CHAPTER 21

13.2K 474 4
                                        

Entahlah, aku sendiri tak faham dengan sikap Alvaro hari ini, ia bertingkah seolah baik-baik saja namun malah terkesan marah. Baru kali ini ia memintaku untuk tidur dikamar sebelah, aku tak keberetan dengan itu namun aku merasa sedikit aneh dengannya.

"Apa aku telah berbuat salah padanya?" pertanyaan itulah yang ada diotaku saat ini. Jujur, aku sedang tak merasa telah berbuat salah padanya.

Namun sikapnya menunjukkan seolah-olah aku telah berbuat salah besar padanya. Padahal hari ini kami minim berbicara dan bertemu, lantas bagian mana yang membuatku melakukan kesalahan padanya?

'Pulang malam?' itu bukanlah kesalah yang besar, jika membahas prihal 'pulang malam' maka Al telah melakukannya lebih dulu dan lebih sering. Ini adalah kali pertama aku keluar dan pulang larut, terlalu tak masuk akal jika ia marah denganku karna itu.

Argh, entahlah. Kepalaku pusing jika memikirkan Al. Biarlah ia bersikap semaunya, aku tak peduli dengannya. Jika dia memang ingin marah denganku, maka lakukanlah saja.

Toh nanti juga akan baik sendiri, persetan dengan Al. Aku sedang tak ingin banyak berfikir untuk sekarang, aku ingin memanjakan otakku dengan tak memikirkan hal yang tak penting, sepertinya.

Seperti kemauan Al tadi bahwa aku harus tidur terpisah dengannya, maka mau tak mau aku harus melakukannya.

Namun sebelum itu aku harus kembali kekamar Al untuk mengambil ponsel dan selimut. Karna dikamar yang nanti akan ku tempati tak ada kedua barang itu, dan mau tak mau aku harus kekamar Al untuk mengambil dua benda itu.

CEKLEK

Kulihat Al tengah berkutik dengan layar laptop dihadapnya, aku tak terlalu memperhatikannya karna tak ingin tau juga. Tujuanku kesini hanya untuk mengambil ponsel dan selimut, untuk selebihnya aku sudah tak peduli lagi.

Selesai dengan ponsel dan selimut aku pun keluar dari kamar ini dan pergi kekamar sebelah. Ruangan ini masih sangat bersih walau jarang ditempati, ranjang dengan sprei berwarna putih dan jendela disampingnya adalah kombinasi yang sangat sempurna.

Aku berjalan kearah ranjang, meletakan selimut diatas bantal dan duduk disamping sana. Ku buka ponselku dan baru kusadari bahwa dari tadi ponselku telah mati.

"Aish, pantas saja sepi, ternyata mati" rutukku dalam hati.

Aku menghela nafas pasrah, disini tak ada charger dan terpaksa aku harus kembali ke kamar Al untuk mengambil charger. Sebenarnya malas untuk kembali ke kamar laknat itu, namun mau bagaimana lagi. Jika tak kesana maka ponselku akan terus mati dan tak bisa digunakan.

Kuraup wajahku kasar dan aku bangkit dari tempat dudukku saat ini, aku berjalan lemas keluar kamar untuk kembali kekamar Al.

Kubuka pintu kamar dengan perlahan, namun lagi-lagi kudapati Al masih setia berkutik dengan laptop abu-abu didepannya itu.

Sedikit merasa aneh karna selama aku serumah dengannya aku sangat jarang bahkan hampir tak pernah melihatnya menyentuh laptop itu.

Karna tujuanku kesini hanya untuk mengambil charger maka aku hanya mengambil charger dan segera keluar lagi dari kamar ini.

Dua kali aku masuk kekamar itu, dan dua kali pula aku diabaikan oleh si brengsek Al. Sedikit kesal namun mau bagaimana lagi, Al tengah marah denganku, ya walaupun aku tak tau dimana letak kesalahanku namun yasudahlah biarkan saja. Tak peduli juga.

Aku kembali kekamar ku dan segera mencas ponselku, selesai mencas ponsel aku pun beralih ke kamar mandi karna tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Toh memang perlu berberapa menit untuk ponselku dapat di on kan kembali.

Selesai buang air kecil, aku turun kebawah untuk mengambil segelas air mineral.

Namun saat aku berada di anak tangga paling bawah, kulihat Al tengah didapur sedang memasak sesuatu. Aku yang penasaran dengan apa yang dimasak Al dengan spontan menghampiri Al.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang