CHAPTER 25

17.7K 490 9
                                        

Aku berjalan kearah kelas, terlalu malas untuk berada dikantin, lelah jika terus berdebat dengan Leo disana. Muak juga melihat wajahnya, untuk itulah sekarang aku berada disini.

Aku duduk di mejaku, mengambil earphone dan memasangnya ditelingaku. Mendengarkan musik dengan volume full agar tak terganggu dengan bisingnya kelas kali ini. Ku ambil satu novel dari dalam tasku dan kubaca halaman terakhir buku itu.

Entahlah, saat membaca buku ataupun novel aku lebih suka membaca bagian akhir dulu. Untuk menyesuaikan mood, jika itu sad ending maka aku akan langsung membacanya, dan jika itu happy ending maka aku akan membacanya nanti saat ingin.

Aku tak suka spoiler dari orang lain, aku lebih suka membeli buku itu dan mencari taunya sendiri. Setiap kali membaca sebuah cerita, saat yang paling kunantikan adalah membaca endingnya dan menantikan kematian sang pemeran utama.

Selesai dengan membaca bagian akhir, ternyata novel kali ini happy ending. Mereka berakhir bahagia dengan memiliki dua anak lelaki, ah sial. Aku membenci ending ini.

Satu hal yang membuatku tak terlalu menyukai happy ending, karna menurutku jika cerita itu berakhir bahagia maka kita tak akan tau kelanjutan kehidupan pemeran itu.

Namun jika itu sad ending maka dapat dipastikan kehancuran dan kesedihan untuk sang pemeran urama. Dan jika pemeran utamanyalah yang pergi maka ending itu semakin jelas, dan cerita benar-benar berakhir disana.

Hidup ini tak selamanya tentang bahagia, oleh karna itulah saat cerita berakhir bahagia aku sedikit kurang puas. Karna menurutku itu bukanlah akhir yang sesungguhnya.

Selesai membaca akhir akupun langsung menutup buku itu, ku letakan buku itu diatas meja dan ku senderkan tubuhku ke punggung kursi, ku tengadahkan kepalaku keatas sembari memejamkan mata, sedikit tenang. Sampai akhirnya Felix datang dan mengangguku.

Felix berdiri dihadapanku dengan nafas terengah lalu membangunkanku, ia melepas earphone ditelingaku dan menatapku dengan tatapan serius, peluh keringat memenuhi dahinya, dan dadanya naik turun karna terengah, "lo kenapa?" tanyaku sedikit khawatir dengannya.

Felix menggeleng, "pergi sekarang yuk, Tha" ajaknya gila. "Ha?" cengoku, bukannya apa-apa, namun kenapa harus secepat ini? Bukankah janjiannya nanti saat pulang sekolah, toh saat ini juga hanya ada aku dan Felix, lantas bagaimana dengan Caca?

"Sekarang, kita pergi sekarang. Mau?" tawarnya mengulang yang tadi, "enggak, kalau sekarang Caca gimana? Dia masih dikantin sama Andra sama Leo, kalau kita tarik Caca yang ada Leo sama Andra bakal ikut. Gue gak suka jalan sama orang banyak" alibiku, padahal bukan ini maksudku, aku hanya tak ingin rencanaku untuk mendekatkan Felix dan Caca terganggu.

"Berdua, Tha. Aku mau kita berdua, aku gak mau ada Caca ataupun yang lain. Cukup berdua sama kamu-- please"

Aku terdiam sejenak, tatapan Felix mulai memelas dan aku tak tega menolaknya. "Tapi-" ucapanku langsung disela olehnya, "kali ini aja, please" selanya.

Aku menghela nafas berat, "oke, tapi ada satu syarat"

"Apa?" tanya Felix dengan wajah penuh harap, "besok lo harus dinner sama Caca, deal?" tawarku, jika hari ini aku harus jalan berdua dengan Felix, maka besok Felix harus jalan berdua dengan Caca. Bagaimanapun rencanaku tak boleh berantakan, apa yang sudah kurencanakan harus terrealisasikan.

"Apapun itu" balas Felix tanpa berfikir panjang, "oke, gue beres-beres dulu" ucapku.

Felix mengangguk dan membantuku beberes, selesai beberes Felix langsung menarikku kemejanya untuk mengambil tasnua dan setelah itu ia langsung membawaku keparkiran.

"Maaf, kamu harus panas-panasan naik motor karna aku" ucapnya sembari memasangkan helm ke kepalaku, "it's okay" balasku, aku tak pernah mempermasalahkan akan naik apa, toh yang penting sampai tujuan dengan selamat.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang