya memiliki 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, dan 1 dapur saja. Rumahnya tak kecil namun tak besar juga, cukuplah jika hanya tinggal berdua saja.

"Keluarga lo tetep di rumah lo yang lama?" pertanyaan Caca membuatku diam sejenak untuk berfikir bagaimana menjawabnya, ingin jujur namun takut ia bertanya lebih jauh, tak jujur itu berdosa. Ah sial.

"Enggak, mereka udah pindah" balasku memilih jawaban yang jujur namun aman, "kemana?" tanyanya lagi, aku menghela nafas pasrah sebelum akhirnya menjawab, "America" balasku menunduk lemah.

"Lah?" cengonya dengan mulut menganga, "gue belum cerita tentang kenapa gue nikah sama, Al ya?" mungkin aku bisa cerita ini kepada Caca, mungkin jika suatu saat nanti aku butuh teman cerita aku bisa menceritakanya kepada Caca.

"Gue tau lo masih maju-mundur buat cerita ke gue, makanya gue gak nanya, haha" balasnya terkekeh pelan diakhir kalimatnya. "Sebenernya gue bingung mau cerita atau enggak, karna kayanya Al juga gak tau tentang ini" aku sedikit kurang yakin bahwa Al mengetahui alasanya menikah denganku.

"Emang seserius itu ya?" tanya Caca dengan wajah serius, bahkan kali ini ia kembali meletakan sendok dan garpunya keatas mangkuk dan melipat tangan diatas meja lagi, "ya gitulah, lagian kalau gak serius mana mungkin sampai ngekawinin gue" balasku menyeruput es teh milik Caca, Caca hanya menatapku tajam namun tak mengomel.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang