CHAPTER 10

21.1K 551 6
                                        

Hari berjalan begitu cepat, hingga tak sadar bahwa berberapa menit lagi aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Al.

Jantungku berdegup dengan kencang, rasa-rasanya aku masih belum percaya bahwa hal ini bisa terjadi, tak pernah terlintas dibenakku untuk melangsung pernikahan diusia yang terbilang cukup dini.

Apalagi dengan suami yang aku sendiri sangat membencinya. Ternyata benar kata pepatah bahwa tak baik terlalu membenci orang secara berlebihan, karna sejatinya kita akan mendapatkan apa yang kita benci.

Entah dalam hal apapun, buktinya itu sungguh-sungguh terjadi dihidupku.

Kupandangi wajahku melalui pantulan cermin, benar-benar masih tak percaya sekali rasanya. "Apa aku benar-benar akan melakukan ini?" lirih ku, aku menunduk pelan, berusaha mencegah air mataku turun.

Entah kenapa aku terlihat sangat lemah sekali hari ini, "menikah bukanlah hal yang buruk-- tapi menikah dengan dia dan dengan cara yang seperti ini sepertinya akan terdengar buruk" lanjutku dalam hati.

"Apa aku bisa mewujudkan impianku untuk menikah sekali seumur hidup?" pertanyaan itu kembali menghampiri fikiranku, sudah bukan hal baru lagi bahwa setiap menusia didunia ini menginginkan pernikahan yang langgeng, dan jika bisa mereka hanya perlu menikah seumur hidup sampai ajal menjemput.

Namun impian itu terdengar sangat sulit untuk digapai. Dua manusia, dengan pola pikir dan latar belakang yang berbeda. Terpaksa harus hidup bersama ditempat yang sama selama yang ia bisa.

Tentu saja bentrok dan pertengkaran adalah dua hal yang tidak bisa dihindari. Akan selalu ada ketidak cocokan diantara kedua manusia itu, entah dalam hal apapun, yang pasti hal itu akan ada.

Melajang seumur hidup mungkin terdengar lebih baik, dari pada hidup bersama Al. "Udah siap?" asik melamun tiba-tiba seorang pria paru baya masuk kedalam ruang rias Aletta, dan membuyarkan semua lamunan Aletta.

Aletta menghela nafas berat dan mengangguk pelan, melihat itu pria tadi dengan cepat berjalan kearah Aletta dan membantu Aletta berdiri. Pria itu menggandeng tangan Aletta dan membawa Aletta keruangan ijab kabul, "siap?" tanya pria itu tepat sesaat Aletta tiba di ruangan itu.

Aletta kembali menghela nafas berat, "bukannya siap, gak siap, harus siap" balas Aletta sinis.

Mendengar balasan Aletta yang tak mengenakan, pria itu langsung membuang nafas kasar, "tadinya cuman mau basa-basi, tapi kamunya gak bisa diajak basa-basi" ucap pria itu.

"Gak ada yang nyuruh buat ngajak juga-- toh kita juga gak sedeket itu buat lakuin hal kaya gitu"

"Terserah" acuh pria itu lalu membantu Aletta duduk disamping mempelai lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Alvaro.

Alvaro menatap Aletta jail, bahkan Alvaro tak sungkan-sungkan untuk mendekat ke Aletta dan membisiki Aletta, "cantik banget sih calon istri" bisik Alvaro menggoda Aletta. Mendengar itu Aletta hanya memutar mata jengah dan segera membuang muka, ia tak mau menanggapi rayuan tak berfaedah dari Al.

Alvaro terkekeh pelan lalu kembali ke posisi awal.

-

Proses ijab kabul berjalan dengan lancar, Al mampu mengucap ijab kabul hanya dalam sekali tarikan.
Membuat semua orang disini kecuali aku dan Zidan merasa senang.

Tak sengaja mataku bertemu dengan mata milik Zidan, kulihat sorot matanya yang telihat sangat kecewa denganku.

Melihat itu aku hanya tersenyum tipis dan segera kupasangkan cincin kejari manis Alvaro seperti yang telah diprintahkan oleh penghulu didepanku. Seusai ku pasangkan cincin itu, penghulu langsung menyuruhku untuk mencium punggung tangan Al.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang