Aletta menatap layar ponsel didepannya, namun tiba-tiba Al datang dan memeluknya dari belakang. Untungnya kelas sepi, jadi tak ada yang mengetahui itu.
Namun walaupun begitu, Aletta tetap saja kesal. Ia lepas tangan Al dari lehernya dan ia sikut kecil perut Al, "bego, kalau ada yang liat gimana tolol" kesal Aletta.
"Apaansi, orang gak ada orang juga" balas Al sembari duduk disamping Aletta. "Lo tuh kalau mau betingkah, pake otak. Untung gak ada orang, kalau ada gimana?" kesal Aletta masih terlihat marah.
"Udahlah marah-marah terus perasaan" Al pun ikut kesal karna terus dimarahi oleh Aletta, toh bukan masalah besar juga, tak perlu terlalu membuang energi untuk marah.
"Kalau lo pinter juga gak akan gue marahin, kocak" balas Aletta memutar tempat duduknya membelakangi Al.
Al yang tau bahwa Aletta marah langsung menghela nafas panjang, "kalau tak segera kubujuk, yang ada marahnya akan semakin lama" ucap Al dalam hati.
Al mendekat kearah Aletta, meletakan dagunya ke bahu Aletta dan menumpuhkannya disana.
Aletta hendak menarik bahunya, namun dengan cepat Al melingkarkan tangannya dipinggang Aletta, bertujuan untuk menahan Aletta agar tak dapat bergerak lebih banyak lagi.
Aletta mendecih kesal, "lepas" ketus Aletta yang tentu saja diabaikan oleh Alvaro. "Lepas atau gue geplak kepala lo" ancam Aletta.
Alvaro tak takut dengan ancaman itu, ia tetap memeluk Aletta, bahkan kali ini ia eratkan pelukannya. "Al lo bener-bener ya!" kesal Aletta hendak membalik badan, namun dengan cepat ditahan Al.
"Lo noleh, gue cium bibir lo" ancaman Al berhasil membuat Aletta mengurungkan niatnya untuk membalik badan.
"Stop ngebacod, gue mau ngomong" ucap Al, Aletta hanya diam, tak berniat untuk membalas ataupun meladeni, "lo marah sama gue?" tanya Al.
Aletta tetap diam, membuat Al terpaksa harus mengulangi pertanyaannya sekali lagi, "lo marah sama gue?" tanya Al mengulangi pertanyaannya lagi. "Menurut lo?" ketus Aletta.
"Karna?" tanya Al, iya Al tau bahwa Aletta marah. Dan sebenarnya ia pun tau Alasannya, namun ia ingin mengetahuinnya langsung dari mulut Aletta saja.
"Punya otak kan?" balas Aletta dengan nada yang sama, ketus.
Alvaro menghela nafas panjang, "Lina?" tanya Al memastikan, entah benar atau tidak. Ia rasa Aletta marah karna merasa cemburu pada Lina.
Aletta mendecih kesal, meletakan ponselnya kasar lalu memutar tempat duduknya menghadap Al.
Mengabaikan ancaman Al yang sempat membuatnya takut tadi, "stop gatel, stop ladenin cewek-cewek, stop bikin gue kesel-- bisa?" ucap Aletta penuh ekspresi.
Alvaro mengangguk, melepaskan tangannya dari pinggang Aletta dan memindahnya ke kedua pipi Aletta.
"Gue bakal nurutin mau lo, asal lo juga nurut sama gue-- bisa?" tanya Al. "Bisa asal permintaan lo gak aneh-aneh" balas Aletta.
Al mengangguk, mengecup bibir Aletta lalu melepaskan tangannya dari pipi Aletta dan segera menjauhkan tempat duduknya dari Aletta. Karna bel istirahat telah usah telah berbunyi.
Aletta diam membeku ditempat, terkejut karna Al berani mengecup bibirnya disekolah. "Apakah aku bermimpi?" tanya Aletta dalam hati.
Aletta meraup wajahnya kasar lalu kembali ke tempat semula, ia masukan ponselnya kedalam tas dia ia keluarkan buku pelajarannya.
Ia kerap kali menghindari tatapan Al, bahkan saat Al menggengam tangannya dari balik meja pun ia tetap bertingkah seolah tak ada apa-apa. Ia tak menolak, tak membalas juga. Ia hanya diam saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
