CHAPTER 19

13.3K 470 27
                                        

ALVARO POV :

Aku masuk kedalam kamar, dan kudapati Aletta tengah tertidur nyenyak diatas ranjang. Aku tersenyum simpul, kuletakan tasku dilantai dan aku berjalan kearahnya.

Ku elus puncak kepalanya lembut dan kutamati setiap inci yang ada diwajahnya. Cantik, itulah kata pertama yang keluar dari mulutku saat mendapati wajah tenangnya tengah tertidur pulas.

Tak lama tiba-tiba mataku terfokus pada jari manisnya, "kemana cincinnya? Apa ia tak pernah memakainya?" aku tak mendapati cincin pernikahan kami di jari manisnya, sedikit sakit melihatnya tak memakainya, padahal aku selalu memakainya.

Aku hanya tak memakainya saat disekolah, tapi aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Saat aku tak bisa memakainya dijariku maka aku akan menjadikannya liontin dikalungku.

Aku mendecih kasar dan pergi kearah lemari, ku geledah lemari Aletta dan ku temukan cincin itu berada dibawah tumpukan bajunya. Tak menunggu lama lagi akupun langsung mengambil cincin itu dan segera memakaikannya ke jari manis Aletta.

Aku tersenyum puas melihat cincin itu telah tersemat di jarinya, cincin itu nampak sangat cantik saat berada dijari Aletta, "lo milik gue, Tha. Dan akan selalu jadi milik gue" lirihku masih setia mengusap rambutnya.

Tak lama setelah itu Aletta pun terbangun, ia menepis tanganku kasar dan melihat kearah jam dinding dengan tatapan terkejut. Ia panik dan segera turun dari ranjang lalu masuk kedalam kamar mandi.

Aku hanya memperhatikannya dari sini, aku tak berniat membuka suara untuk bertanya ataupun untuk mengomel.

Aletta mengambil rok pendek dan hoodie berwarna abu-abu cerah dari dalam lemari. Ia melepas rok sekolahnya dan dengan spontan aku mengalihkan pandanganku kearah lain. Aletta tak membuka suara sama sekali, ia tetap sibuk dengan pakaiannya.

Selesai memakai rok pendek selutut dan hoodie ia langsung menyaut tas sling bag dan segera pergi.

Ia terlihat buru-buru, entah apa yang membuatnya seperti itu.

Setelah Aletta pergi aku langsung pergi kekamar mandi, badanku terasa lengket. Dan sebentar lagi aku juga harus pergi kerumah mama untuk mengurus kedatangan Alea. Ia adikku tapi sangat menyusahkanku.

Ia tak akan pindah lama disini namun entah kenapa banyak sekali persiapannya, dan sialnya, papa malah menyuruhku untuk mengurus semua. Untung aku diberi uang, jika tidak, mana mau aku mengurus ini, lebih baik aku tidur saja dirumah, huft.

Selesai mandi aku langsung siap-siap untuk pergi kerumah mama, sesampainya dirumah mama, mama langsung menyambutku dengan tatapan horror. "Mana istrimu? Kenapa tak mengajaknya?" tanya mama sedikit ketus.

"Pergi, toh untuk apa juga aku mengajaknya kesini" balasku malas, aku berjalan kearah mama dan mencium punggung tangan mama lalu pergi melewati mama begitu saja.

"Lain kali ajak dia kesini, mama merindukannya" ucap mama berjalan kearahku dan duduk disampingku, aku menghela nafas panjang dan kurebahkan kepalaku di paha mama, "mama tak merindukanku?" tanyaku sedikit memelas, "tidak" bahkan mama tak perlu berfikir untuk menjawabnya. Aku mendecih kasar dan memalingkan wajah kearah lain, "jahat" gerutuku.

-

Aku pulang kerumah sekitar pukul sepuluh malam, namun aku belum menemukan Aletta dirumah, entah kemana ia pergi hingga selarut ini. Aku berusaha tak memikirkannya, namun sialnya aku tak bisa.

Aku sangat mengkhawatirkannya, ini sudah larut dan masih belum ada tanda-tanda bahwa Aletta akan pulang.

Kuraih jaket dan kunci mobilku kasar lalu aku segera keluar untuk mencari Aletta, aku berusaha menelfonnya namun sialnya Aletta tak kunjung mengangkatnya, "argh, lo kemana sih setan!" umpatku kesal.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang