Awalnya aku gak mau nerjemahin satu-satu, karna aku tau banget kalo diterjemahin bakal aneh banget. tapi karna ada berberapa yang ngerasa gak nyaman karna bahasa jawa yang ada di part ini akhirnya aku terjemahin aja. maaf banget kalo kalian bacanya aneh, tapi emang gitu artinya. selamat membaca teman
-○-
Leo menghubungiku, mengajakku untuk bermain bersama mereka. "Ayo lah ikut, tanpa lo kita bagaikan debu tanpa lautan" Leo berbicara melalui sambungan telfon dengan suara dramatis, "gak nyambung anjing" umpatku, "taik, udahlah yuk ikut, kurang orang nih" bujuk Leo
"Males anjir nanti kalah, bintang gue baru naik sat" tolakku, mana mungkin aku merelakan bintangku terbuang sia-sia untuk bermain bersama mereka.
"Gak-gak cok lek kalah, wedine se su su (nggak-nggak cok kalau kalah, takut banget sih jing jing)" triak Andra yang kebetulan berada di samping Leo.
"Yo koen cupu anjeng, ngetank gak jelas. Tank kok mburi, rek goblok yo ngunu iku! (ya kamu cupu anjing, ngetank gak jelas. Tank kok dibelakang, anak bodoh ya gitu tuh!)" triakku tak kalah ngegas.
Andra selalu bermain di role tank, namun sialnya ia selalu berada di belakang, merusuh buff musuh namun selalu mati dimenit awal. Membuatku kesal
"Yo gak usah ngegas cok-"
"Wes ala njeng, bengak-bengok ae koen iku! (udah anjing, triak-triak aja kalian itu!)" tengah Felix.
"Yo dee nggateli anjeng, ndi onok aku nak mburi, wong aku ngerusuh buff musuh kok- (ya dia nggateli anjing, mana ada aku dibelakang itu, orang aku ngerusuh buff musuh kok-)"
"Yo koen gak usah ngerusuh cok, koen tank tapi matian. Goblok! (ya kamu gak usah ngerusuh cok, kamu tank tapi matian. Bodoh!)" selaku
"Seng penting kan kon dadi cok, bah aku mati 5, mati 7, mati 10 gak ngoros. Penting menang (yang penting kan kamu jadi cok, mau aku mati lima, tujuh, sepuluh, gak peduli. Yang penting menang)" balas Andra, kita memang sering menang, namun lebih sering kalah juga.
Baru semalam aku ngepush bersama mereka, namun empat bintang langsung melayang sia-sia. Dan pagi-pagi buta aku harus ngepush lagi untuk mengembalikan bintangku yang semalam.
"Ngetroll asu!" triakku emosi
"Ngetroll matamu, aku tumbal cok" balas Andra tak mau kalah, "gak onok seng ngongkon kon numbal no awakmu dewe cok- (gak ada yang minta kamu ngorbanin dirimu sendiri cok)"
"Nyocot ae kon iku rek-rek, maen gak se iki su (ngomong aja kalian itu rek, main nggak sih ini jing)" kesal Leo saat mendapati aku dan Andra terus beradu bacod.
Dari sini kudengar helaan nafas Andra, "yok maen, gak ngoros raimu Al. Bah melok, bah gak, gak ngoros (ayo main, gak peduli Al. Mau ikut, mau enggak, gak peduli)" ucap Andra berusaha acuh namun ketara sekalo kesalnya.
"Nggondok lo Al, arek e. Melok o ae wes, timbang gak diconteki mane (ngambek loh Al, anaknya. Ikut aja deh dari pada gak dapet contekan lagi)" ucap Felix membujukku untuk ikut.
"Nggateli, ngancem nggae contekan (nggateli, ngancem pake contekan)" kesalku, "wes a, kon melok gak? Lek gak tak pateni telfone (udah, kamu ikut nggak? Kalau nggak aku matiin telfonya)" timpal Leo.
Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengalah untuk ikut, "sek sabar, aku login" ucapku mengalah, demi contekan aku ikut game kali ini. Walaupun harus merelakan bintang-bintangku akan hilang, namun nilai lebih penting. Bisa diomeli papa jika nilaiku anjlok.
"Ngunu lak enak, atek nyocot sek. Doh ala nyuwen-nyuweni ae (gitu kan enak, pake bacod segala. Ngelama-lamain aja)" gerutu Andra terdengar jelas ditelingaku, "gak usah nggerutu, aku krungu cok (gak usah nggerutu, aku denger cok)" ucapku sedikit menaikan nada suaraku agar terdengar oleh Andra. "I ye ha okes" balas Andra menyebalkan
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
