CHAPTER 31

29.3K 568 18
                                        

Aku dan Aletta segera mengganti pakaian dan bersiap, aku tak perlu mandi karna tadi telah mandi.

Dan mungkin Aletta juga telah mandi, karna tadi ia tak pakai mandi dan langsung ganti pakaian lalu segera memakai make up. Entahlah, terserah saja. Toh mandi tak mandi sama-sama cantiknya, wkwk.

Selesai ganti pakaian, aku pun segera menghampirinya, "masih lama, Tha?" tanyaku memelas, "Al, bibir gue kok bengkak ya?" Aletta terlihat panik karna bibirnya yang bengkak itu, "gak bengkak, bagus kok" balasku.

"Taik, orang bengkak gini" balasnya, "lo mah ngarang, masa nyiumnya sampai bengkak gini. Nanti kalau ditanya mama gimana?" ku pegang bahunya dan kuputar menghadapku.

"Cantik kok, nanti kalau ditanya mama, jawab aja 'hasil karya Al, ma' gitu aja haha" awalnya aku ingin serius, namun gagal saat melihat wajah Aletta yang terlihat sangat mengenaskan.

"Ah kampret lo" kesal Aletta lalu mendorongku menjauh darinya. "Leher gue juga merah-merah gini, astaga. Ini ditutupin pakai apa ih?" Aletta terlihat sangat frustasi.

Dan aku yang penyebab dari frustasinya langsung menyemangatinya agar tak marah denganku, "gak pa-pa ih, orang bagus. Bagus lehernya jadi ada corak merahnya, sayang kalau ditutupin" ucapku.

"Taik, yang ada nanti mama malah mikir yang enggak-enggak bego" kesalnya, ah sial. Sikap lemah lembutnya hilang lagi.

"Yaudah ih tutupin pake bedak atau foundation aja, ribet amat" malasku, "emang bisa?" tanyanya, "gak tau, coba aja" balasku malas, aku bangkit dari tempat dudukku.

"Udah ah, gue tunggu di bawah aja. Sepuluh menit lo nggak turun, gue tinggal, bye" aku mendekat kearahnya dan mengecup keningnya lalu segera turun kebawah untuk menunggunya disana.

Sepuluh menit pas dan akhirnya Aletta turun, Aletta turun dengan make up tipis dan dress berwarna hijau matcha dan jangan lupakan lehernya yang telah tercover, merah-merah hasil karyaku telah tertutup.

Sebenarnya sedikit kesal namun yasudahlah terima saja, "gue cantik kan? Bibirnya gak ganggu mata kan Al? Leher gue juga udah baguskan? Gak keliat timbunannya kan?" ah, masih saja memikirkan bibir dan leher. Padahal tanpa ditutuppun sudah bagus, kenapa riweh sekali.

"Bagus astaga, cantik juga. Udah ah nggak usah mikir itu mulu, orang bagus kok" ucapku sedikit kesal, namun tetap berusaha membuat Aletta agar tak lagi insecure. "Beneran bagus?" tanya Aletta dengan wajah polos.

Aku tersenyum dan mengusap rambutnya, "bagus, bagus banget malah" balasku dengan senyum merekah agar ia percaya denganku.

Aletta mengangguk, mengambil tanganku yang tengah berada dikepalanya dan segera menggandengnya, "naik mobil aja ya, gue lagi pakai dress. Susah naiknya kalau pakai motor" ucapnya yang tentu saja langsung ku iyai. "Iya" balasku merangkul bahunya.

Sebelum Aletta meminta untuk naik mobil, aku sudah memikirkannya. Ini siang dan Aletta pun tengah mengenakan dress, akan sangat menyusahkan untuk Aletta jika kita naik motor, toh panas juga. Oleh karna itulah aku sudah bersiap mengambil kunci mobil.

Aku dan Aletta berjalan ke garasi, ku bukakan pintu untuk Aletta, namun sebelum ia naik ia sempat terhenti sejenak, aku yang bingung tentu saja langsung bertanya, "kenapa?" tanyaku.

"Gue lupa, gue kamarin ngelaundry baju di toko depan, harusnya tadi jam 8 kita ambil, boleh nggak kalau nanti kita mampir kesana buat ambil bajunya?" tanyanya.

"Kenapa ngelaundry?" tanyaku, "gue belum bisa pakai mesin cucinya, belum belajar. Bajunya udah numpuk, jadi ya gue laundry aja" balasnya dengan wajah polos.

Begitu mendengar itu akupun langsung menghela nafas panjang, "besok-besok biar gue aja yang nyuci" ucapku yang langsung dibalas gelengan kepala olehnya, "gue aja, nanti gue belajar pakainya" balas Aletta. "Gak usah, gue aja" kekehku, "gue aja, biar gue ada guna dikit jadi istri lo" balasnya tak mau kalah.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang