Sesampainya di lantai atas, Alvaro dan Aletta segera pergi ke bioskopnya untuk memesan dua tiket, namun sayangnya filmnya yang di inginkan Aletta adanya satu jam lagi, "harus nunggu satu jam lagi, Tha. Gimana? Mau nggak?" tanya Alvaro.
"Mau-mau aja sih, lo sendiri gimana? Mau nggak?" tanya Aletta, ia tak masalah dengan menunggu satu jam itu, toh ia juga sudah sering menungu, "kalau gue mah terserah lo, kalau lo oke ya gue juga oke" balas Alvaro pasrah. "Yaudah gas aja" ucap Aletta.
Tanpa pikir panjang lagi, Alvaro pun segera membeli tiket itu, selesai dengan membeli tiket. Mereka berdua sempat diam sejenak, bukan karna Aletta, melainkan karna Al. Karna tiba-tiba saja ia diam sembari melamun, "kenapa diem?" tanya Aletta.
"Ini kita nunggu disini sejam gitu?" tanya Alvaro, "iyalah, sayang kalau pulang, Al" balas Aletta. "Tapi sejam lama loh, Tha" ucap Alvaro, "ya dari pada pulang nanti balik lagi. Toh cuman sejam" balas Aletta.
"Pulang aja, nanti balik lagi" ucap Alvaro, "sejam itu sebentar doang Al, kalau pulang malah kerasa cepet banget. Belum pulang baliknya, itu makan waktu sama bensin, udah disini aja sambil makan. Nanti juga gak akan kerasa sejamnya" kekeh Aletta tak ingin pulang. "Tapi nanti cape, Tha" kekeh Al ingin pulang.
"Enggak, udah yok pergi" ucap Aletta lalu pergi membawa Alvaro keluar dari bioskop ini dan pergi ke food court.
Jarak food court dan bioskop tak terlalu jauh, dan kebetulan Aletta lapar. Tanpa basa-basi lagi, Alettapun segera menarik Alvaro kesana, "lo cari tempat, gue pesen makan. Oke?" Alvaro hanya bisa mengangguk pasrah.
"Jangan lemes lah" rengek Aletta karna melihat Alvaro mulai lemes. "Iyaa" balas Al memanjangkan 'a' nya.
Mendengar itu, Aletta pun tentu saja langsung tersenyum. Ia mendekat kearah Al, menjinjitkan kakinya sedikit, lalu pergi mencium bibir Al, cup.
"Gak usah manyun, nanti makin jelek" ucap Aletta, kembali mencium bibir Al lagi, cup. Dan setelah itu barulah ia pergi memesan makanan.
Alvaro menjadi salah tingkah dibuatnya, mood nya yang awalnya kacau karna Aletta kekeh ingin menunggu, berubah drastis begitu Aletta menciumnya.
Entahlah, setiap kali Aletta menciumnya, rasa-rasanya ia bisa langsung luluh begitu saja. "Aletta sialan, bikin gue salah tingkah aja jing" grutu Alvaro.
Setelah menggerutu Alvaro pun segera pergi mencari tempat duduk, seperti yang diprintahkan oleh Aletta, namun baru saja ia duduk.
Tiba-tiba datanglah dua perempuan dengan pakaian kurang bahan menghampirinya, "em kak, boleh kenalan nggak?" Alvaro ingin menolak, namun ia tak enak.
Ia takut terkesan sombong dan menyakiti hati perempuan itu, terpaksa ia harus meladeninya.
"Alvaro" ucap Alvaro memperkenalkan diri, perempuan itu tersenyum manis sembari menyodorkan tangannya, "Jihan" ucap perempuan itu. "Alvaro" balas Alvaro sembari menerima tangan itu.
Selesai menyebutkan namanya, Alvaro pun dengan cepat menarik tangannya kembali. Ia tak ingin terpergok Aletta bersalaman dengan perempuan lain, karna ia takut nanti Aletta akan marah padanya. Oleh karna itulah, ia berusaha menghindari itu.
"Sendiri aja kak?" tanya perempuan itu, "enggak, sama pacar" balas Al sengaja menyebut kata 'pacar' berharap perempuan itu akan sadar, malu, dan segera pergi meninggalkannya.
"Oh, udah punya pacar" ujar perempuan itu, "iya, udah mau nikah juga" balas Al semakin menjadi, karna jika dilihat dari ekspresi perempuan itu. Sepertinya kata 'pacar' tak cukup untuk membuatnya pergi.
"Oh oke-- kalau gitu. Boleh minta nomernya nggak kak?" ah sial, Alvaro merasa sangat menyesal sekarang. "Mungkin menolak sejak awal lebih baik, dari pada berakhir seperti ini" ucap Alvaro dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
