Setelah pertengkaranku dengan, Al. Akhirnya ia memilih untuk mengalah dan meninggalkanku, aku hanya menyuruhnya pergi dari kamarku, tapi ia malah pergi jauh, pergi bertemu Gina.
Mau tau kenapa aku bisa tau itu?
Karena Gina mengirim pesan padaku, memberi foto Al yang sedang duduk dihadapnya sembari meminum kaleng bir ditangannya.
Sakit, tentu.
Sebenarnya bukan karena apa-apa, tetapi lebih ke kenapa saat hubungan kami sedang tidak baik-baik saja ia malah lari ke perempuan lain. Iya memang aku yang menyuruhnya untuk pergi, tetapi bukan lari ke perempuan lain yang ku maksud.
Namun yasudah, sudah terlanjur. Tak bisa menahannya pula, kami tak sedang di situasi yang baik untuk saling mengungkapkan apa yang sedang kami rasakan satu sama lain.
Jadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah diam, dan berharap pada tuhan agar segera membantu kami untuk menyelesaikan semuannya.
Al marah denganku, karna aku berkata bahwa aku tak pernah menganggap pernikahan ini ada. Tetapi ia lupa sati hal, bahwa yang membuatku berfikir seperti ini adalah dia.
Sikpanya yang brengsek nan bajingan, membuatku tak yakin dengan semuanya dan memilih untuk tak menganggapnya agar aku tak terluka dikemudian hari karna perasaan kecewa.
Aku lelah dikecewakan, aku lelah dengan semua hal yang bersangkut paut dengan rasa sakit. Kedua orang tua dan kakaku telah memberikan begitu banyak luka padaku, dan aku tak ingin menerima luka itu lagi.
Cukup mereka yang memberiku luka, orang lain jangan.
Kulempar ponsel di genggaman ku dan setelah itu aku segera pergi untuk tidur, berharap besok bisa bangun dengan keadaan tenang. Apapun masalahnya, tidur solusinya, karna hanya dengan tidur aku bisa melupakan semuanya.
ALVARO POV :
Hanya karna sebuah ciuman, dan kami berakhir dengan bertengkar.
Awalnya aku tak ingin terlalu terbawa emosi, tapi saat ia menyangkut pernikahan ini, entah kenapa emosiku langsung meluncur begitu saja.
Karna tak ingin semakin memperkeruh keadaan, akhirnya akupun memilih untuk mengalah dan menuruti maunya.
Sebenarnya ia hanya memintaku untuk pergi dari kamarnya, tetapi karna aku tau bahwa ia sangat kesal dengan ku dan seperti tak ingin melihatku, maka kuputuskan untuk sekalian pergi dari rumah, agar ia bisa sedikit tenang karna tak ada aku dirumah.
Awalnya aku hanya ingin keliling-liling tanpa tujuan saja, tetapi ditengah jalan aku bertemu dengan Gina.
Sebenarnya aku ingin mengabaikannya, namun aku kasihan padanya karna harus jalan sendirian di tengah malam seperti ini, dan akhirnya akupun menghampirinya dan menawarinya tumpangan.
Gina menerima tawaranku, dan memintaku untuk mengantarnya kerumah mamanya. Karna ternyata ia sedang bertengkar dengan papanya, ia kabur dari rumah dan jalan tanpa arah.
Saat menemukan taxi ia segera naik tanpa melihat persediaan uang yang ia bawa, dan alhasil ia diturunkan di tengah jalan karna tak mempunyai uang yang cukup untuk membayar taxi sampai tujuannya.
Ia lanjut berjalan tanpa arah karna tak tau daerah ini, setelah lelah berjalan akhirnya ia memilih untuk istirahar sejenak, untungnya ia bertemu denganku diwaktu yang tepat.
"Kenapa lo nggak coba telfon nyokap lo dan nyuruh dia buat jemput lo?" tanyaku sembari menyetir motor.
Saat ini aku tengah nenyetir sembari membonceng Gina di belakangku, Gina mengajakku mengobrol, dan aku tak mungkin mengabaikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
