Aku menghela nafas panjang dan pergi kekamar mandi, untuk sekarang urusan mandi lebih penting dari pada mengurusi Aletta. Toh Aletta juga sedang marah denganku, yang ada aku malah dicaci maki olehnya.
Sekitar sepuluh menit aku mandi, aku masih tak mendapati Aletta dikamar. "Kemana ia pergi? Apakah ia masih sangat marah denganku hingga enggan untuk kembali kesini?" tanyaku dalam hati.
Kuletakan handuk diatas ranjang dan aku turun kebawah untuk mencarinya, namun aku tak menemukan apa-apa selain satu gelas kosong diatas meja makan.
Aku berjalan kearah gelas itu dan mencucinya, setelah itu aku kembali naik keatas. Aku teringat dengan ruangan yang berada disebalah kamar ku, dan mungkin Aletta sedang ada disana. Karna sangat tidak mungkin jika Aletta berani keluar rumah selarut ini.
CEKLEK
Ternyata benar dugaanku, Aletta ada disini tengah tidur. Dan tanpa berfikir panjang lagi aku pun langsung menghampiri Aletta, aku duduk disamping ranjang dan mengelus rambut Aletta ringan.
Aletta tidur membelakangiku, dan itu membuatku lebih leluasa untuk mengelus rambutnya.
"Pindah kamar yuk, Tha. Gue gak mau pisah ranjang sama lo" setelah mengucapkan itu aku pun langsung menggendong Aletta dan membawa Aletta kembali kekamar ku.
Ku rebahkan tubuh Aletta disamping ranjang dekat laci, yang dimana itu adalah tempat ku tidur biasanya. "Walaupun gue gak yakin kalau pernikahan kita bisa bertahan lama, tapi kalau harus cerain lo kayanya gue gak bisa deh, Tha-- bukan gak bisa, gak mau lebih tepatnya" lirihku sembari menatap wajahnya yang tampak sangat tenang.
Aku berdiri dan berjalan memutar untuk sampai disisi samping tempat Aletta, kurebahkan tubuhku disamping Aletta dan kupeluk tubuhnya dari belakang, "semoga besok gue bisa bangun duluan"
ALETTA POV :
Satu hal yang paling kubenci saat pagi telah tiba-- sinar matahari yang dengan tidak tau diri masuk kedalam kamarku melalui sela jendela dan menusuk mataku. Jika seperti itu maka dapat dipastikan bahwa tidurku akan terganggu dan terpaksa aku harus bangun dari tidur nyenyakku.
Aku mengerjap-ngerapkan mataku berusaha menyesuaikannya dengan terangnya sinar pagi ini. Namun berberapa sesaat kemudian barulah kusadari bahwa ada lengan yang melingkar diperutku.
Aku menoleh kebelakang berusaha memastikan siapa pemilik lengan itu, dan ternyata benar dugaanku bahwa lengan itu adalah milik si brengsek, Al.
Aku mendesis kasar dan melepaskan lengan itu dari perutku. Untungnya pertahanan lengan itu tak terlalu kuat hingga aku bisa melepaskannya dengan mudah. "Semalam mengabaikanku, dan sekarang malah memelukku. Dasar shibal" umpatku dalam hati
Aku turun dari ranjang dan pergi kekamar mandi, hari ini masih hari sekolah, dan yang pasti aku harus segera mandi agar bisa sarapan dan tak terlambat untun pergi kesekolah.
Selesai dengan urusan mandi aku langsung turun kebawah untuk memasak sarapan, namun karna semalam aku telah diabaikan oleh si brengsek itu.
Maka pagi ini aku sengaja tak memasakkannya sarapan, namun sebagai wanita yang baik hati dan tidak sombong akupun membuatkannya segelas susu hangat.
Aku memakan sarapanku tanpa menunggu dia bangun, karna masih malas jika harus kembali melihat wajahnya.
Aku berangkat kesekolah sesaat setelah aku selesai sarapan, aku berangkat naik taxi karna aku tak bisa mengendarai mobil.
Dirumah ada mobil, tapi itu milik, Al. Dan walaupun begitu, aku pun tak bisa mengendarainya. Jadi sedikit sia-sia ada mobil disini.
Sesampainya disekolah aku tak langsung pergi kekelas, namun aku memilih untuk pergi ke rooftop dulu. Pagi-pagi berada dirooftop adalah hal terenak. Udara pagi yang segar membuatku sedikit bersemangat untuk sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
